
Episode 30:
Kanaya dan Arkha kini telah sampai di tempat yang mereka tuju. Dan benar saja, karena mereka datang agak kesiangan, tempat rawon langganan mereka pun telah penuh dengan banyaknya orang yang mengantri.
Terpaksa mereka harus menunggu agak lama agar bisa mendapatkan rawon tersebut.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya rawon pesanan mereka pun sampai. Mereka langsung menyantap pesanan mereka itu. Terlebih Kanaya yang makan sangat lahap seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari.
Tahu sendiri lah, jika bumil sudah makan apa yang dia inginkan, maka dia akan memakannya dengan penuh semangat.
Bahkan Arkha saja hanya kebagian sedikit.
Tak hanya rawon, Kanaya juga memesan beberapa porsi makanan lain, padahal dia sudah habis tiga porsi rawon, di tambah punya Arkha yang juga dia embat.
Pengunjung tempat makan tersebut sangat ramai, terlebih oleh pelanggan wanita. Saat Kanaya sadari, beberapa para pengunjung wanita tengah asyik memperhatikan Arkha tanpa berkedip. Maklum, orang ganteng mah emang begitu 😁.
Hal itu tentu saja membuat Kanaya geram dan merasa cemburu. Apalagi bawaan baby, yang tentunya membuat perasaannya lebih sensitif.
Kanaya sangat geram, hingga dia tak sadar telah menggenggam sendok dengan cukup kuat, hingga sendok tersebut bengkok.
" Nay, kamu kenapa. Kok sendoknya dibengkokin?" tanya Arkha heran.
Kanaya lantas tersadar dan langsung menatap Arkha.
" Hah, kenapa?" tanya Kanaya yang masih belum sadar akan kelakuannya.
" Itu, kenapa sendoknya sampai bengkok begitu?" tanya Arkha lagi. Kanaya pun melihat kearah apa yang dimaksud Arkha. Ia pun terkejut dan tak menyangka dia telah melakukan hal tersebut.
" Hah, kok bisa?" ucapnya terkejut dengan apa yang dia lihat.
" Kamu yang bengkokin, kok bisa gak sadar sih?" ucap Arkha terheran. Kanaya hanya nyengir di tanya begitu oleh Arkha.
Tak lama, pesanan kedua Kanaya pun datang. Disana ada ayam bakar, tumis cumi pedas, dan gurame asam manis lengkap beserta nasinya. Padahal sudah makan banyak, tetapi entah mengapa perut nya belum terasa kenyang. Apa mungkin karena bayinya bukan bayi manusia.
Sang pelayan meletakkan makanan tersebut di atas meja makan, namun matanya tak lepas dari memandangi wajah Arkha sambil tersenyum sangat manis.
Hal itu tak sengaja terlihat oleh Kanaya, dan membuatnya menjadi semakin marah dan menggebrak meja dengan sangat keras. Hal itu tentu saja menyita banyak perhatian para pengunjung tempat makan tersebut.
Barakkk
" Hey, tolong ya matanya di jaga!" tunjuk Kanaya pada pelayanan tersebut.
" Loh Mbak, salah saya apa?" tanya pelayanan wanita tersebut. Dia merasa tak terima karena telah dilabrak tanpa salah apa-apa.
" Kamu tahu siapa yang sedang kamu kagumi dan kamu lirik dari tadi." Kanaya lantas melirik kearah Arkha yang nampak bingung dengan tingkah istrinya.
" Dia adalah SUAMI SAYA!" teriak Kanaya. Dia juga menekankan setiap kata yang dia ucapkan, seolah memberi tahu bahwa Arkha hanyalah miliknya seorang.
__ADS_1
" Ish, apaan sih Mbak. Emang salah saya dimana? Kan saya cuma liat. Wajar dong saya kagum sama mas nya, karena dia ganteng." tutur pelayan itu masih tak terima dengan tudingan Kanaya.
" Nay sudah! Malu tuh dilihat orang," ucap Arkha yang berusaha menghentikan istrinya. Kanaya hanya diam, dia menatap tajam ke arah Arkha dan pelayanan itu secara bergantian.
" Mbak maaf ya, istri saya sedang hamil, jadi agak sensitif," ucap Arkha merasa tak enak hati. Sedangkan Kanaya menatap tak terima kepada Arkha.
" Iya gak papa Mas. Lain kali dibilangin ya istrinya, jangan suka cari gara-gara sama orang lain!" kata si pelayan sambil menatap sinis kearah Kanaya, begitupun Kanaya yang tak kalah sinis menatap si pelayan tersebut.
Setelah mengatakan itu, pelayan tersebut pun berlalu meninggalkan Kanaya dan Arkha yang masih berada ditempatnya.
" Sekarang duduk dan habiskan makanannya! Setelah itu aku mau bawa kamu ke suatu tempat," ucap Arkha dengan lemah lembut.
Dengan masih merasa kesal, Kanaya duduk dan segera memakan makanannya.
