Menikah Dengan Boss Dingin

Menikah Dengan Boss Dingin
Tidur Di Luar


__ADS_3

hari ini pagi pagi benar vani sudah bersiap menuju ke kantor meski jam di dinding kamarnya baru menunjukkan pukul 06.45 menit dirinya memilih pergi ke kantor untuk menghindari bertatapan dengan crist, vani bukanlah sosok pendendam hanya saja dirinya tidak ingin bayang bayang menyakitkan itu kembali melintas dalam benaknya hingga membuat moodnya kembali buruk.


kebersamaan crist dan celine bukan menjadi rahasia di kantor yang di pimpin crist bahkan crist dan celine sudah berani memamerkan kebersamaan mereka layaknya pasangan muda pada umumnya, meski seluruh karyawan kantor sudah mengetahui status pernikahan crist dan vani namun tetap saja crist berani membawa bahkan menggandeng tangan sang mantan kekasih yang kini sudah kembali menjalin hubungan dengannya.


hal itu tentu saja tanpa sepengetahuan ayah dan ibu crist andai keduanya tahu maka sudah jelas crist akan mendapat hadiah tamparan dan pukulan bertubi-tubi dari ibu dan ayahnya yang begitu membenci kata perselingkuhan, meski di depan karyawan kantornya crist berani memamerkan kemesraan dengan celine namun tidak ketika dirinya akan menghadiri pertemuan besar atau undangan colega.


sudah beberapa hari ini vani datang awal dan pulang larut malam, dirinya benar benar menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang menuntutnya untuk menyelesaikan laporan laporan pertanggungjawabannya meski begitu vani menikmati pekerjaannya bahkan pekerjaannya begitu ampuh mengikis bayang bayang kebersamaan crist dan celine


vani masih menyibukkan dirinya di depan komputer miliknya, di dalam ruangan itu hanya menyisahkan vani, leoni, indri, justin dan james sedangkan kedua rekan mereka telah meminta izin untuk pulang lebih awal karena ingin menghadiri acara penting. kelimanya tampak fokus pada layar komputer masing masing tanpa berniat membuka suara seakan mereka tak memiliki waktu untuk saling bertukar pikiran membuat ruangan itu sepi hanya terdengar bunyi keyboard dan jari jari tangan yang saling beradu.


tidak terasa waktu begitu cepat berlalu kini jam di dinding bergambar menara Eiffel itu sudah menunjukkan pukul 22.30 waktu setempat ketika kelimanya kompak mematikan komputer mereka dan mengangkat tangan mereka ke atas sekedar meluruskan punggung yang sepertinya sudah begitu lelah.


"van di jemput atau pulang sendiri? " sebuah pertanyaan dari indri yang tampak sedang merapikan mejanya


"pulang sendiri" sahut vani yang tengah memasukkan barang barangnya kedalam tasnya


"oh, baikklah" ucap indri singkat


"ayo pulang" ajakan itu datang dari leoni yang sudah siap untuk berjalan menuju sebuah pintu yang akan mereka lewati


tidak ada yang menjawab ke empat orang yang ada disana memilih berdiri dan mengikuti leoni yang sudah berjalan lebih duluan


sesampai mereka di parkiran vani pamit pulang lebih dulu karena dirinya sudah benar benar lelah bekerja seharian sedangkan leoni, indri, justin dan james memilih pergi ke sebuah restoran untuk mengisi perut mereka yang sudah meronta meminta di isi.

__ADS_1


tiga puluh menit waktu yang di butuhkan vani dalam berkendara untuk sampai di mension kediaman mereka, waktu yang tidak sebentar hal ini karena vani mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar dirinya takut menambah kecepatan mobilnya sebab ia takut akan menabrak sesuatu mengingat dirinya yang kini di landa rasa kantuk


seorang penjaga gerbang membuka pagar ketika mengetahui nyonya mudanya sudah kembali vani membuka kaca mobilnya mengucapkan kata terimakasih yang hanya di angguki kepala oleh penjaga gerbang sambil tersenyum


vani membawa mobilnya menuju parkiran namun dirinya merasa aneh ketika parkiran yang ada di sebelah mension yang luasnya hampir setengah hektare itu hampir penuh dengan mobil sport setahunya tempat parkir itu biasanya hanya berisi 10 mobil koleksi sang suami dan di tambah dengan mobil miliknya namun kini untuk parkiran mobil vani pun dirinya harus mencari tempat lain, pertanyaan demi pertanyaan menghampiri vani "apakah ada pesta di mension? , adakah pertemuan antara para colega bisnis? " atau adakah rapat dadakan yang diadakan disini"


takut membuat crist malu akan kehadirannya disana vani memilih melewati pintu di samping parkiran yang langsung menuju dapur ia berpikir akan menemui bibi perie dan menanyakan perihal itu padanya


kehadiran vani di dapur membuat bibi perie terkejut dan langsung menghampiri nyonya mudanya itu


