
Episode 35:
" Saya di sini." Sontak semuanya menoleh ke asal suara tersebut. Kanaya tersenyum melihat suaminya telah membawa dua mangkuk ramen pedas dan meletakkannya di depan Kanaya.
Sedangkan Ita tercengang melihat siapa yang datang. Bukannya Dion, namun malah pria lain yang mengaku sebagai suami Alina. Berbeda dengan suami dan anaknya, mereka nampak biasa saja karena memang tak tahu menahu tentang kehidupan Kanaya, karena bertemu pun baru sekali ini.
" Terimakasih Mas," ucap Kanaya seraya tersenyum manis kepada Arkha.
" Sama-sama sayang," ucapnya seraya mengusap pucuk kepala Kanaya dengan sayang. Hal itu semakin membuat Ita menelan ludahnya secara kasar. Pasalnya pemandangan itu terlihat begitu manis, dan semakin membuatnya bingung.
" Oh iya, kalian belum pesan apa-apa?" Tanya Arkha pada Ita dan keluarganya.
" Belum datang," jawab Indra suami Ita.
Arkha mengangguk-angguk. Dan tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Meja tersebut penuh dengan beberapa menu makanan, mereka pun segera menikmatinya sambil sesekali bercerita.
" Oh iya. Kenalin, ini namanya Mas Arkha, suami aku," ucap Kanaya.
" Kok bisa?" Ucap Ita tiba-tiba, dan membuat semua orang menatap kearahnya. Ita cepat-cepat menutup mulutnya sendiri karena tanpa sadar ia keceplosan. Ia langsung merutuki dirinya sendiri karena telah lancang bertanya seperti itu.
" Hehehe. Lupakan aja, mari kita makan!" Ucap Ita yang sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malunya saja.
Dan untungnya mereka tak mempermasalahkan lagi.
Selesai makan bersama, Ita serta anak dan suaminya pun memilih untuk berpamitan. Namun sebelum mereka pulang, Ita meminta izin kepada suaminya untuk berbicara berdua saja dengan Kanaya. Dan setelah mendapat izin dari sang suami, Ita mengajak Kanaya untuk duduk di tempat yang terpisah dari para lelaki.
" Nay, kok bisa sih?" Tanya Ita.
" Bisa kenapa sih Mbak?" Kanaya balik bertanya. Ia dengan santainya menyeruput minumannya. Sebenarnya ia tahu arah pertanyaan Ita, namun ia sengaja memperjelas nya.
" Itu loh. Kok bisa kamu nikah sama si Arkha itu, bukannya kemarin itu acara pernikahan kamu sama Dion, kok sekarang Arkha yang jadi suami kamu?"
" Pusing deh Mbak jadinya," lanjutnya.
" Lah kenapa Mbak yang pusing. Yang nikah kan aku, kok jadi Mbak yang pusing?" Tanya Kanaya masih dengan gaya santainya.
" Ishh Emba serius, di jawab napa." Ita sewot dengan jawaban Kanaya.
" Hahaha, iya iya aku jawab," ucapnya. Setelah tertawa puas, Kanaya pun menceritakan semuanya pada Ita. Namun dia tak mengatakannya siapa sebenarnya Arkha itu.
__ADS_1
" HAH, seriusan Nay, kamu ha_hamil?" Ujarnya. Kanaya pun mengangguk santai.
Bukan maksud Kanaya ingin mengumbar hal pribadi yang seharusnya di tutupi, hanya saja jika mengatakannya pada Ita, itu sudah hal biasa baginya. Karena memang Ita lah tempat curhat Kanaya.
" Terus, ini anaknya siapa?" Tanyanya sambil memegang perut Kanaya yang masih rata.
" Anak Arkha?" Jawab Kanaya. Kembali Ita di buat terkejut sekaligus bingung.
" Jadi maksudnya kamu selingkuh?" Tanyanya dengan wajah penuh keterkejutan.
" Gak juga sih Mbak. Kemaren kita terjebak di salah satu tempat. Ya tau sendiri lah ya, perempuan dan laki-laki kalau sudah berduaan," ucapnya tanpa rasa bersalah. Ia juga sengaja berbohong pada Ita,
" Ya ampun Nay, kok kamu bisa santai banget sih?" Ita lantas menggeleng tak habis pikir dengan respon Kanaya yang nampak biasa saja. Namun sesaat ia terdiam, dan tak lama pula, tiba-tiba Ita tersenyum entah karena apa.
" Ihh Emba kok bisa senyum-senyum sendiri gitu, jadi ngeri," ucap Kanaya yang kebetulan memperhatikan Ita.
" Hehehe. Wajar sih kamu bisa hamil, Arkha nya model begitu," ucapnya seraya tersenyum jail, sambil melirik kearah Arkha yang duduk bersama suami dan anak Ita.
