Mengandung Anak Jin Tampan

Mengandung Anak Jin Tampan
Melahirkan


__ADS_3

Episode 59:


Mereka berencana untuk menemui Nita dan Adi terlebih dahulu. Mereka tahu saat ini Nita dan Adi pasti masih sedih karena kehilangan mereka yang tanpa ada kabar hingga saat ini. Tak lupa sebelum itu mereka berganti pakaian terlebih dahulu.


Setelah beberapa menit kemudian, Abram, Arkha dan Kanaya pun sudah sampai di halaman rumah Kanaya.


Entah kenapa, baru saja ingin melangkah ke luar mobil, Kanaya sudah merasakan sedih yang teramat sangat untuk kedua orangtuanya. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu.


Perlahan Kanaya mengetuk pintu rumahnya dengan perasaan yang bercampur aduk.


Dan tak lama, pintu rumah terbuka. Dan yang menyambutnya pertama kali ialah pembantu setianya.


" N-non Kanaya," ucapnya sambil menutup mulutnya karena terkejut. Matanya juga berkaca-kaca karena tak menyangka bisa bertemu kembali dengan majikan kesayangannya.


" Bibi." Mereka pun akhirnya berpelukan sambil menangis haru.


" Mama mana ni?" tanya Kanaya setelah mereka melepaskan pelukannya.


" Nyonya ada di dalam non. Ayo non, saya panggilkan nyonya dulu!"


Mereka semua pun masuk ke dalam rumah.


" KANAYA!" seru Nita.


"MAMA." Mereka pun saling berpelukan dan menangis haru sambil melepaskan rasa rindu mereka selama ini.


" Papa dimana Ma?"


" Papa mu masih di kantor Nak," ucapnya sambil menangkup wajah Kanaya.


" Kamu baik-baik aja kan, gak ada yang nyakitin kamu kan?" tanya Nita lagi.


" Gak ada Ma, Naya baik-baik aja kok."


" Terus gimana sama cucu Mama?" sambil mengusap perut Kanaya.


" Dia juga baik. Kami semua baik-baik aja, termasuk Mas Arkha." Kanaya lantas menoleh ke arah Arkha yang menatap ke arah Kanaya dengan tersenyum tipis.


Namun tatapan Nita berubah datar saat bertemu pandang dengan menantunya tersebut. Senyum bahagianya tiba-tiba memudar seketika.


Arkha merasa tak enak saat di pandang begitu oleh sang mertua. Ia merasa mertuanya pasti sangat marah karena dirinya dan Kanaya menghilang secara misterius. Dan saat ini mertuanya pasti sedang menyangka bahwa dirinya lah yang telah mengajak Kanaya pergi tanpa kabar.


Namun sebagai menantu yang baik, Arkha tak mungkin merasa tersinggung atau marah atas perilaku mertuanya itu. Arkha pun lantas mendekati mertuanya dan meraih tangannya untuk bersalaman.


Tak ada respon apa-apa dari Nita, tatapannya masih sama seperti sebelumnya.


Namun Arkha mencoba untuk tetep tenang dan terlihat biasa saja.


" Ma, gimana. Mama sehat?" ucap Arkha mencoba untuk berbasa-basi.


" Kan kamu bisa lihat sendiri Mama sehat atau enggak," ucapnya dengan nada jutek.


Arkha hanya bisa menghela nafas panjang mendengar jawaban jutek dari sang mertua.


" Ma, Mas Arkha cuma tanya, kenapa Mama kayak marah?" tanya Kanaya dengan lembut.


" Mama gak marah sayang sama suami kamu. Mama hanya kecewa karena dia bawa kamu, dan gak ngasih kabar sama sekali. Bahkan ponsel sama barang yang lainpun masih utuh. Gimana Mama gak khawatir coba?" ucap Nita sambil memutar bola matanya jengah.


" Seharusnya dia sebagai suami bisa ngajarin yang baik-baik sama kamu, bukan malah ngajarin biar kamu lupa sama orang tua sendiri. Mending kalau pergi cuma sehari dua hari, ini sampai enam bulan, bayangin!"


Nita masih saja marah-marah, dan Arkha hanya menanggapinya dengan tersenyum meski perasaannya tak bisa di bohongi, bahwa dia sangat terluka dengan ucapan sang mertua.


" Ma cukup Ma. Sebenarnya tuh,,,,,." Kanaya yang hendak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba di cegah oleh Arkha. Arkha lantas menggeleng ke arah Kanaya.

__ADS_1


" Ma, sekali lagi saya minta maaf karena sudah membuat Mama khawatir selama ini. Tapi sebenarnya waktu itu saya di beri tahu oleh seseorang bahwa orang tua saya masih hidup, dan selama ini saya mencari keberadaan mereka, tapi ternyata mereka,,,,,,,." Seakan tak kuasa lagi menceritakan tentang keluarganya, Arkha menghentikan ceritanya dan tertunduk sedih.


