
" Mas Bumi .... " lirih Air
Air masih belum berani menghadap ke arah suara itu , ia masih berdiri dengan posisi membelakangi pintu masuk rumahnya . Janu juga masih berada di gendongan ibunya .
" Lho Nak Bumi itu mukanya kenapa kok lebam begitu "
Suara ibu sedikit membuat Air tersentak , suaminya sedang terluka . Dia meneguhkan hatinya untuk melihat kondisi Bumi . Dan benar dia melihat ada beberapa luka di wajah suaminya .
Air bisa melihat wajah penuh kebencian itu berubah sayu , ada kegugupan disana dan mata elang itu selalu menunduk tak seperti kemarin yang selalu menatapnya tajam .
Air berpikir Bumi seperti itu karena menghormati sang ibu . Tidak mungkin suaminya memperlihatkan kebencian itu di depan ibunya .
" Tadi ada kecelakaan kecil di proyek Bu , tapi Bumi tidak apa apa " sahut Bumi masih berdiri di depan pintu .
" Air itu suamimu datang kok diem aja sih , itu obati lukanya dulu biar ibuk ambil obat olesnya di dalam "
Air masih berdiri terpaku ditempatnya , belum berani berinteraksi dengan suaminya . Begitupun Bumi yang masih terpaku di depan pintu . Dua orang itu sama sama belum berani saling bicara , seperti dua kekasih yang baru saja putus dan bertemu kembali .
Bu Sri berjalan ke dalam untuk mengambil kotak P3K , di belakang dia berpapasan dengan Dewa .
" Siapa yang terluka Bu ? " tanya Dewa yang melihat ibunya menenteng kotak obat itu .
" Kakakmu "
__ADS_1
" Mbak Aira kenapa !? "
" Bumi datang mau jemput Air , tapi mukanya bonyok kaya gitu " jawab ibunya yang membuat Dewa langsung bergegas ke depan .
" Dewa yang bawa kotaknya , lbu bawa Janu main aja ngga apa apa . Tadi Dewa dengar Bu Lena panggil panggil Janu suruh main kesana " Dewa beralasan , tapi Janu memang sudah menjadi idola diantara para tetangganya . Badan gembulnya membuat semua orang senang bermain dengannya .
" Ok deh , lbu ke rumah Bu Lena dulu . Jangan lupa bikin teh buat kakak ipar kamu "
" Iya ... "
Setelah ibunya keluar , Dewa berlari ke depan untuk menemui orang yang sudah membuat emosinya naik kembali .
" Beraninya datang kesini !! Belum cukup peringatan yang sudah kuberikan padamu tuan Dewa !! "
" Waaa ... berhenti !! " jerit Air yang melihat Dewa merangsek maju dengan mengepalkan tangannya .
Sekali lagi pukulan Dewa mendarat di wajahnya dan Bumi masih saja diam . Air menghambur mencekal lengan adiknya sekali lagi akan mendaratkan pukulannya kebarah suaminya .
" Cukup Wa !! Mbak bilang cukup !!! " teriak Air pada adiknya .
Dewa berhenti , dia urung melayangkan pukulan mendengar suara kakaknya yang terdengar berat . Air sedang menahan isakannya .
" Jadi kamu yang sudah bikin Mas Bumi seperti ini Wa ... "
__ADS_1
" Aku pantas mendapatkannya , biarkan dia ... lepaskan Dewa " ujar Bumi dengan bibir yang kembali berdarah .
" Karena bajing*n sepertimu memang pantas mendapatkannya !!!! " sengit Dewa .
" Waaa !! Jaga sikapmu , dia kakak iparmu ! Suami Embak ! " Air menarik Dewa untuk menjauh dari suaminya dan dia menatap Bumi seakan meminta Bumi untuk masuk ke dalam rumah .
" Jangan di depan pintu Mas , masuklah . Maafkan Dewa dia ... "
" Tidak apa apa " sahut Bumi melangkahkan kakinya masuk ke dalam.rumah . Sejujurnya hatinya merasa lega melihat respon Air yang tidak terlihat membencinya . Tapi itu membuat rasa bersalahnya bertambah berkali kali lipat .
" Mbak Air hanya diam selama ini menghadapi laki laki macam dia ! Suami macam apa yang mengusir anak istrinya dari rumahnya !! Suami macam apa yang tanpa bukti mencurigai istri !? Suami macam apa yang bisa menyakiti istrinya sendiri tanpa sebab ? Dia tidak pantas di sebut sebagai seorang suami !! Bahkan dia tidak pantas disebut sebagai seorang laki laki !! "
" Wa sudah ... ini urusan rumah tangga Embak , harusnya Embak dan Mas Bumi sendiri yang menyelesaikan ini . Embak tahu kamu peduli dengan Embak dan Janu , terimakasih untuk itu . Tapi biarkan Embak yang bicara dengan Mas Bumi ... sendiri "
Dewa hanya mendengus sambil menatap tajam kakak iparnya yang sudah duduk di kursi tamu . Tapi dia menuruti Air agar membiarkan mereka untuk bicara empat mata .
" Panggil Dewa jika laki laki ini membuat ulah lagi ... Biar Dewa hajar lagi dia ! "
Air tidak menjawabnya tapi tatapan matanya membuat Dewa segera bergegas masuk ke dalam .
" Mas ... "
" Aira .. "
__ADS_1
Mereka saling menatap ketika mereka terdengar sama sama memanggil nama Mading masing . Tapi Sir kemudian tertunduk , ia tak mampu menahan mata tajam suaminya .
" Maafin Mas ... ampuni Mas . Mas kangen sama kalian "