" Kalau Emba juga gak akan ngelewatin kesempatan kayak gitu. Bisa berduaan sama cowok ganteng dan cool kayak suami kamu. Dua kali khilaf juga gak papa," ucap Ita dengan senyum jail nya.
" Ihhh Emba mulutnya. Emang aku cewek apakah," kesalnya.
" Ya elah, bercanda Nay. Ya lagian kamu, di tanya mukanya biasa aja, kayak gak trauma sama sekali gitu," tuturnya.
" Lagian aku tuh lebih bersyukur nikah sama Arkha ketimbang Dion," lanjut Kanaya lagi.
" Lah kenapa?"
" Ya gak mau lah aku sama cowok tukang selingkuh kayak Dion. Dan mungkin ini salah satu jalan Tuhan, agar aku gak jodoh sama dia," tuturnya. Dan kali ini Kanaya nampak serius. Pandangannya lurus ke depan, serta bibirnya yang menyunggingkan senyuman.
" Iya Nay. Emba yakin, anak ini adalah sebuah keberuntungan, bukan sebuah aib," timpal Ita menambahkan.
Kanaya lantas menoleh ke arah Ita dan tersenyum tulus.
" Makasih ya Mbak, udah ngertiin aku," ucapnya terharu.
" Iya sama-sama. Kamu itu adik Emba, jadi apapun itu yang terbaik buat kamu, Emba pasti akan mendukung," ucapnya.
" Emmm, jadi terharu. Makasih ya Mbak, Emba emang the best deh." Kanaya pun memeluk iya dengan rasa haru. Begitupun Ita yang mulai berembun, namun ia dengan cepat mengusapnya, karena tak ingin merusak suasana.
__ADS_1
" Gak usah mulai deh lebay nya!" Ucap Ita.
" Ihhh Mbak gimana sih. Orang lagi terharu juga," kesalnya. Kanaya lantas melepas pelukannya serta melipat kedua tangannya di dada.
" Eh Nay, lihat deh. Itu perempuan kok kayaknya mau nyamperin Arkha ya," tunjuk nya pada seorang wanita yang berpakaian agak minim itu.
" Mana sih Mbak?" Kanaya pun mengikuti arah pandang Ita.
Hatinya bergemuruh saat melihat wanita itu mengarah pada Arkha yang sedang duduk di sana. Gaya berjalannya yang lenggak-lenggok, pakaian yang begitu seksi, serta senyum dan pandangannya yang tak lepas dari Arkha, membuat Kanaya semakin cemburu.
Arkha tak menyadari itu. Ia masih asyik ngobrol dengan Indra dan Atha sambil sesekali tertawa.
" Mau ngapain Alia nyamperin Arkha? Gak bisa dibiarin nih," gumam Kanaya seraya bersiap untuk menghampiri Arkha.
" Nay, kamu gak papa?" Tanya Ita saat melihat perubahan sikap pada Kanaya.
" Mbak, temenin aku!" Ucapnya.
Tanpa izin dari sang pemilik tubuh, Kanaya langsung menarik tangan Ita, hingga membuatnya bingung.
Namun ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Arkha. Ia hanya ingin memastikan, untuk apa Alia menemui Arkha.
" Gak jadi," ucapnya.
" Kok gak jadi Nay?" Tanya Ita yang kembali di buat keheranan.
" Kita liat aja dulu Mbak, mau apa dia deketin Mas Arkha. Ita hanya mengangguk patuh, dan mereka pun kembali duduk sambil memantau dari jauh.
" Eh Arkha, disini juga?" Sapa Alia. Ia sama sekali tak menghiraukan Indra dan Atha yang berada di samping Arkha tersebut, dan sama sekali tak menegur mereka walaupun sekedar basa-basi.
Karena jarak mereka yang tak terlalu jauh, Kanaya pun dapat mendengar apa yang di katakan Alia.
" Kamu?" Ucap Arkha.
" Iya ini aku Alia. Kamu masih ingat aja ya sama aku, jadi terharu." Alia pun terkekeh.
" Emmmm boleh gabung di sini juga gak? Soalnya tempat lain penuh" ucapnya, yang kebetulan memang benar adanya.
Arkha pun melihat ke sekelilingnya, dan benar memang tak ada lagi tempat yang kosong. Karena dialah yang memiliki restoran tersebut, Arkha merasa tak enak hati. Bagaimana pun, Alia tetap seorang pengunjung, dan pengunjung patut untuk di berikan kenyamanan dan layanan yang bagus.
__ADS_1
Arkha pun mengangguk dan mengizinkan Alia untuk bergabung bersama mereka. Toh dia tak sendirian, ada Indra dan Atha juga di sana.
Kanaya sudah tak tahan melihatnya. Ia segera beranjak dari duduknya sambil mengepalkan tangannya.