
Sebulan berlalu kejadian yang membuat vani kembali merasakan pahitnya akan sebuah penghianatan masih saja terus berputar di kepalanya, rasanya vani akan gila ketika setiap ia bertatap muka dengan sang suami pikiran yang akan mendominasinya adalah bayang bayang dimana ketika suaminya dan sosok wanita yang baru ia ketahui adalah mantan kekasih suaminya itu sedang bercumbu malam itu.
vani mencoba menyibukkan dirinya dengan bekerja hingga larut malam hanya agar bayang bayang itu tak lagi hinggap di kepalanya, dirinya sudah cukup lelah memikirkan akan akhir pernikahannya dengan crist yang kini sudah memasuki usia pernikahan satu tahun
meski hati vani terluka namun dirinya tak pernah seharipun tak mengirimkan pesan pada crist ketika jam makan siang atau ketika suaminya itu pulang larut malam vani selalu mengingatkan untuk tidak lupa makan atau memberitahu jika suaminya itu tidak pulang larut malam dalam keadaan mabuk.
lucu memang ketika dirinya trus disakiti bukan memikirkan bagaimana caranya balas dendam vani justru menunjukkan sikap layaknya seorang istri yang tak pernah tersakiti, vani selalu menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan pakaian yang akan di kenakan sang suami ke kantor dan lain sebagainya layaknya seorang istri pada umumnya, vani harus berkali kali mendapat serangan dari celine melalui pesan yang menyuruhnya menjauhi crist dengan alasan crist tidak mencintainya bahkan celine berani berkata jika vani adalah wanita murahan yang mau saja menerima crist yang statusnya jauh berbeda dari dirinya.
vani menyemangati dirinya sendiri dan terus menanamkan kalimat " bertahanlah semua akan baik baik saja, jika sudah waktunya menyerah, menyerahlah tanpa harus meninggalkan penyesalan". kalimat itulah yang selalu mampu membuat vani kembali menata dirinya ketika celine mengiriminya pesan bahkan ketika crist tak pernah menganggapnya ada.
mencoba melakukan yang terbaik untuk mempertahankan pernikahannya mungkin itu yang kini tengah di upayakan vani meskipun kata kata hinaan bahkan sikap abai crist yang jelas jelas di tunjukkan pada dirinya sering menjadi sarapan paginya, namun vani memilih menjalani hari hari pahitnya tanpa memberitahu siapapun terlebih keluarganya kecuali sahabat sahabatnya yang memang sudah mengatahui polemik kehidupan pernikahan vani dan crist.
siang ini vani yang kebetulan berpapasan dengan dengan bibi perie yang akan mengantarkan makanan untuk sang majikan sementara dirinya yang akan mengantarkan laporan ke ruangan presdir tak sengaja bertemu
"selamat siang nyonya muda? " sapa bibi perie dengan senyum manisnya pada vani
"selamat suang bi, ada perlu apa ke kantor? " tanya vani yang penasaran dengan pembantu rumah tangga yang sudah ia anggap seperti anggota keluarganya sendiri
__ADS_1
"ini nyonya muda saya ingin mengantarkan makan siang untuk tuan muda" jawab bi perie sambil menunjukkan sebuah tas berisikan beberapa dos kotak makanan
"oh, jika bibi tidak keberatan biar saya saja yang mengantarkannya kebetulan saya akan keruangan presdir untuk mengantarkan berkas" ucap vani memberi usul agar sang ARTnya itu tidak perlu lagi repot repot menuju ruangan presdir
"tentu saja boleh nyonya muda, ini makan siangnya terimakasih nyonya muda, jalau begitu saya permisi pulang" bibi perie pun memberikan tas berisi dos kotak makan siang pada vani dan pamit untuk pulang
"hati hati bibi perie" ucap vani menanggapi ucapan sang bibi
vani pun segera melangkahkan kakinya menuju sebuah lif untuk naik ke lantai atas dimana ruangan sang suami berada
sesampainya di atas ia segera berjalan menuju ruangan bertuliskan Presdir room di depan pintu
"selamat siang vani, ada. pak presdir ada di ruangannya langsung ke ruangannya saja" jawab anderson dengan santai
"terimakasih" ucap singkat vani sebelum melanjutkan langkahnya
tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu vani langsung memasuki ruangan crist,, pintu terbuka namun seketika vani membisu ketika matanya menatap ke adah depan dan menanggap celine yang tengah duduk di pangkuan crist dengan tangannya yang ia lingkarkan pada leher suaminya itu.
__ADS_1
crist yang menyadari kedatangan vani mengarahkan pandanganya pada vani tanpa melepas tangan celine yang masih setia melingkar di lehernya. vani melangkah kakinya ia paksa berjalan ke sebuah meja kecil yang ada di ruangan itu meletakkan berkas dan kotak makan siang yang ia bawa di meja itu lalu akan keluar meninggalkan ruangan yang menyesakkan itu. sebuah suara terdengar
"vani jangan iri padaku" ucap celine dengan tidak tahu malunya
vani kembali membalikkan tubuhnya menghadap sosok yang kini tengah berjalan kearahnya
"aku tidak pernah berpikir begitu, bahkan aku tak pernah bermimpi menjadi sepertimu, wanita murahan yang rela menjajahkan tubuhnya pada sosok laki laki yang statusnya sudah menjadi suami orang" ucapan pedas namun mengandung fakta yang di lontarkan vani itu langsung mendapat hadiah tamparan keras dari celine yang tidak terima dengan ucapan vani atas dirinya.
pipi kanan vani memerah bahkan vani merasa pedih disana, tamparan pertama yang ia dapatkan seumur hidupnya bahkan kedua orang tuanya pun tidak pernah menaruh tangan memukulnya hingga meninggalkan bekas merah pada bagian tubuhnya.
vani tersenyum kearah celine yang terlihat menahan emosinya, sementara crist hanya diam membiarkan kedua wanita yang ada di depannya saling bertengkar tanpa berniat memisahkan mereka.
"jika sudah tidak ada lagi yang ingin kamu bahas aku permisi" ucap vani lalu meninggalkan ruangan itu
seketika tubuhnya melemah ketika dirinya berada di dalam lift seorang diri, dirinya benar benar memainkan peran yang sempurna beberapa menit yang lalu, dirinya Berpura-pura menjadi wanita kuat ketika dirinya berada di hadapan celine selingkuhan sang suami hingga berani mengucapkan kata kata yang entah dari mana ia mendapatkannya.
vani mengepalkan tangannya dan menguatkan dirinya sendiri bahwa ia adalah wanita kuat ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri
__ADS_1
sementara diruangannya ander yang tadi mendengar pertengkaran vani dan celine tidak habis pikir pada bossnya yang hanya diam ketika istrinya di tampar oleh selingkuhannya, ander benar benar tidak habis pikir akan hal itu.