
Esok harinya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 07. 40 vani terbangun karena dering ponselnya yang tak kunjung diam, dengan rasa kantuk yang belum habis vani terpaksa bangun dan mendapati nama leoni di layar, vani mengeser tombol hijau dan meletakkan ponselnya deisebelah telinga.
“hallo ada apa” ucap vani dengan suara serak kas orang baru bangun
“oh my God, vani apa kamu lupa hari ini rapat evaluasi pertama ditahun ini?” suara leoni terdengar sedikit meninggi mendapati suara vani yang terdegar baru saja bangun
“astaga,, aku lupa, kalau begitu sudah dulu aku akan bersiap-siap.” Kata vani dan langsung mengeser tombol merah pada layar handphonenya.
Tanpa membuang waktu vani segera membersihkan dirinya dan hanya butuh 15 menit baginya untuk bersiap-siap karena waktu yang begitu mengejar ia segera mengambil tas memasukkan ponselnya dan beberapa benda yang selalu dibawa dan segera keluar dari apartemennya menuju tempat parkir dimana mobilnya berada
Perjalanannya kali ini terasa lambat ia mencoba melewati mobil yang ada didepannya karena waktu yang begitu mengejar, hari ini ia sudah yakin jika dirinya akan mendapat pidato mengerikan dari sang presdir membayangkan saja membuat bulu halus ditangan vani berdiri.
30 menit berlalu vani baru saja memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju ruangannya sepanjang jalan menuju lift hatinya tidak berhenti berdoa berharap rapat belum dimulai. Langkah vani semakin dipacu ketika mendekati pintu ruangan mereka dan betapa senangnya ia ketika mendapati sahabat bahkan teman-temannya masih ada disana.
“bonjour” (selamat pagi” sapa vani pada semua yang ada disana sambil ia berjalan menuju kubikelnya.
Semua yang ada disana membalas sapaan vani dengan ekspresi yang berbeda-beda ada yang tampak acuh, ada yang tampak heran melihat vani yang biasa biasa saja padahal sudah terlambat dan tidak mengikuti rapat.
__ADS_1
Ya, rapat baru saja selesai sekitar 5 menit yang lalu vani yang datang terlambat menyangka jika dirinya belum terlambat dan rapat belum di mulai itu sebabnya ia memasuki ruangan dengan senyum.
Hingga tiba-tiba alexa muncul dari balik pintu dan menyapa semua yang ada disana.
“vani, kamu sudah datang?” tanya alexa menghampiri kubikel vani
“ya, seperti yang kamu lihat” jawab vani santai disertai senyuman di bibirnya.
“kalau begitu sekarang kamu ke ruangan presdir” ucap alexa membuat mata vani melotot ke arahnya.
“aku?” tanya vani meyakinkan dirinya jika alexa tidak salah bicara
“apa yang salah denganku”vani masih bertanya
“ya, ampun vani setelah kamu terlambat 30 menit dan tidak mengikuti rapat kamu masih bisa bertanya salahmu apa? “ alexa tidak habis pikir akan pertanyaan vani.
vani yang sejak awal sudah salah berpikir tampak menatap kedua sahabatnya secara bergantian seakan meminta penjelasan namun yang ditatap hanya tersenyum padanya.
__ADS_1
Pov vani
Aku terbangun ketika dering pada ponselku berbunyi tanpa henti entah sudah berapa kali ia berdering yang pasti aku terganggu dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka aku mengambil handphonenku mengeser tombol hijau dan meletakkannya di samping telingaku terdengar suara sahabatku disana yang sedikit menaikkan volume suaranya ketika mendengar suara serakku yang khas baru bangun.
Astaga, aku melupakan jika hari ini akan ada rapat awal ditahun ini dengan cepat akan mematikan panggilan itu dan segera membersihkan diriku, ku persingkat acara mandiku dan bersiap-siap hingga aku menghabiskan waktu hampir 20 menit aku segera melangkah dari apartemenku menuju tempat parkir menghidupkan mesin mobilku dan segera mengendarainya.
Sepanjang perjalananku ke kantor rasanya aku ingin menaikan gas mobilku agar segera sampai di kantor mengingat waktu yang ku punya terbatas, aku berdoa semoga saja rapatnya di undur sehingga aku tak dihukum atau mendapat teguran dari atasanku.
Dan disinilah aku di dalam lift yang akan membawaku menuju ruangan tempatku bekerja, dan betapa leganya aku mendapati sahabat dan teman-teman setimku masih berada di ruangan itu artinya aku belum terlambat, aku segera menuju kubikelku satelah menyapa mereka semua meskipun aku sadar tatapan mereka tak bisa di artikan paling tidak hatiku senang Tuhan menjawab doaku atas ketidak terlambatanku.
Belum sampai 15 menit aku duduk terdengar suara dari balik pintu yang sedang berjalan kearahku sambil menyapa kami semua, ya dia alexa direktur keuangan dia menghampiriku dan bertanya pertanyaan yang sedikit bodoh menurutku “apakah aku sudah datang” apakah ia tidak bisa melihat dengan jelas tubuhku disana bukankah itu artinya aku sudah datang dengan santai aku menjawab “ya, seperti yang kamu lihat”
Jika kalian menyangka aku tidak sopan pada atasanku kalian salah aku sudah mengangap alexa sebagai kakak perempuanku pun sebaliknya jarak usia kami yang hanya berbeda 5 tahun membuat kami seperti kakak dan adik.
Namun walau seakrab apapun kami aku selalu bersikap profesional padanya aku akan bersikap sebagai bawahan jika berada di kantor dan hal yang paling ku hindari adalah perkataan alexa yang mengatakan jika aku harus menghadap presdir seperti yang baru dia katakan.
“ya, ampun vani setelah kamu terlambat 30 menit dan tidak mengikuti rapat kamu masih bisa bertanya salahmu apa? “ alexa tidak habis pikir akan pertanyaan vani. Ucapan alexa itu membuatku memutar kembali otakku jadi aku terlambat? Pertanyaan itu yang kemudian hadir dalam pikiranku.
__ADS_1
Ku tatap kedua sahabatku meminta jawaban namun yang ditatap hanya memberikan senyuman seakan ikut mengiakan pertanyaanku. Maka dengan perasaan yang gugup dan pikiran yang sudah dipenuhi berbagai pertanyaan aku mencoba tetap tenang dan memasuki lift yang akan membawaku ke lantai 20 dimana ruangan presdir berada.
End pov