Menikah Dengan Boss Dingin

Menikah Dengan Boss Dingin
Terluka Lagi


__ADS_3

semenjak hari itu, hari dimana vani mengetahui jika dirinya sedang tidak baik baik saja dirinya tampak selalu menyendiri tak tampak seperti banyak pikiran


“vani kamu dipanggil bu alexa keruangannya” ucap indri yang kini berjalan menghampiri kubikel vani


“ada apa?” tanya vani yang masih sibuk mengetikan beberapa angka pada keyboard komputernya.


“aku tidak tau, coba kamu keruangan bu alexa, dia sudah menunggu” indri kini berjalan meninggalkan vani menuju kubikelnya


“baiklah” ucap vani sambil berdiri dari tempatnya dan segera menuju ruangan alexa.


Tok....tok....


“masuk” terdengar suara wanita dari balik pintu yang diketuk vani


“selamat pagi?” ucap vani pada atasannya itu


“pagi, vani bisakah kamu antarkan ini keruangan crist” pintah alexa


Rasanya ingin menolak namun vani memilih menurut pada atasannya yang sudah ia anggap kakaknya itu.


“baiklah. Tapi kalau saya boleh tau alexa, mengapa harus aku yang mengantar berkas ini?” tanya vani


“maafkan aku vani, seharusnya aku yang mengantar itu hanya saja aku sedang terburu-buru” ucap alexa mencoba menjelaskan situasinya jika saat ini ia sedang terburu-buru untuk mengikuti rapat.


“baiklah, akan aku antarkan siang nanti, pak crist mungkin sedang rapat diluar” vani mencoba meminta waktu agar berkas yang akan diantarnya pada crist dapat diantarkan siang nanti


“terserah saja. Oh iya terimakasih sebelumnya” ucap alexa sambil tersenyum kearah vani yang tampak tak bersemangat setelah mendapat tugas darinya.


“baiklah aku harus kembali bekerja” ucapan vani sebelum keluar dari ruangan alexa.


Siangnya seperti yang ditugaskan alexa vani mengantar sebuah berkas berisi laporan keuangan keruangan crist dengan tak bersemangat, vani menaiki lift agar ia lebih cepat sampai keruangan presdir yang tak lain adalah suaminya.


Tok...tok...


Vani mengetuk pintu sang presdir namun hingga ketukan kedua tak ada juga respon, merasa dirinya sudah cukup lelah mengetuk vani pun membuka pintu ruangan sang suami, dan detik selanjutnya kepala vani seakan dihantam batu besar, kakinya lemas, jantungnya seperti baru saja berlari dengan jarak yang begitu jauh berkas yang ia bawah jatuh kelantai dan berhamburan.


Hatinya seperti baru saja tertancap sesuatu yang tajam hingga tak terasa matanya sudah berkaca-kaca, memang ia sering kali mendapat pesan dan gambar-gambar jika suaminya sedang bersama wanita lain, namun kini ia menyaksikan langsung crist dan celine sedang berpelukan di depan matanya sendiri meski mungkin apa yang ia lihat tak seperti dugaannya.


Vani kembali membuka pintu dan berlalu dari sana, crist yang menyadari itu mencoba menyusul sang istri namun vani terlanjur masuk kedalam lift dengan wajah yang memerah dan perasaan marah.

__ADS_1


Sesampainya di lantai dasar vani segera menuju ruangannya dan mengambil barang-barangnya, leoni yang binggung akan sikap vani yang tiba-tiba berubah mencoba mendekati vani


”vani ada apa?” tanya leoni yang sadar dengan perubahan vani


“tidak apa-apa hanya hari ini aku sedikit ada urusan” jawab vani berbohong karena tidak ingin sahabat-sahabatnya khawatir padanya.


“aku harus pulang” tambahnya lagi


Dengan sedikit berlari vani meninggalkan ruangan itu, menuju tempat parkir dimana mobilnya berada dan segera meninggalkan kantor untuk kembali kerumah rasanya moodnya hari ini begitu buruk hingga dirinya memilih pulang menenangkan dirinya.


“Indri apa vani ada?” tanya crist yang baru saja sampai diruangan divisi keuangan


Melihat presdir yang berada dihadapan mereka semua karyawan yang ada disana menjadi gugup.


“eh.. vani baru saja pulang, katanya ada urusan penting” jawab indri terbata-bata.


Crist yang mendengar jawaban indri menjadi panik karena vani pulang dalam kondisi marah. Takut jika terjadi sesuatu pada istrinya crist pun memilih pulang menyusul vani dan menyerahkan semua pekerjaan kantor pada sekretarisnya.


