
Siang itu Astika sedang bersiap karena sebentar lagi akan bertemu dengan donatur yang akan bekerjasama dengannya untuk membangun sekolah gratis .
Dahinya berkerut ketika melihat seorang laki laki muda mendekat padanya . Pria dengan tubuh tinggi tegap dengan rambut sedikit gondrong . Walau terlihat berpenampilan sederhana tapi pria itu mempunyai kharisma yang kuat yang menunjukkan dia bukan orang sembarangan .
" Hai ... Anda yang bernama Astika !? "
Astika tak mengeluarkan suaranya , ia hanya menganggukkan kepalanya . Hatinya masih bertanya siapa laki laki muda di depannya .
" Saya Dewa , kita kemarin sempat berkirim pesan soal minat saya untuk ikut dalam pembangunan sekolah gratis "
" Pak Dewa .. panggil saja saya Asti . Senang bisa berkenalan dengan Bapak . Si kecil tidak di bawa Pak ?! "
" Si kecil ??! "
" Anak yang ada di foto profile Bapak "
" Oooo ... mereka Janu dan Langit . Dua pria kuat yang akan terus menjadi penyemangat saya ..Mereka bersama ibunya sekarang ... dan tolong panggil saya dengan nama saja . Pak terasa sangat formal ditelinga saya "
Asti tersenyum , kagum dengan pria tampan di depannya . Di usia sangat muda sudah menjadi pemimpin perusahaan sekaligus menjadi ayah untuk dua anak .
Sedang Dewa juga tersenyum ia tahu gadis di depannya pasti mengira Janu dan Langit adalah putranya . Dia juga kagum dengan Asti , di usianya yang masih tergolong muda mempunyai ketertarikan yang sangat besar pada dunia pendidikan .
Dewa tahu program.gadis itu dari medsos , dia langsung tertarik karena sekolah yang akan mereka dirikan kelak pasti akan sangat membantu anak anak yang tidak mampu .
__ADS_1
Sebenarnya bukan hanya Dewa yang ikut berpartisipasi dalam.program.itu , masih ada beberapa pengusaha yang juga tertarik untuk membantu pendirian sekolah itu .
Siang itu mereka berbincang santai , mereka berdua mudah sekali akrab karena ternyata mereka mempunyai visi dan misi yang sama dalam hidup mereka . Yaitu menjadikan hidup mereka berguna untuk sesama .
Setelah beberapa lama akhirnya Dewa pamit undur diri untuk kembali ke perusahaan . Diva yang sudah selesai mengajar menghampiri sahabatnya yang belum keluar dari kantor seusai pertemuannya dengan Dewa .
" As ... siapa tadi !? "
" ltu yang kemarin aku sudah bilang , pengusaha muda yang ikut program ku "
" Hebat dia , masih muda banget kayaknya ! "
" Orangnya humble dan ramah banget ! Sumpah kalau belum punya anak aku akan mengejarnya . Gemes sama senyumnya ... bikin meleleh ' kata Astika dengan bersemangat .
" Tumben kamu muji cowok , biasanya cuek bebek sama makhluk yang satu itu "
" Minat jadi oelakor ??! Kok kayanya ngefans banget "
" Issshh amit amit ... enggak !! Aku bukan Diana ya "
Diva tersenyum mendengar nama itu di sebut , dulu mungkin ia akan menangis jika nama Gilang atau Diana disebut didepannya . Tapi entah kenapa sekarang ia seperti sudah benar benar tak mau tahu lagi tentang mereka .
Diva sudah mulai bisa melupakan lima tahun hidupnya ketika masih bersama dengan Gilang . Kehidupan tanpa cinta yang penuh kepalsuan .
__ADS_1
" Maaf ... keceplosan "
" Nggak apa apa As , aku sudah bisa melupakan mereka . Nggak usah pasang muka sedih kayak gitu , jelek tau !! "
Dua sahabat itu tertawa bersama , tapi tawa itu tak bertahan lama ketika Dive menerima sebuah pesan di ponselnya . Wajah cantik itu terlihat mendung .
" Siapa Div ?? "
" Mas Gilang , katanya hari ini juga mau ketemu "
" Ya udah nanti aku anterin , sama jaga jaga kalau nenek lampir itu ikut . Aku yang hadapi dia "
" Mas Gilang ingin bertemu empat mata "
" Tumben .... jangan jangan dia sudah sadar kalau wanita yang sekarang bersamanya adalah zombie tidak punya hati dan otak . Gilang ingin balikan sama kamu Div "
" Ckk .. nggak usah ngarang deh . Ya udah aku mau siap siap pulang jemput Gema "
" Kalau kamu pengen ketemu sama Gilang biar Gema aku yang jemput "
" Nggak usah , aku cuma sebentar ketemu dia ! Lagian sudah tidak ada lagi yang harus kami bicarakan "
" Ya sudah kalau begitu "
__ADS_1
Diva pulang dengan mengendarai motornya , saat berhenti di lampu merah dia seperti melihat pria yang kemarin bermain bersama Gema keluar dari restoran milik Gilang .
" Adam , jangan jangan dia ... "