
vani menekan gas mobil, melaju dengan kecepatan tinggi seperti orang yang sedang di kejar pembunuh bagi dirinya sudah cukup mempertahankan rumah tangganya sudah cukup kesabaran yang tak pernah di anggap sudah cukup lama dirinya menahan perih karena sebuah penghianatan
kali ini dirinya benar benar telah berniat pergi bukan karena dirinya tidak mampu lagi bertahan tapi karena kepedulian, dan kesabarannya selama ini sepertinya tak bernilai dimata crist
malam ini juga ketiga emosi bercampur panik akan kabar yang baru saja di sampaikan jeal adik kandungnya perihal keadaan kesehatan sang ibu yang sedikit menurun membuat vani memilih akan pulang ke indonesia bahkan mungkin kali ini dirinya akan berada di indonesia dalam jangka waktu yang begitu lama
sepanjang perjalanan menuju mension dirinya meneteskan air matanya membayangkan jika sang ibu yang begitu ia sayangi terbaring lemah di ranjang rumah sakit membuat hatinya tercabik-cabik
harusnya dulu ia mendengar permintaan sang ayah yang menginginkannya menetap di Indonesia dan melanjutkan bisnis yang di jalankan sang ayah bukan memilih menetap di luar negeri, bertahan dengan rasa sakit yang tak pernah ada habisnya
penyesalan memang tak pernah datang di awal hal itulah yang di sayangkan vani, andai waktu dapat kembali di putar pada masa lalu ia tak akan pernah menerima lamaran crist
namun sayang waktu tak pernah berniat berhenti apalagi memutar kembali ke masa lampau sang waktu memilih terus bergerak tanpa peduli ada insan yang menginginkannya untuk kembali berputar ke menit sebelumnya
tiga puluh menit berlalu vani memasuki halaman mension dirinya segera memarkirkan kendaraannya dan segera keluar menuju ruang utama, bibi perrie yang berpapasan dengan vani hanya mengerutkan dahi dengan ekspresi bingung apa yang terjadi pada nyonya mudanya ingin bertanya namun bibi perrie mengurungkan niatnya melihat saat ini bertanya bukanlah hal yang tepat dengan kondisi nyonya mudanya yang seperti sedang kacau
vani melangkahkan kakinya menuju lantai atas dimana kamarnya berada membuka pintu ketika sudah sampai tepat di depan kamarnya lalu masuk kedalam kamar
saat ini vani memilih membersihkan dirinya sebelum memesan tiket pesawat yang akan membawanya pulang ke negaranya tak butuh waktu lama bagi vani untuk membersihkan tubuhnya hanya butuh tiga puluh menit sebab dirinya harus segera memesan tiket dan menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa pulang
emosinya belum surut, bayang bayang celine memegang tangan suaminya kembali datang melayang di pikirannya membuat emosinya semakin menjadi
dan sekarang handphone vani kembali berdering bukan panggilan hanya notifikasi tanda pesan masuk
vani membuka pesan itu wajahnya berubah pucat ketika sesaat membaca pesan masuk itu
"zevania pulanglah ibu merindukanmu dan ingin bertemu denganmu"
pesan singkat yang mampu menambah rasa hancur perasaan vani saat ini, dirinya benar-benar menyesal saat ini karena sudah membuat ibunya tersiksa dengan rasa rindu pada dirinya vani merasa bersalah sebab karena kesibukannya ia tak memberi kabar selama seminggu ini pada ibu dan ayahnya.