Arkha geleng-geleng kepala melihat tingkah unik istrinya itu.
Setelah selesai makan, mereka menuju tempat yang dimaksud oleh Arkha. Entah kemana Arkha membawanya, Kanaya pun tak tahu dan hanya menurut saja tanpa bertanya apa-apa. Mungkin efek masih kesal, sehingga membuat Kanaya enggan bertanya.
Mobil Arkha berhenti tepat di sebuah hotel berbintang. Tempatnya sangat mewah, dengan interior yang sangat memanjakan mata para pengunjungnya.
Kanaya heran. Pertama kali mereka datang saja sudah ada seseorang yang membukakan pintu mobil untuk mereka, apa lagi saat mereka sudah masuk kedalam hotel tersebut. Para karyawan berbaris rapi seolah sedang menyambut orang penting saja, mereka menunduk hormat kepada Arkha dan Kanaya, seolah merekalah orang penting tersebut.
Kanaya hanya tercengang dan tak mampu berkata apapun lagi.
" Apa kamar saya sudah siap?" tanya Arkha pada seorang karyawan.
" Sudah kami siapkan semua pak. Namun jika itu tidak sesuai kehendak bapak, bapak bisa langsung hubungi kami!" ucap karyawan itu dengan sangat sopan dan ramah.
" Wah, kamu hebat bisa masuk hotel semewah ini." Kanaya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur mewah itu, saat mereka telah sampai dikamar.
" Tapi kok, mereka bisa sehormat itu sama kamu. Memangnya kamu pelanggan di hotel ini?" tanya Kanaya seraya memicingkan matanya.
" Yah bisa dibilang begitu," ucap Arkha dengan santai.
" Jadi kamu sering datang ke hotel ini?"
Arkha mengangkat bahunya acuh.
" Sama cewek?" tanyanya dengan wajah yang mulai merah karena menahan amarah.
Arkha mengetuk-ngetuk kan jarinya pada dagu, seolah sedang berpikir sesuatu. Padahal dia sengaja ingin mengerjai Kanaya.
" Sebentar aku ingat-ingat dulu. Soalnya banyak wanita disini."
" Ihhh tuh kan, kamu selingkuh ya dari aku," ucap Kanaya dengan nada kesal.
" Lah siapa yang bilang?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
" Itu tadi. Kamu bilang banyak wanita dikamar ini." Kanaya melipat kedua tangannya di depan dada, membuktikan bahwa dia sedang ngambek.
" Ya banyak lah. Ada yang bawain makanan, ada yang bersihin tempat tidur, ada juga yang nanya gini, " kalau butuh bantuan, segera panggil saya ya!" begitu." Sontak saja Kanaya semakin dibuat kesal.
" Ihhh, tuh kan. Siapa mereka, mereka wanita penghibur semua?" tuding Kanaya. Kanaya yang sudah sangat kesal pun ingin menghampiri Arkha dan bersiap untuk memukulnya menggunakan bantal.
" Ehhh iya, ampun ampun!!" ucap Arkha sambil berlarian mengitari tempat tidur.
" Gak ada ampun bagi orang yang tukang selingkuh." Kanaya masih terus mengejar Arkha.
" Siapa yang selingkuh?" tiba-tiba Kanaya menghentikan aksinya.
" Tadi kamu bilang," ucap Kanaya.
" Bukan selingkuh, itu pelayan hotel. Mereka kan perempuan semua. Huh huh huh!" jelas Arkha dengan nafas yang tersengal-sengal akibat aksi mereka tadi.
" Jadi kamu gak pernah selingkuh?" tanyanya memastikan.
" Ya enggaklah Nay. Bahkan aku yang selalu cari kamu selama ini." Tanya sadar Arkha mengatakannya.
" Hah apa?" tanya Kanaya. Bukan tak mendengar, namun Kanaya hanya ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
" Hah enggak, bukan apa-apa," kelit Arkha.
" Ohhh." Kanaya tak ingin memperpanjang lagi, ia pun hanya beroh ria menanggapinya.
" Arkha!" panggil Kanaya. Arkha yang ingin mengambil sesuatu di lemari pun menoleh.
" Jangan dibiasakan panggil nama sama suami!" ucap Arkha.
" Kenapa?"
" Gak sopan." Arkha pun kembali fokus melanjutkan kegiatannya.
" Terus aku harus panggil apa?"
" Kanda misalnya."
" Kok kanda?"
" Emang kenapa?"
" Zaman dulu banget itu. Berasa zaman Majapahit panggilan pake kanda segala."
" Ya terserah kamu mau panggil apa, yang penting gak panggil nama."
" Mas aja gimana?"
__ADS_1
" Ide bagus."
" Oke Mas," ucap Kanaya sambil mengacungkan kedua jempol nya. Arkha lantas tersenyum pada Kanaya, dan setelah mendapatkan apa yang ia cari, Arkha pun bergegas ke kamar mandi.