"nyonya muda kenapa lewat disini" pertanyaan yang langsung di berikan bibi perie pada vani


bukannya menjawab pertanyaan dari bibi perie vani justru kembali menjawab ucapan bibi perie dengan sebuah pertanyaan


"bibi disini ada acara apa?"


"oh, ya sudahlah" ucap vani yang tidak ingin tahu cerita selanjutnya mengingat tubuhnya yang sudah begitu lelah dan ingin segera mandi dan tidur itu yang kini dalam pikiran vani. namun bagaimana cara agar dirinya bisa k kamarnya ruang tengah menuju kamarnya begitu ramai dan dirinya tidak ingin pergi kesana.


"bibi perie bisa saya minta tolong? " ucap vani


"ia nyonya muda, apa yang nyonya muda butuhkan? " tanya bibi perie yang begitu mengerti dan kasihan melihat wajah vani yang sudah begitu lelah


"bisakah bibi perie ke kamarku dan ambilkan perlengkapan mandiku dan juga pakain untukku? " kata vani lagi sejujurnya ia tidak ingin merepotkan orang lain namun malam ini ia tak punya cara lain.

__ADS_1


"tentu saja boleh nyonya muda, nyonya muda tunggu disini biar saya yang naik ke atas" ucap bibi perie lalu segera melakukan apa yang di minta nyonya mudahnya


sepuluh menit kemudian bibi perie menghampiri vani dan menyerahkan totebag berwarna hitam berisi perlengkapan mandi dan juga pakaian dari nyonya mudanya itu


"terimakasih banyak bi, oh iya bisakah saya meminjam kamar mandi bibi? vani kembali meminta tolong pada bibi perie untuk mengizinkannya menggunakan kamar mandinya


" tentu saja boleh, ayo bibi antar" keduanya berjalan ke arah belakang dimana beberapa bilik kamar berukuran besar yang di siapkan untuk para assisten rumah tangga berada


bibi perie membuka pintu dan mempersilahkan nyonya mudanya untuk masuk


"bibi perie tolong temani saya disini" pintah vani


"baik nyonya muda" jawab bibi perie


tiga puluh menit berlalu kini vani sudah selesai membersihkan tubuhnya dengan handuk yang masih menempel di kepalanya vani keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian tidurnya


rasa kantuk sudah tak bisa lagi di tahan vani dirinya benar benar sudah begitu lelah dan ingin segera tidur vani menghampiri bibi perie selaku pemilik kamar


"bibi malam ini bisakah aku tidur disini, aku sudah benar benar mengantuk" ucap vani


"tapi nyonya muda" ucapan bibi perie terhenti ia memperhatikan kamarnya yang tampak kurang layak bagi nyonya mudanya itu ia takut sang nyonya tidak akan merasa nyaman jika harus tidur disana namun melihat wajah lelah sang nyonya muda itu dirinya tak tega lalu memilih membersihkan kamarnya terlebih dahulu lalu mempersilahkan vani untuk tidur


"bibi juga tidur besok kan harus bangun pagi" ucapan vani membuat bibi perie tak tahu harus bersikap bagaimana dirinya benar benar merasa beruntung memiliki majikan seperti vani yang tidak pernah membedakan orang meski itu pembantunya vani selalu memperlakukan orang lain layaknya saudaranya sendiri

__ADS_1


bibi perie pun ikut membaringkan tubuhnya di sisi vani namun memilih berbaring sedikit jauh dari vani namun bibi perie kembali di buat terkejut ketika vani memintanya untuk mendekat agar bibi perie tidak terjatuh ke lantai.


bibi perie beryukur mendapatkan nyonya muda yang baik seperti vani dan seiring waktu yang sudah begitu larut vani dan bibi perie pun tertidur. mungkin inilah kali pertama vani tidur di luar kamarnya sendiri


__ADS_2