vani mempercepat memasukkan barang-barangnya kedalam koper miliknya mengambil berkas berkas penting lalu kembali membuka laci di samping meja riasnya meletakkan cincin pernikahan yang disematkan crist di jemari manisnya ketika mereka mengikat janji setia sehidup semati di hadapan TUHAN
__ADS_1
"ampuni aku TUHAN kali ini aku benar-benar sudah tidak bisa mempertahankan sumpahku yang terlanjur keluar dari mulutku saat itu, aku mengaku salah telah mengingkari janjiku hari ini aku melepas bukti janjiku ini dan biarlah Engkau memberinya sosok pengantiku yang lebih baik"
selepas mengucapkan kalimat itu vani membuka matanya lalu bergegas mengambil koper miliknya dan akan keluar kamar namun langkahnya terhenti ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka sebelum dirinya sampai disana
sosok yang paling tak ingin ia jumpai saat ini sedang berdiri di depannya, kali ini dia sendiri tak seperti dua jam yang lalu ketika mereka bertemu di mall
"ada yang ingin aku bicarakan" ucap crist
"bicaralah waktumu hanya sedikit" jawab singkat vani
"apapun yang kamu lihat semua hanya salah paham" jelas crist
setelah mendengar itu vani menarik kopernya lalu berjalan mendekati pintu untuk segera keluar dari sana bagi vani alasan crist terbilang hanya basa basi saja
"sudahlah percuma kita bersama jika di antara kita masih menyimpan perasaan untuk sosok di masa lalu, aku harus meminta maaf karena sepertinya janjiku di hari pernikahan kita harus aku ingkari saat ini, aku memilih berhenti berjalan bersamamu untuk melanjutkan hidup aku memilih memberimu kebebasan untuk melanjutkan hidupmu dengan orang lain, kita sudahi saja sampai disini toh pada akhirnya kita tidak akan bahagia jika masih ada yang mengganjal di hati kita masing-masing aku pamit" ucap vani ketika dirinya berada tepat dihadapan crist
crist mengepalkan tangannya dirinya benar-benar benci mendengar kata pisah dari mulut vani hingga tangan vani kembali di tarik crist untuk menghadapnya
"sudah berapa kali aku mengatakannya jangan pernah mengucapkan kata kata perpisahan karena semuanya tidak akan ada yang berubah" ucap crist
tatapan crist tertuju pada jari manis vani yang tak lagi mengenakkan cincin pernikahan mereka emosi crist tak bisa lagi terkontrol dirinya menarik tangan vani membuat vani melepas koper yang ia pegang sejak tadi
"berani beraninya kamu melepas cincin itu zevaria" tanda jika crist benar-benar berada dalam mode marah adalah ketika dirinya memanggil nama vani dengan nama zevaria
crist menutup pintu kamar menarik vani dan mendorongnya ke atas ranjang vani seketika menjadi panik dirinya tidak tahu jika melepas cincin pernikahan mereka akan membuat crist akan semarah ini
crist melepas dasinya menatap vani dengan amarah dan adegan selanjutnya ...
sebaiknya kita skipp yaa
...----------------...
__ADS_1
esok harinya vani terbangun dengan crist yang berada disampingnya memeluknya erat keduanya tidur bersama
vani menangis setelahnya menyadari jika dirinya kini tidur tanpa sehelai baju isak tangisnya semakin menjadi membuat crist terbangun
"hei tenanglah" ucap crist mencoba menenangkan vani
namun vani semakin terisak dirinya selalu saja menjadi lemah jika sudah di depan crist, cincin yang di lepas vani semalam pun kini sudah kembali melingkar di jari manisnya tentu saja crist yang melakukannya
crist mencium kening vani membisikan satu kalimat
"I love you"
vani hanya terdiam dirinya hanya menatap wajah sang suami dengan mata yang berkaca kaca
crist pamit membersihkan tubuhnya sebab seperti biasa dirinya harus segera pergi ke kantor meninggalkan vani yang masih dalam keadaan semula dirinya pun melangkah
menuju kamar mandi milik vani
setelah beberapa menit kemudian crist keluar ia memperhatikan ranjang dimana vani masih setia dengan posisi semula, crist mendekatinya lalu kembali mencium keningnya vani berpura-pura tertidur dengan perasaan yang begitu kacau ia harus segera meninggalkan crist sebelum rasa cintanya semakin dalam
crist keluar dari kamar vani menuju kamarnya sendiri untuk bersiap siap menuju kantor perasaan crist hari sedang dalam keadaan sangat baik bahkan sejak dirinya bangun dirinya terlihat tersenyum hal yang tak biasa ia lakukan
ππ
πΏπΏπΏ
ππππ
π₯π₯π₯π₯π₯
π€
__ADS_1
π€
hai para reader setiaku.... untuk kalian yang sudah baca ceritaku author mohon tinggalkan komentar kalian ya, komentar kalian jadi semangatku..... πππ