Menikah Dengan Boss Dingin

Menikah Dengan Boss Dingin
Apartemen Vani


__ADS_3

Ruangan divisi keuangan mendadak heboh karena kedatangan vani dengan luka dibagian jidatnya leoni yang khawatir mendekati vani yang datang dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“vani, apa yang terjadi?” leoni berucap dengan nada khawatir


“presdir kalau marah-marah menakutkan” balas vani menanggapi pertanyaan leoni


Semua yang ada disana kaget mendengar ucapan vani, merasa belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya leoni kembali menanyakan pertanyaan yang sama


“vani apa yang sudah terjadi?” ulang leoni


“presdir dalam keadaan emosi ketika aku masuk kedalam ruangan dan melempar vas bunga kearahku dan akhirnya jadi seperti ini” jelas vani


merasa darahnya kembali mengalir ia meminta izin pulang lebih awal untuk mengobati lukanya.


POV Crist


Tok...tok...tok...


Masuk.. ucapku pada sosok yang berada di balik pintu saat itu tampak pintu terbuka menampilkan sosok wanita yang paling aku rindukan namun juga paling ku benci wanita itu tampak berjalan kearahku dengan senyum diwajahnya,


“apa kabar” ucapnya membuka percakapan


“seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja bahkan jauh lebih baik semenjak kau meninggalkanku” jawabku dingin


Ia tersenyum, lalu kembali berucap

__ADS_1


“ya, tampak dari luar kau begitu baik-baik saja namun jujur saja mungkin saat ini hatimu sedang rapuh” ucapan celine kali ini ada benarnya


“jangan seperti orang yang tau segalanya tentangku, aku bukan lagi pria yang bisa dibodohi dengan sejuta sanjunganmu” ucapku tegas tapi mengena dihatinya terlihat ia menatapku wajahnya berubah merah menandakan ia sedang marah


“kamu belum berubah crist, masih menjadi pria yang tak mau mengakui jika sebenarnya kamu belum bisa melupakanku” kata-katanya membuatku terdiam sejenak walau sejauh apapun aku menyembunyikan perasaanku namun nyatanya apa yang ia katakan adalah benar adanya


Aku tersenyum mencoba terlihat biasa saja dengan ucapannya, namun kali ini entah mengapa emosiku tiba-tiba naik aku membentaknya dengan suara yang keras


“sudah ku bilang jangan terlihat seperti orang yang tau segalanya tentangku, aku bukan lagi pria yang empat tahun lalu kamu tinggalkan” sindirku penuh penekanan


Pertengkaranku dan celine semakin menjadi aku yang awalnya dapat mengendalikan emosi tiba-tiba tidak bisa mengontrol lagi, aku menyuruhnya keluar namun ia tetap juga bertahan maka dengan terpaksa aku memegang tangannya dan menyeretnya keluar tanpa kusangka karyawanku sedang berlalu lalang di didepan ruanganku dan tentu saja pertengkaran kami menjadi daya tarik mereka hingga tak berselang lama para bodyguardku datang dan membawa celine keluar dari sana


Saat itu emosiku belum juga reda padahal sudah 30 menit setelah pertengkaranku dengan celine terdengar ada yang mengetuk pintu aku menyuarakan masuk meskipun kini perasaanku masih dilanda emosi bahkan buku-buku yang tertata rapi di mejaku kini menjadi berserakkan di lantai


Tampak wanita itu terdiam menahan tubuhnya dengan memegang handle pintu yang ada disampingnya tangan yang satunya ia gunakan untuk memegang berkas yang akan ia serahkan padaku, 5 detik selanjutnya ia melangkah ke meja yang tak jauh darinya ia meletakkan berkas itu lalu segera keluar dari ruanganku tampa pamit


Aku terdiam masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi 10 detik selanjutnya baru aku tersadar jika sudah melukai karyawanku membuatku merasa bersalah, aku tentu mengenal wanita itu wanita yang beberapa hari yang lalu kulihat baru pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 23. 30 lalu besoknya ia tidak mengikuti rapat karena terlambat masuk kantor.


aku kini dilanda rasa khawatir melihat darah yang mengalir diwajahnya membuatku sedikit takut jika terjadi sesuatu padanya. Aku pun berniat memberitahu alexa sehingga ia bisa memastikan jika tidak terjadi luka yang parah pada bawahannya itu.


POV End


Kini vani sudah berada diapartemennya ia mulai, menghentikan darah yang keluar, membersihkan lukanya dengan air hangat dan mengolesinya dengan salep antibiotik sebelum dan segera menaruh kapas dibagian yang terluka dan selanjutnya ia memakaikan beberapa plester luka.


Vani sedikit marah pada presdirnya itu bisa-bisanya seorang presdir berbuat seperti itu lebih parahnya sampai membuat seorang karyawannya terluka. Vani menarik napas ia memilih berbaring diranjangnya dan mulai membalas pesan yang masuk semenjak kepulangannya sahabat-sahabatnya tidak berhenti mengiriminya pesan hanya untuk menanyakan keadaannya bahkan sang atasan pun ikut-ikutan menanyakan hal yang sama.

__ADS_1


Rasanya jari-jarinya mau patah karena harus membalas pesan masuk yang tak mau berhenti belum selesai membalas pesan leoni 2 notifikasi pesan baru dari indri dan alexa sudah muncul membuatnya semakin tak bisa berhenti mengetik.


Jam operasional kerja sudah selesai sekitar 3 jam yang lalu dan kini sahabat-sahabatnya tentu saja sudah berada di apartemen masing-masing namun vani mendengar bel apartemenya tanda ada tamu.


Dengan penasaran vani bangun dan segera menuju lantai dasar dan membuka pintu dan betapa terkejutnya ia bahwa tamunya adalah presdir tempatnya bekerja pria yang sudah membuat jidatnya terluka


“ada apa bapak kesini?” tanya vani gugup


“apa tidak ada tempat duduk didalam hingga kamu tidak mempersilahkan saya masuk dulu” jawab crist dengan nada dingin


“silahkan masuk pak” jawab vani masih belum percaya jika seorang presdir tempatnya bekerja berada di apartemenya saat ini.


Crist masuk dan memilih duduk disofa yang ada diruangan itu tak sampai disitu crist menyindir jika dirinya haus karena tak juga disuguhi minuman oleh vani.


Vani pun segera mengambil minuman dalam lemari es dan memberikannya pada crist.


“ jadi bagaimana keadaanmu?” ucap crist membuka percakapan


“sudah lebih baik pak” balas vani sedikit jutek


“baguslah, satu lagi apa aku tampak setua itu sampai kau memanggilku pak?” tanya cris dengan sindiran


Vani yang mendengar ucapan sang presdir tidak tau harus merespon bagaimana.


Penasaran dengan kelanjutan ceritanya jangan lupa ikuti terus yha,,,,

__ADS_1


__ADS_2