
hari keberangkatan vani, indri dan leoni pun akhirnya tiba ketiganya pun sudah membuat janji akan bertemu di bandara dimana semua team divisi keuangan akan berkumpul sebelum berangkat menuju negara tujuan masing masing.
vani yang sudah terbangun sejak pukul lima pagi pun sudah siap dengan segala barang barangnya, hanya dirinya menyempatkan diri untuk menunggu crist bangun agar bisa berpamitan pada suaminya itu
tiga puluh menit menunggu namun crist tak juga keluar dari kamarnya waktu keberangkatan vani pun semakin menipis, vani takut jika dirinya terlambat ke bandara dirinya akan ketinggalan pesawat, dirinya pun bergegas untuk segera berangkat ke bandara
"bi olif, tolong sampaikan pada crist saya sudah berangkat ke bandara." ucap vani pada assisten rumah tangganya itu
"baik nyonya muda akan bibi sampaikan" jawab bi olif kepala assisten dikediaman crist
"oh iya bi, tolong siapkan makan untuk crist sebelum dan ketika ia kembali dari kantor" vani mengingatkan bi olif kembali
"baik nyonya muda," kata bi olif
vani pun meninggalkan mension dan segera menuju bandara, sepanjang perjalanan vani tampak memperhatikan keadaan jalan yang sedikit sepi dari biasanya menatap deretan gedung yang berdiri kokoh di sepanjang jalan membuatnya merindukan kedua orang tuanya
vani mengambil handphone miliknya mengetikan sebuah pesan pada ibunya
"aku merindukanmu mom" pesan singkat vani untuk sang ibu
vani juga mengirim pesan pada sang suami
"aku berangkat crist, maafkan aku tak bisa menunggumu bangun aku takut pesawatnya akan meninggalkanku, jangan lupa sarapanmu sebelum berangkat ke kantor pastikan tidak pulang larut malam, kurangi begadang jangan minum minuman beralkohol terlalu banyak itu tidak baik untuk kesehatan, jaga kesehatanmu jangan lupa makan siang, hati hati saat kamu berangkat dan kembali dari kantor jangan mengendarai mobil saat mabuk, jangan lakukan hal hal yang dapat merugikanmu, jangan terlalu stress hingga lupa beristirahat"
__ADS_1
pesan vani pun terkirim, setelahnya vani menyimpan handphone miliknya di tas selempang yang ia bawa
dua puluh menit kemudian taxi yang membawa vani pun sampai di parkiran bandara, terlihat leoni dan indri melambaikan tangan kearahnya disertai teriakan kecil memanggil namanya. vani pun segera melangkah menghampiri mereka setelah dirinya membayar sewa taxi yang mengantarnya tadi
"ayo kita masuk pesawatnya akan segera terbang" ucap leoni segera menarik tangan vani
sementara team yang lain sudah berangkat lebih dulu karena pesawat yang akan mereka naikki harus terbang tiga puluh menit lebih awal dari waktu yang di tentukan karena perubahan jadwal terbang
vani pun mengikuti langkah sahabat sahabtnya yang berjalan di depannya dengan menarik koper masing masing, benar saja pesawat yang akan membawa mereka tinggal menghitung beberapa menit akan lepas landas dari bandara
di dalam pesawat vani berdoa agar mereka sampai di tempat tujuan mereka dengan selamat.
meninggalkan vani dan sahabat sahabatnya yang tinggal beberapa menit lagi akan meninggalkan negara itu di mension crist baru saja bangun dari tidurnya, matanya langsung menatap pada benda pipih yang terletak di nakas samping ranjangnya
dengan penasaran dirinya segera membuka pesan itu
"aku berangkat crist, maafkan aku tak bisa menunggumu bangun aku takut pesawatnya akan meninggalkanku, jangan lupa sarapanmu sebelum berangkat ke kantor pastikan tidak pulang larut malam, kurangi begadang jangan minum minuman beralkohol terlalu banyak itu tidak baik untuk kesehatan, jaga kesehatanmu jangan lupa makan siang, hati hati saat kamu berangkat dan kembali dari kantor jangan mengendarai mobil saat mabuk, jangan lakukan hal hal yang dapat merugikanmu, jangan terlalu stress hingga lupa beristirahat"
namun setelah membaca pesan itu crist terlihat biasa biasa saja, tak berniat membalas pesan dari sang istri ia lebih memilih membersihkan tubuhnya dari pada harus bersantai
bukan hanya saat ini crist mengabaikan pesan dari vani namun sudah sejak status hubungan mereka menjadi suami dan istri, vani yang selalu memberinya pesan entah itu sekedar mengingatkan untuk tidak lupa makan siang, atau mengingatkan agar tidak pulang larut malam atau pun pesan pesan lain tak pernah sekalipun di balas oleh crist.
meski vani menanti balasan pesan dari sang suami dengan perasaan was was ketika crist tak kunjung pulang ketika waktu sudah begitu larut, atau perasaan takut jika crist mabuk dalam mengendarai mobilnya vani lagi lagi harus menelan kekecewaan karena pesan yang ia kirim tak kunjung mendapat balasan.
__ADS_1
crist memang sengaja tak membalas satu pun pesan yang di kirim oleh vani entah apa alasannya namun pastinya setiap pesan itu akan selalu diabaikan oleh crist
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
dua jam berlalu dan disinilah vani dan sahabat sahabatnya di sebuah hotel mewah yang di siapkan perusahaan tempat mereka bekerja, tiga hari ke depan mereka boleh bersantai karena pengambilan data pada perusahaan cabang akan dilakukan empat hari dari sekarang berhubung manager perusahaan cabang sedang di luar kota
baru akan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya vani kembali merasakan tubuhnya bergetar hebat detik selanjutnya vani tak sadarkan diri, leoni dan indri panik seketika ketika melihat tubuh sahabat mereka terkapar menyatu dengan dinginnya lantai kamar
mereka memanggil pelayan untuk mengangkat tubuh vani untuk segera di larikan ke rumah sakit terdekat, dengan kepanikan yang luar biasa leoni dan indri segera mengikuti pelayan hotel yang mengangkat tubuh vani, mereka membawa vani untuk segera di rawat
beruntung tiga kilometer dari hotel mereka menginap ada sebuah rumah sakit berlantai delapan dengan peralatan yang sudah modern dan terbaik di negara itu, sehingga leoni dan indri dapat bernapas lega sebab vani bisa segera di tangani
vani sudah di bawa masuk kedalam ruang IGD indri dengan cemas menanti dokter yang memeriksa keadaan vani
tak berselang lama pintu kamar terbuka
"dengan keluarga pasien?" ucap dokter berseragam putih itu
"ya kami sahabatnya" ucap indri
"pasien harus segera di operasi, penyakit ensefalopati Hepatik yang di derita pasien sudah menyebar hampir di seluruh otak, sehingga kita harus segera mengambil tindakan cepat" ucap dokter menjelaskan situasi yang begitu mendesak
tanpa berpikir panjang indri dan leoni pun segera menyetujui ucapan sang dokter dengan harapan vani akan baik baik saja. sahabat Sahabat Vani tak berani mengabarkan situasi saat ini kepada siapapun termasuk pada suami vani keduanya memilih tetap menyembunyikan keadaan vani sampai nanti vani akan sadar
__ADS_1
indri menangis mengetahui jika selama ini sahabatnya itu ternyata mempunyai penyakit yang ia sembunyikan dari mereka, vani memilih menahan rasa sakitnya sendiri tanpa berniat memberitahukan kepada mereka