Arkha tak berbohong, ia memang berniat untuk mencari tahu keberadaan orang tuanya, meskipun waktu itu berita bahwa orang tuanya masih hidup itu masih simpang-siur. Dan baru saja ia mengetahui orang tua yang sebenarnya masih hidup, dia harus meninggalkan mereka yang dalam kesusahan. Dan saat ini pun Arkha tidak tahu keadaannya entah masih hidup atau sudah tiada akibat peperangan.


Kanaya yang mengetahui semuanya, langsung mendekat ke arah Arkha dan menenangkannya.


" Orang tua? orang tua mu kenapa?." Nada bicara Nita mulai melemah setelah mendengar cerita Arkha.


" Sekarang keadaan orang tua Arkha baik-baik aja Ma, cuma sebelum orang tuanya tahu kalau Arkha itu adalah anak mereka, Arkha sudah harus pulang," jelas Kanaya yang diangguki pula oleh Arkha.


" Tapi kenapa kemarin tidak menghubungi Mama dan Papa?" tanya Nita.


" Karena di sana tempat terpencil, jadi percuma kalau kita bawa ponsel Ma," jawab Kanaya.


Nita menganguk, dan akhirnya Nita mulai mengerti, meskipun tak sepenuhnya ia mengetahui kebenarannya.


Begitu pula adu yang baru pulang dari kantor sore itu. Dia juga sangat terkejut dengan kedatangan Kanaya dan Arkha. Seperti Nita, Adi juga menanyai banyak hal kepada anak menantunya tersebut. Dan mereka menjawab dengan hal serupa seperti yang mereka jelaskan kepada Nita.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Satu bulan berlalu. Hari dimana tepatnya Abram dan Dila melangsungkan pernikahan dan resepsi secara mewah.


Ya, setelah Abram mengatakan kepada Arkha bahwa ia akan segera menikah, Arkha langsung menawarkan dana untuk melaksanakan resepsi secara besar-besaran. Awalnya tentu Abram menolak, namun Arkha tetap bersikeras untuk membantu teman yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri itu.


Acara akan segera dilangsungkan. Abram gagah dengan kemeja dan jas putih di padu dengan mawar merah di bagian saku jasnya. Sedangkan Dila sangat terlihat anggun dan elegan dengan gaun pengantin berwarna putih yang di rancang khusus dari brand ternama tentunya.


Tak ada kendala apapun. Acara berjalan dengan lancar tanpa gangguan apapun.


Dan beberapa detik kemudian, Abram dan Dila sudah sah menyandang gelar sebagai suami istri. Rasa syukur dan doa tercurahkan untuk kedua pasangan suami istri itu. Keluarga, kerabat dekat dan jauh serta teman-teman dekat keduanya berbondong-bondong memberikan selamat kepada mereka yang tentunya sedang berbahagia saat ini.


Begitupun dengan Arkha dan Kanaya yang merasa senang untuk kedua mempelai.


Juga Arkha yang selalu siap siaga di samping Kanaya untuk selalu menjaga ibu hamil berperut besar tersebut.


Setelah selesai acara, dan para tamu undangan pun mulai meninggalkan tempat acara.


Hanya tinggal keluarga dekat Dila dan Abram yang berkumpul, termasuk Arkha dan Kanaya beserta kedua orang tuanya yang kebetulan sudah menganggap Abram sebagai anak mereka sendiri.


Brakkkk,,,,,,, prangkkkk


Tiba-tiba saja dari luar hotel, terdengar suara orang yang merusak properti hingga terdengar seperti suara pecahan sesuatu.


Semua terkejut dan segera menghampiri tempat kejadian, termasuk Kanaya yang di tuntun oleh Arkha.


" Alia," lirih Kanaya ketika tahu siapa yang mengamuk di depan hotel milik Arkha.


" Hahaha, akhirnya kalian muncul juga," ucapnya dengan tertawa sumbang.


" Mau apa kau datang kesini?" tanya Arkha.


Namun bukannya menjawab pertanyaan Arkha, Alia malah mendekat ke arah Arkha dengan jalan bak seorang wanita penggoda.


" Untuk menemui mu dong sayang. Kamu kemana aja sih selama ini, aku kan jadi kangen." Alia hampir memeluk Arkha, namun belum sempat, Arkha lebih dulu menghindar hingga membuat Alia marah.


" Ihhhh kamu kok menghindari ku?" kesal Alia. Ia juga bergelayut manja pada Arkha, membuat Arkha risih dan melepaskan gelayutannya dengan kasar.


" Auuu sakit," rengek nya.


" ALIA! kamu itu tidak punya malu ya, datang kesini hanya untuk merayu suami orang?" timpal Dila yang ikutan geram.


" Eh pengantin baru. Gimana jadi nyonya Abram, enak?"


