
Varo mulai dengan sentuhan lembut di kedua pucuk bukitnya , kadang memilin bahkan meremas lembut hingga tubuh istrinya melengkung ketika ia menjadi bayi yang dengan rakusnya menghisap pucuk kemerahannya .
" Masss .... eeuugghh "
" lya sayaannng ... "
Varo seperti sedang di ingatkan untuk kembali pada mode lembutnya . Ternyata tidak menggunakan obat laknat itu pun dia hampir saja kesetanan menikmati semua kenikmatan ini .
Varo kembali meraih bibir sang istri , mereka kembali bermain dengan lidah mereka . Saling menyesap dan bertukar saliva , sedang dua jarinya bergerak lembut memanjakan area bawah istrinya .
Semakin lama dua jari itu bergerak dengan tempo yang semakin cepat .
" Aaarrgghhh ... Mas mmpphhtt "
Varo terus saja ******* bibir kemerahan itu hingga suara lengguhan lengguhan sang istri menjadi tertahan .
" Erin pengen pipis ... eeuugghh "
" Keluarin sayanngg .. "
Bukannya memperlambat tapi Varo malah mempercepat gerakan tangannya , hingga dia tersenyum puas ketika istri kecilnya mengalami pelepasan untuk pertama kalinya .
Nafas Erin terlihat masih tersengal sengal ketika Varo sudah siap pada permainan inti mereka . Varo melebarkan kedua kaki sang istri dengan mata yang sudah berkabut .
" Maaassss ... "
" Rileks ya ... Mas pelan pelan kok , tapi tahan sedikit karena mungkin akan masih sedikit sakit " .
Perlahan Varo mencoba memasuki tubuh istrinya , ternyata masih saja sangat sempit meski dulu ia pernah beberapa kali memasukinya .
" Massss .. sakit .. eeuugghh "
Baru ujungnya yang mulai menerobos tapi wanitanya sudah terlihat kesakitan .
" Tahan dikit ya "
Dan Varo dengan sedikit tenaga memasukkan semua dengan gerakan cepat . Wanitanya tentu saja menjerit , bahkan bahunya perih karena dua tangan mungil itu mencengkeram bahunya dengan kuatnya .
__ADS_1
Varo membiarkan tongkatnya berdiam sejenak untuk menikmat kehangatan dan denyutan lembut di bawah sana . Dan dia mulai bergerak ketika Erin dirasa sudah bisa menerimanya .
Lembut di awal tapi lama kelamaan Varo semakin menggila . Suara ******* atau erangan bersahut sahutan menggema di dinding kamar itu , bersamaan dengan suara beradunya kulit dua tubuh yang terdengar sangat nyaring .
Hingga akhirnya Varo ambruk diatas tubuh polos istrinya setelah keduanya sampai pada puncak gelombang yang membuat keduanya mengerang merasakan kenikmatan .
" Terima kasih sayang , Mas sayang sama kamu " Varo memberikan kecupan kecupan kecil pada wajah sang istri yang sudah terlihat lelah .
Paginya Varo tak bisa berhenti tersenyum melihat bibir sang istri yang terus saja mengerucut , bagaimana tidak jika sampai hampir pagi mereka baru menghentikan kegiatan panas mereka .
" Sayang , mau lagi ya !? Kok bibirnya di bikin seksi gitu .. niat banget sih kamu pengen goda Mas "
" Bodo ... Mas Varo nyebelin !! "
Erin menutup seluruh tubuhnya dengan menggunakan selimut ketika Varo memeluk erat tubuh yang sudah sangat menjadi candunya itu .
Dia tahu istrinya marah karena pagi tadi ketika memandikan sang istri dia masih saja sempat kembali menyalurkan hasratnya . Entah , tapi malam ini ia benar benar bersemangat untuk selalu menyentuh tubuh mungil sang istri .
" Mas udah ijinin kamu dua hari untuk istirahat di rumah "
" Ya Allah ... Erin ada kelas nanti jam delapan Mas !! " pekiknya .
" Yakin bisa jalan !? " goda Varo yang gemas melihat raut panik istrinya .
" Lhoohh kok malah nangis sih sayang , udah dong ! Kan Mas udah ijinin kamu hari ini "
" Jahat !! Tadi malam Mas bilang cuma sekali lagi , tapi Mas bikin badan Erin capek sampai pagi "
Varo terkekeh mendengar protes dari istrinya , tadi malam setelah selesai permainan pertama memang ia meminta jatah lagi . Dan dia bilang hanya akan mengulangi sekali itu , tapi apa daya tubuh mungil itu terlalu nikmat untuk ia abaikan .
" Kamu enak sih sayang , nagih banget !! lni saja mau nambah lagi pengennya " ujarnya sambil menggaruk tengkuknya ketika Erin menatap sinis padanya .
" Mas ... "
" Boleh nambah !? "
" Ckk ... bukan itu , tapi Erin laper banget "
__ADS_1
Varo menepuk dahinya , ia sampai melupakan sarapan untuk mereka . Erin tidak mungkin turun dengan keadaan begini , untung saja tak ada maid ataupun Mbok Sum yang mengetuk pintu pagi ini . Mungkin mereka tahu dan paham apa yang mereka lakukan di dalam kamar ini .
" Maaf ya , terlalu sibuk makan kamu Mas jadi lupa kalau pagi ini kita belum makan "
Kata kata frontal itu sukses mendapat cubitan keras di perut liatnya . Tapi cubitan itu malah kembali membangunkan sesuatu yang tadi sudah tidur .
" Sayang ... "
" Mass !!! Laper Erin ... "
" Iyaa .. iyaaaa !! Tapi habis sarapan lagi ya "
" Bodo amat !!! Nyebelin dasar ! "
Varo segera turun dan berjalan ke arah dapur , terlihat beberapa maid yang tiap pagi bertugas bersih bersih dan merapikan rumah mengangguk hormat padanya .
Dia menghampiri Mbok Sum yang masih sibuk di dapur , dia terlihat sedang membuat sesuatu .
" Pagi Mbok "
" Pagi Den .. non Erin mana ? Kok nggak ikut turun sarapan !? "
" Ehmm .. sepertinya dia sarapan di kamar deh mbok , lagi nggak enak badan kayanya " ujar Varo dengan salah tingkah , dia yang membuat sang istri tidak bisa berjalan pagi ini .
Mbok Sum hanya tersenyum , ia juga pernah muda hingga ia tahu apa yang terjadi semalam pada nyonya mudanya .
" Ya sudah Simbok juga sudah siapin sarapan itu di nampan , sama ini .... "
Mbok Sum terlihat menaruh masakan yang baru saja selesai ia buat , dan masukkan ke dalam mangkok kecil .
" ltu apa Mbok ? "
" Ini sup sungsum dengan sedikit jahe , biar pegel pegel non Erin segera hilang . lni Mbok juga siapin obat oles sekalian , itu punggung Den Varo merah merah semua kaya gitu "
Varo menggaruk tengkuknya , ternyata pembantunya itu tahu semuanya . Tanda merah di punggungnya adalah tanda cinta dari sang istri . Erin selalu mencakar punggungnya ketika ia menggila saat memacu untuk mencapai kenikmatan .
~ Udah plong yaaaa .. Mas Varo udah belah duren lagi sama ayank Erin . Maaf telat up pagi ini soalnya emak ketiduran tadi malam , habis lomba bikin nasi goreng sama ibu ibu komplek .. dan tentu saja tidak menang ðŸ˜ðŸ˜ tapi yang penting semangat 45 lahh ~
__ADS_1