
Episode 52:
" Hiks hiks hiks kenapa jadi begini?" rintih Aleta sambil membenamkan wajahnya di kedua lututnya.
" Apa salahku dan bayiku?" ucapnya masih dengan posisi yang sama.
" Dia bukan anak ha*am."
Tiba-tiba saja Aleta membulatkan matanya dan langsung menegakkan kepalanya seperti orang yang mengingat sesuatu.
" Apa ini yang dirasakan Mas Arkha dulu sebelum aku mengingatnya? apa dia juga tersiksa sama seperti aku?" monolog Aleta.
" Jika memang benar, apakah ini adalah sebuah karma untuk ku?"
" Ya, aku memang pantas mendapatkan ini," kata Aleta lagi.
" Tapi kan dulu aku tidak meminta untuk bereinkarnasi sampai melupakan nya, tidak kan?,,,,, hiks hiks hiks!" kata Aleta seolah tak terima dengan takdir diri.
Aleta tak henti-hentinya meratap. Entah itu rasa penyesalan atau pun kesedihan, semua seakan bercampur menjadi satu.
"Mama Papa, Kanaya kangen," ucapnya tiba-tiba.
Namun sesaat kemudian Aleta memegangi perutnya yang terasa lapar karena sejak pagi ia belum makan.
Aleta berharap ada seorang pelayan yang membawakan nya makanan, namun nampaknya tak ada seorang pun yang datang ke penjara bawah tanah tersebut meskipun hanya sekedar menjenguknya.
" Lapar sekali," rintih Aleta sambil memegangi perutnya dengan erat.
Dan tiba-tiba Aleta mendengar suara derap langkah seseorang yang seperti sedang menuju kearahnya.
Aleta berfikir itu adalah ayahnya yaitu raja Bramantyo, dia pun berpura-pura tertidur untuk menghindari pertanyaan dan amukan sang ayah.
" Tuan putri!" panggil seorang pria dengan suara pelan.
Aleta perlahan mengintip siapa yang memanggilnya dengan sebutan tuan putri, sebab jika itu sang ayah mana mungkin akan memanggilnya dengan sebutan itu.
" Tuan putri!" ulang pria itu.
" A_arkha," kata Aleta merasa tak percaya Arkha menemuinya diruang bawah tanah itu.
" Iya tuan putri, ini saya. Saya membawakan makanan dan beberapa buah juga air untuk tuan putri," kata Arkha sambil meletakkan tempat makan tersebut ke lantai, dan Arkha pun duduk.
" Sini tuan putri! tuan putri pasti sudah lapar kan?" kata Arkha.
Aleta memandang ragu lalu perlahan mendekati Arkha.
" K_kamu dapat makanan ini dari mana?"
__ADS_1
" Dari dapur istana lah tuan putri, mana mungkin di kamar raja. Tuan putri ini ada-ada saja," jawab Arkha sambil tertawa kecil.
" Bukan begitu maksud saya, maksud saya kamu tidak kena marah karena mengambil makanan ini untuk saya?"
" Tidak tuan putri, saya tidak kena marah dan saya tidak mengambilnya secara diam-diam. Intinya tidak penting makanan ini dapat dari mana, yang jelas tuan putri sekarang makan ya! kasihan dengan bayi yang di kandung tuan putri, dia butuh makan dan gizi yang cukup."
Degh,,,,,,,,
Seketika nafas Aleta tersendat dan matanya membulat sempurna serta mulut yang ternganga karena mendengar ucapan Arkha. Pasalnya dari mana Arkha tahu tentang kehamilannya, apa sekarang Arkha sudah ingat semuanya? Tidak, hati Aleta menyangkal hal itu. Tapi apa mungkin berita tersebut tersebar di seluruh kerajaan, atau Antaraksa yang memberi tahu kepada Arkha? tapi untuk apa dia melakukan itu?.
" Tuan putri!"
Aleta terkesiap karena suara Arkha yang memanggilnya.
" Eeee i_iya," jawab Aleta tergagap.
" Tuan putri kenapa, apa ada yang sakit?"
" Tidak tidak," jawab Aleta dengan cepat.
" Syukurlah kalau begitu, sekarang lebih baik tuan putri makan, dan jika diizinkan bolehkah saya menyuapi tuan putri?"
Aleta sempat terkejut, namun tak begitu nampak. Dia sangat bahagia karena Arkha menawarkan diri untuk menyuapinya.
Dengan cepat Aleta menganguk.
Tak ada percakapan selama Aleta makan, hanya mata mereka yang saling bertemu pandang seolah saling berbicara. Namun sesekali juga Arkha menundukkan kepalanya karena salah tingkah.
