
Episode 9:
" Jadi kamu lihat Dion jalan sama cewek lain?." Ulang mbak Ita.
" Gak pasti sih mbak. Aku cuma lihat dari belakang, dan stelan sama bentuk tubuh nya mirip banget sama dia." Jelas ku.
" Dan aku dengar mereka ngomong tentang tanggung jawab. Apa mungkin cewek itu lagi hamil?."
" Ya mungkin juga. Tapi kamu gak boleh juga menuduh tanpa bukti. Mengikuti kata hati boleh, tapi kita juga harus punya bukti kalau memang dia salah."
" Emang sih, orang bilang instring memang gak pernah salah, tapi menuduh tanpa bukti itu jauh lebih salah." Tambah mbak Ita. Aku mengangguk pun mengerti, sambil terus serius mendengarkan nasehat mbak Ita.
" Terus gimana dong mbak?." Rengek ku, meminta saran kepada mbak Ita.
" Emmmm." Gumam mbak Ita.
Nampak mbak Ita sedang memandang ke atas dan menepuk-nepuk kan jari telunjuk nya di dagu nya. Tanda dia sedang serius memikirkan sesuatu.
" Gimana kalau mbak bantuin kamu buat selidiki Dion diam-diam?. Itu pun kalau kamu setuju." Ucap mbak Ita lagi.
Tanpa berfikir lama, aku langsung mengiyakan sarana mbak Ita yang menurutku tidak ada salahnya. Aku pun mengangguk mantap.
" Aku berharap itu bukan Dion. Aku gak bermaksud sih, buat mata-mata in dia. Tapi aku juga harus waspada sebagai perempuan. Aku cuma takut, kalau memang seandainya itu benar Dion. Aku takut dia manfaatin aku, atau ada sesuatu yang dia sembunyikan, yang aku gak tau." Gumam ku, yang tentunya masih di dengar oleh mbak Ita.
" Benar itu Nay. Mbak setuju dengan pemikiran kamu." Ucap mbak Ita menyemangati.
" Ya udah, kamu lanjut kerja lagi. Mbak juga mau nyiapin beberapa berkas lagi, abis itu pulang deh." Lanjut mbak Ita.
Aku pun mengangguk lesu. Merasa lelah dengan semua ini. Bukan hanya lelah jasmani, tapi juga rohani. Pikiran ku berkecamuk, antara takut jika benar itu Dion. Juga merasa bersalah karena aku juga melakukan kesalahan yang tidak kecil.
Aku tidak mau menerima jika memang Dion berbuat seperti itu, tapi aku juga egois jika hanya menyalahkan dia, sedangkan aku juga melakukan kesalahan. Dan jika seandainya dia tau, dia mungkin akan lebih kecewa dari ku.
Lelah rasanya, seharian ini hanya memandangi laptop dengan ruangan yang ber-AC.
Akhirnya setelah bekerja yang melelahkan itu, aku pulang sendiri dengan menggunakan taksi.
__ADS_1
Jika bertanya mengapa aku selalu pulang dan pergi sendiri, meskipun aku sudah mempunyai kekasih. Jawaban nya karena memang Dion selalu beralasan bahwa dia sedang sibuk. Ya mungkin juga dia sedang sibuk setiap hari nya, hingga tak pernah ada waktu untuk mengantar dan menjemput ku. Makanya aku tidak pernah ambil pusing dan merasa curiga, kemana dan dengan siapa dia. Karena sepenuhnya aku percaya pada nya.
Tapi setelah kejadian yang baru saja aku alami. Hati ku mulai goyah, serta kepercayaan ku mulai terkikis. Berperang dengan rasa curiga yang mulai menghuni hati ini entah sejak kapan.
Memang selama aku berpacaran dengan Dion. Kami jarang bertemu, meski dia sering menghubungi ku melalui telepon, dan mengatakan segala hal yang dia lakukan. Itu yang membuat ku selalu percaya tanpa menaruh curiga sedikitpun pada nya. Meskipun terkadang, dia tidak mau jika ku ajak berkomunikasi melalui video call. Alasan nya, dia tidak mau memperlihatkan wajah ku kepada para teman bisnis pria nya. Karena dia takut mereka akan menyukai ku, karena aku terlalu cantik kata nya.
Entah itu gombalan atau nyata?.