Lagi-lagi crist menorehkan luka dihati vani, vani yang sudah terlanjur menaruh perasaan pada crist meskipun ia pendam sendiri, vani harus menerima kenyataan jika crist belum mampu menerimanya sebagai pengganti celine.


Crist merasa bersalah, dan itu membuatnya semakin menancapkan gas untuk segera sampai dirumah mereka. Ia tak sabar ingin segera meminta maaf pada vani atas apa yang baru saja terjadi.


“sudah pulang nyonya muda?” tanya bi olif mendapati vani baru saja keluar dari mobilnya.


“sudah bi, saya sedang tidak enak badan” ucap vani menanggapi pertanyaan bi olif.


“mau dibuatkan bubur nyonya?” tanya bi olif


“tidak perlu bi saya hanya perlu istrahat saja”. Jawab vani sambil mengambil dokumen yang tertinggal di dalam mobil.


“baiklah nyonya, jika ada yang nyonya inginkan panggil saya saja” ucap bi olif.


“terimakasih banyak bi olif, saya ke kamar dulu”. Vani berjalan meninggalkan bi olif yang kembali melanjutkan aktivitasnya.


Sesampainya di kamar vani membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, menarik napas berulang-ulang ketika bayangan kejadian di ruangan crist kembali menari dalam otaknya.


Vani keluar dari kamar mandinya, dan tentu ia kaget melihat sosok crist sedang menatap kearahnya, kedua mata mereka beradu tatap membuat vani merasa canggung.


“crist, tidak bisakah kamu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar orang lain?” tanya vani memulai percakapan.

__ADS_1


“aku memang sering mengetuk pintu sebelum masuk keruangan orang lain, tapi tidak berlaku untuk kamu, kamu bukan orang lain bagiku jadi aku tak perlu mengetuk pintu untuk masuk.


“baiklah, aku sadar semua yang ada disini milikmu, kamu bebas masuk dan keluar dirumah ini bahkan dikamar ini sekalipun” ucapan vani yang seperti menyindir suaminya itu.


“aku sedang tidak ingin bertengkar vani, aku kesini hanya untuk mengatakan bahwa apa yang kamu lihat tidak selamanya benar”. Crist berucap tidak ingin membuat keributan disana, ia lebih memilih menjelaskan semuanya pada vani.


Belum habis menjelaskan semuanya pintu vani terdengar ada yang mengetuk.


Tok...tok..tok..


“permisi nyonya muda” ucap bi olif dibalik pintu


Vani menghampiri pintu kamarnya dan membuka pintu itu,


“ada apa bi?” tanya vani


“diluar ada yang seorang wanita mencari tuan muda” jelas bi olif


“siapa bi?” vani menjadi penasaran siapa yang mencari suaminya sampai kerumah.


“nona celine nyonya muda” ucap bi olif tanpa ragu


Emosi vani semakin menjadi-jadi, jika crist bertemu dengan mantan kekasihnya itu diluar rumah ia akan baik-baik saja namun kini celine datang ke kediaman mereka tanda celine tak menghargai vani sebagai istri crist.


“oh, crist akan menemuinya bi” ucap vani


Crist yang mendengar bahwa celine ada di rumahnya menjadi marah dan takut, marah karena ia tak pernah menyangka jika mantan kekasihnya itu berani datang kerumahnya, dan takut karena vani menjadi semakin marah pada dirinya.


“crist, jika kamu bertemu dengan mantan kekasihmu itu diluar rumah aku mungkin masih bisa menerima tapi jika dia sudah berani menemuimu hingga kerumah ini maafkan aku, aku yang akan pergi dari rumah ini” vani berucap dengan nada lantang dan wajah yang memerah.


“tidak akan ada yang keluar dari rumah ini” jawab crist sambil berjalan keluar dan mengunci pintu kamar vani crist takut jika vani keluar dari rumah.


Crist menuruni tangga untuk menemui celine.


“ada apa lagi kamu kesini?” ucap crist pada celine dengan nada marah


“crist aku ingin kembali padamu, aku tahu jika kamu pun masih memiliki rasa yang sama” ucap celine dengan nada memohon.


Crist tersenyum sinis mendengar ucapan celine

__ADS_1


“jangan mimpi kamu bisa menjadi nyonya cristofer, karena sampai kapanpun hanya vani yang akan memakai gelar itu” ucapan crist kali ini tegas bahkan mungkin bisa melukai hati celine.


__ADS_2