
Keadaan dikantor tak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya, vani dan teman sesama tim tengah berada dikubikelnya masing-masing tentu saja sedang mengerjakan laporan mereka. Keadaan tampak biasa-biasa saja. Sampai ketika jam makan siang tiba dan semuanya mulai beranjak ke cafetaria yang berada tak jauh dari kantor.
Leoni dan justin yang sudah berpacaran berjalan beriringan diikuti indri dan alex, jack dan james keenamnya berjalan menuju cafetaria untuk mengisi perut mereka yang sudah berdemo minta diisi namun berbeda dengan vani yang tetap berada dikubikelnya membaca berkas yang ada di depannya lalu mengetikan angka-angka pada komputernya.
Vani sengaja tidak ikut bersama dengan rekan-rekannya yang lain karena ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk menghindari dirinya harus lembur, pulang larut malam dan harus berakhir dengan dirinya yang terlambat bangun pagi.
Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu dimana dirinya dipanggil presdir karena keterlambatannya ia berusaha datang lebih awal ke kantor sehingga kejadian itu tidak perlu terulang, jika dirinya masih ingin bekerja di perusahaan itu.
Meninggalkan vani yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya dicafetaria leoni dan indri baru saja selesai memesan makanan untuk teman-teman setim mereka, dan kini mereka sedang asik menikmati makanan mereka masing-masing.
Suasana cafetaria tiba-tiba menjadi heboh dengan kabar yang beredar jika seseorang baru saja membuat kekacauan diruangan presdir dan tentu saja itu menjadi kabar panas hari itu, pasalnya selama ini sang presdir dikenal sebagai sosok yang dingin, tegas dan tak terbantahkan jika ada yang berani menentang sang presdir itu adalah kedua orang tuanya namun kali ini berbeda sosok yang berani membuat kekacauan adalah seorang wanita bernama celine.
20 menit berlalu leoni, indri dan kawan-kawan seudah kembali keruangan mereka dengan rasa tak sabaran memberitahu kabar yang baru saja mereka dengar kepada vani hingga setelah mereka tiba diruangan itu leoni segera menghampiri kubikel vani.
“vani,, kamu sudah dengar kabar?” ucap leoni mengundang rasa penasaran vani
“kabar?” jawab vani masih dengan posisi mengetikan angka-angka pada komputernya.
“iya, kabar tentang kekacauan diruangan presdir” kata leoni yang mampu menghentikan aktivitas vani saat itu.
__ADS_1
Vani yang belum pernah mendengar kabar seperti itu mendadak ingin tahu kelanjutan ceritanya.
“siapa yang berani membuat kekacauan diruangan presdir?” tanya vani penasaran
“itu dia yang belum pasti, kabarnya sosok yang berani membuat kekacauan itu adalah seorang wanita” jelas leoni pada sahabatnya itu.
“apa wanita?” kali ini vani kaget dengan apa yang baru saja ia dengar bagaimana seorang wanita bisa membuat serang presdir marah.
“pasti wanita itu mau mencari perkara” batin vani.
Tak ingin melanjutkan rasa keingintahuannya vani kembali melanjutkan pekerjaannya dan kali ini ia sudah akan menyelesaikan pekerjaannya namun tanpa di duga alexa tiba-tiba datang keruangan mereka dan langsung menuju kubikel milik vani.
“sebentar lagi, ada apa?” jawab vani masih fokus pada layar komputernya.
“tolong antarkan berkas ini pada presdir aku punya pekerjaan yang lain” ucap alexa sambil menyerahkan sebuah beberapa berkas pada vani.
“tapi kenapa harus saya, kan ada leoni sama indri dan teman-teman yang lain juga bisa” ucap vani mencoba menolak permintaan alexa
“maaf pekerjaanku masih terlalu banyak” ucap leoni karena tidak ingin keruangan presdir
__ADS_1
“aku juga” indri ikut bersuara
“iya, sama. Kamu kan sudah mau selesai apa salahnya jika kamu saja yang mengantar berkas itu” sahut justin.
Vani menarik napasnya dan menghembuskannya asal dan segera berdiri dari tempatnya melangkah keluar dengan wajah yang tampak kusut tak menghiraukan alexa yang masih ada disana.
Alexa dan teman setim vani hanya dapat senyum-senyum melihat perubahan wajah vani.
Vani menaiki lift dan segera keluar ketika lift terbuka menandakan dirinya sudah sampai dilantai yang ia inginkan, tak ingin membuang waktu dirinya segera menuju ruangan sang presdir
Tok,,tok,,tok
Masuk ...
Vani segera membuka pintu ketika mendapat izin dari sang pemilik dan betapa kagetnya ia ketika tiba-tiba sebuah benda keras menghantam kepalanya ketika dirinya baru saja menutup pintu.
Vani terdiam sejenak mencoba berpegangan di handle pintu kepalanya terasa pusing kakinya gemetar tak mampu lagi menopang tubuhnya jika saja dirinya tak berpegangan. Cairan berwarna merah mulai menetes melewati wajahnya vani mulai panik namun tak sepanik sang pelaku yang melempar vas bunga yang tak sengaja mengenai kepala vani.
Vani segera meletakkan berkas yang ada di tangannya dimeja yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan segera keluar dari sana menuju lift yang akan membawanya turun keruangannya.
__ADS_1
Sedangkan crist terdiam di tempatnya masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan dan 10 detik selanjutnya ia tersadar jika dirinya baru saja melukai seseorang karena emosinya yang tak terbendung.