Setelah beberapa menit berkecamuk dengan pikiran sendiri. Tak terasa akhirnya aku sudah sampai ke rumah. Aku langsung membayark dan segera masuk.
Seperti biasa, aku akan ke kamar dulu untuk membersihkan diri lalu setelah itu makan malam.
Namun langkah ku terhenti saat tiba-tiba mama yang sedang duduk bersama papa, yang seperti nya juga sudah bersiap untuk makan, pun tiba-tiba memanggil ku.
" Kanaya!." Aku menoleh.
" Ya ma." Jawab ku singkat.
" Sini deh, mama sama papa mau ngomong serius sama kamu." Tutur mama. Aku pun segera menghampiri mereka dan ikut duduk bersama mereka.
Mereka nampak saling menatap satu sama lain. Seolah saling mempersilahkan diri untuk mengatakan sesuatu. Begitu pun aku yang menatap mereka bergantian, dengan tatapan heran.
Akhirnya papa pun mengalah. Dia nampak menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Seolah yang akan dia katakan tersebut begitu serius.
" Papa cuma mau tanya. Hubungan kamu sama Dion, memang nya sudah sejauh mana?." Tanya papa yang tiba-tiba Membuat ku begitu gugup.
" Ma-ksud papa gimana ya?." Aku bertanya balik.
" Maksud papa. Apa kalian sudah pernah merencanakan pernikahan sebelumnya?, atau kalian sama sekali belum pernah merencanakan soal itu?." Tanya papa lagi, serius.
" Emmmm." Aku'hanya bergumam. Bingung apa yang harus aku katakan pada orang tua ku.
" Kok tiba-tiba papa tanya soal itu?. Bukannya dulu papa gak mempermasalahkan hal tersebut?." Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Papa nampak diam dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Lagi-lagi dia menghembuskan nafas panjang sebelum mulai berbicara.
" Memang benar. Tapi papa hanya takut jika terlalu lama pacaran, kalian bisa terjerumus ke arah yang tidak baik. Lagi pula, kalian juga sudah sama-sama dewasa. Sudah pantas untuk menikah." Ucap papa dengan kewibawaan penuh.
" Gini aja deh pa. Nanti aku bicarakan soal ini sama Dion dulu. Sekarang aku lagi capek banget pah. Aku minta maaf gak bisa bahas soal ini sekarang." Jawab ku.
" Ya udah gak papa kalau kamu sedang capek. Kita bisa lanjutkan ini besok saja. Lebih baik kamu istirahat dulu saja." Ucap papa.
Aku mengangguk, lalu segera melangkah menuju ke kamar.
" Tapi sebelum istirahat, kamu harus makan dulu Nay." Seru mama saat aku sudah berada di depan kamar ku.
" Iya." Jawab ku singkat, juga sedikit lantang.
****
Saat ini aku memang sedang tidak ingin membicarakan soal pernikahan, karena pikiran dan hati ku sedang tidak baik-baik saja. Apa lagi itu juga ada hubungannya dengan Dion.
Aku harus mencari tau dulu tentang latar belakang Dion, sebelum aku dan dia akan mengikat janji nantinya.
Sebenarnya, aku termasuk wanita yang bodoh soal kasmaran. Jika sudah menyukai seseorang, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk menerima nya.
Aku bahkan tidak pernah bertanya tentang keluarga dan status Dion. Dion sendiri juga tidak pernah memperkenalkan ku pada keluarga nya. Dia hanya pernah membawa ku ke sebuah villa mewah, tapi sekedar untuk jalan-jalan saja. Dan dia juga pernah membawa ku ke sebuah perusahaan, yang katanya perusahaan tersebut milik keluarga nya.
Sedangkan villa tersebut, adalah milik pribadi nya sendiri
________________
Setelah selesai ritual malam, alias mandi dan makan, aku tidak langsung Istirahat.
Karena bagi ku percuma. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak karena pikiran yang terus mengganggu.
Jadi lah aku memilih pergi ke rooftop untuk mencoba menenangkan diri di sana.
Karena biasanya, jika aku sedang suntuk atau sedang ada masalah, aku selalu ke sana untuk sekedar mencari angin serta ketenangan. Terkadang tempat itu juga ku gunakan untuk bekerja.
__ADS_1