Jika di gambarkan persis seperti sedang menonton drama Korea.
Sampai-sampai mereka sendiri tak sadar bahwa makanan di dalam piring yang terbuat dari perak tersebut telah habis tak bersisa.
" sudah habis tuan putri, kenapa baru sadar ya?" ucap Arkha sambil menampakkan deretan gigi nya yang berbaris rapi serta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Aleta pun ikut tersenyum malu karena kekonyolan mereka hingga membuat mereka tak sadar.
" Ya sudah kalau begitu tinggal makan buahnya saja lagi!" ucap Arkha sembari menyodorkan potongan apel tersebut tepat pada mulut Aleta.
Dan Aleta pun menerimanya lalu memakan buah-buahan tersebut hingga habis.
" Syukurlah ternyata habis semua, tuan putri makan nya sangat lahap," kata Arkha.
" Iya aku sangat lapar soalnya," jawab Aleta sambil nyengir kuda.
" Senopati Arkha!" panggil Aleta.
" Ya tuan putri."
__ADS_1
" Apakah kau tidak takut jika nanti ada prajurit yang masuk kesini dan mengetahui bahwa kau menemui ku?" tanya Aleta merasa khawatir.
" Tidak tuan putri, jika itu terjadi pun saya tidak masalah. Saya hanya ingin menemani tuan putri di sini, saya tidak tega melihat tuan putri sendirian di tempat gelap dan kumuh seperti ini," ucap Arkha dengan tersenyum lembut.
" Biarkan hamba menemani tuan putri malam ini di sini, saya mohon tuan putri!" mohon Arkha dengan sangat.
Aleta terharu, matanya berkaca-kaca melihat keperdulian Arkha terhadapnya, padahal saat ini dia sama sekali tak mengingat tentang Aleta dan kenangannya, namun ia tetap perduli meski itu memang sudah kewajibannya sebagai seorang suami dan calon ayah dari anak yang ia kandung.
" Tuan putri kenapa menangis?" tanya Arkha ketika menyadari mata Aleta berkaca-kaca.
" Ah tidak, ini hanya kemasukan sampah saja karena tempat ini sangat berdebu sekali," jawab Aleta sambil mengusap sisa air matanya.
" Benarkah tuan putri, apa perlu hamba bantu untuk menghilangkannya?"
Aleta tak menjawab, ia malah gagal fokus dengan perkataan Arkha.
Karena tak ada jawaban dari Aleta, Arkha pun menganggap Aleta setuju agar dia membantu Aleta.
" Baiklah sekarang lebih baik tuan putri tidur di sana, biar saya yang tidur di sini!" ucap Arkha sambil menunjuk sebuah tempat tidur yang terbuat dari kayu dan hanya beralaskan kain tipis yang sudah lusuh.
" Lalu bagaimana dengan mu, apa kamu akan tidur di tumpukan jerami ini? nanti kalau ada serangga berbisa bagaimana?" ucap Aleta merasa khawatir sebab Arkha tidur di tumpukan jerami tanpa alas apapun.
" Tidak apa-apa tuan putri, saya ini seorang laki-laki jadi sudah terbiasa seperti ini," jawab Arkha.
" Benar tidak apa-apa?" tanya Aleta memastikan sekali lagi.
" Iya tuan putri." Li pun mengangguk dan tersenyum tulus.
" Lalu bagaimana jika tiba-tiba ada prajurit yang datang saat kita terlelap?" pikir Aleta.
" Tidak akan tuan putri, sebab tadi saya mendengar Yang mulia raja memerintahkan prajurit untuk berjaga di luar penjara saja, katanya demi kenyamanan tuan putri."
" Benarkah ayahanda mengatakan itu?"
" Benar tuan putri."
" Baguslah kalau begitu."
" Ya sudah kalau begitu aku tidur duluan ya," ucap Aleta sambil perlahan beranjak dan menuju ke tempat tidurnya.
Arkha pun sudah terlelap dengan beralaskan tumpukan jerami kering dengan tangannya sendiri yang menjadi bantalnya.
Arkha begitu terlelap meski dengan kondisi tempat yang kurang layak tersebut, mungkin dia sudah terlatih sebagai seorang Senopati dan kesatria sejati yang tidak akan mengeluh dalam kondisi dan situasi apapun.
Berbeda halnya dengan Aleta yang sedari tadi gelisah dan sesekali menepuk tubuhnya karena banyaknya nyamuk.
Selain seorang putri, Aleta juga orang kantoran di masa depannya, jadi hal seperti itu sangat jarang dan bahkan tak pernah ia rasakan.
__ADS_1