Bukannya menjawab pertanyaan Dila, Alia malah mengoceh tidak karuan.

__ADS_1


" Abram, kok kamu mau-maunya sih memperistri wanita yang sudah memiliki anak, kamu gak malu?" ucap Alia lagi.


Abram tahu Alia sedang tidak waras. Ia melihat dari gelagat dan cara bicaranya yang menurutnya sangat tidak beraturan. Dia pun lantas tidak menjawab apa-apa.


" Alia, lebih baik kamu pergi deh. Kehadiran kamu tidak di harapkan di sini." Kali ini Kanaya yang angkat bicara.


Dengan tatapan tajamnya, Alia menoleh kearah Kanaya dengan muka merah padam karena marah.


Ia lantas mendekati Kanaya dengan sorot mata yang sangat mengerikan.


Arghhhh


Tiba-tiba saja Alia mencekik leher Kanaya dengan kuat hingga membuat Kanaya sulit untuk bernafas.


Tak hanya itu, Alia juga mengeluarkan sebilah pisau dan mengacungkannya kepada semua orang.


" Jangan pernah mendekat kalau tidak mau dia terluka!" ancamnya pada semua orang.


Terpaksa mereka semua harus mundur, jika mereka mendekat dan menolong Kanaya, maka Alia tak akan segan-segan melukai Kanaya.


Kanaya yang hampir kehabisan nafas pun mencoba meronta dari cengkraman tangan Alia. Dan entah setan apa yang merasukinya hingga tenaganya begitu kuat dan membuat Kanaya sulit untuk melepaskan.


Arghhhh


Sekali lagi Alia mempererat cengkraman nya, dan setelah itu, ia juga melemparkan tubuh Kanaya ke lantai hingga tubuhnya terbentur dengan sangat keras. Tak puas sampai di situ, ia juga menendang perut Kanaya beberapa kali hingga membuat Kanaya mengerang kesakitan.


Ketika Arkha melihat kelengahan pada Alia, ia langsung meringkus tangan Alia dan mengikatnya dengan tali yang kebetulan ada di sana.


Setelah terikat, Arkha lantas memberikannya kepada Abram untuk ditindaklanjuti. Sedangkan Arkha dan yang lainnya langsung membawa Kanaya ke rumah sakit karena terjadi pendarahan pada kandungannya.


Sampai di ruang UGD, Kanaya langsung di rujuk dan di tangani oleh dokter kandungan.


Semua orang menunggu dengan harap cemas, begitu pun Arkha yang mondar-mandir menunggu kabar dari dokter.


Dan benar saja, tak berselang lama Dokter yang menangani Kanaya pun keluar dengan wajah cemas.


Arkha dan semua yang ada di sana langsung menghampiri dokter tersebut.


" Bagaimana keadaan istri dan anak saya dokter, mereka baik-baik saja kan?" tanya Arkha.


" Begini pak Arkha, terjadi pendarahan hebat pada kandungan Bu Kanaya yang di akibatkan benturan benda keras. Jadi Bu Kanaya harus segera mendapatkan penanganan serius. Kami juga membutuhkan tiga kantong darah lagi, karena stok darah golongan AB di rumah sakit ini hanya tinggal tiga. Mohon kepada keluarga Bu Kanaya agar memeriksakan darahnya!" ucap dokter.


" Baiklah dok, dokter tenang saja. Kami semua akan mengecek darah kami masing-masing dan mendonorkannya kepada Kanaya," timpal Adi yang di angguki oleh semuanya.


Dokter tersebut pun langsung menyetujuinya dan segera kembali ke tempat Kanaya untuk melakukan penanganan. Sedangkan keluarga Kanaya memeriksakan diri satu persatu untuk di ambil darahnya.


Setelah mendapatkan tiga kantong darah yang di butuhkan, Kanaya pun segera di tangani dan melakukan operasi Caesar pada bayinya.


Beberapa jam kemudian, akhirnya operasi berjalan dengan lancar. Ibu dan bayi keduanya selamat.


Semua keluarga mengucap syukur dan begitu terharu, begitupun Arkha yang sekarang sudah menjadi seorang ayah.


" Anak kita laki-laki sayang, mirip seperti kamu," ucap Arkha sambil menggendong putra kecilnya tersebut.


" Kalau laki-laki ya mirip kamu lah Mas, masak aku," jawab Kanaya sambil tersenyum.


" Yang mirip aku jenis kelamin nya aja, sisanya mirip kamu," ucap Arkha tak mau mengalah.


" Huuu kamu dasar." Dan mereka berdua pun tertawa bahagia.


AND


Maaf ya kalau akhir ceritanya kurang memuaskan dan terkesan di paksakan.

__ADS_1


Semoga suka sama akhir cerita Mas Arkha dan Kanaya 🙏🥰


__ADS_2