
Bumi segera melesat ke kamar mandi , hatinya berbunga bunga membayangkan bahwa sebentar lagi Aira Prameswari akan menjadi miliknya seutuhnya .
Selesai mandi ia segera mencari keberadaan sang istri , tapi nyatanya ia tidak dapat menemukan siapa pun di dalam ruko . Janu pun sudah tidak ada di atas ranjang padahal ia tahu anak itu sedang tertidur tadi .
Bumi meraih ponselnya siapa tahu Air mengiriminya pesan . Dan benar sang istri mengiriminya sebuah pesan .
' Mas aku ke ruko sebelah , kata Mba Sus Deniel demam tinggi . Sama tolong hubungi dokter Val kesini , nggak biasa biasanya anak itu sakit '
" Ckk ... kenapa harus begini sih ! Susah bener pengen berduaan sama istri sendiri "
Bumi terus saja menggerutu dan ia segera turun untuk menyusul istrinya ke ruko yang bersebelahan dengan toko roti milik istrinya . Dewa dan Deniel sering tidur di ruko itu karena rencananya ruko itu akan ditempati Dewa untuk dijadikan bengkel mobil , walau rencana terpaksa mundur karena Bu Sri belum mengijinkan .
Bumi melihat Deniel terbaring dengan beberapa luka lebam di wajahnya . Tak beda jauh ketika ia habis dipukuli adik iparnya . Sedang Air dan asisten yang biasa membantunya di toko bernama Mba Sus sedang duduk di pinggir ranjang .
Bumi tidak suka ketika wanitanya mengkhawatirkan keadaan pria lain di depan matanya .
" Sayang ... "
" Mas ... demamnya tinggi banget . Dokter Val sudah di hubungi ? "
Bumi diam , dia melihat sinis pria yang sedang tertidur di ranjang dengan kompres yang ada di keningnya . Air yang mengerti kecemburuan suaminya segera bangkit dan mendekat .
" Tadi Mba Sus telepon , dia terdengar sangat panik . Katanya Deniel sakit . Jadi aku bawa Janu kesini biar aku bisa lihat dia . Mba Sus yang kasih kompres ke Deniel karena cuma itu yang dia tahu untuk meredakan demam "
" He em " jawab singkat Bumi yang malah membuat Air tersenyum .
" Mas cemburu ? "
" Nggak !! Aku bukan saingan bocah tengil itu , dia jauh di bawahku "
" Sukur deh kalau Mas nggak cemburu , jadi aku bisa ganti kompresnya Deniel "
" Apa !! "
__ADS_1
" Sssstttt .. Mas pelan pelan ngomongnya , ada orang sakit teriak teriak "
" Siapa yang suruh kamu buat gantiin kompres bocah tengil itu !? "
" Maasss .. " Air menaruh telunjuknya diatas hidungnya sebagai tanda untuk menyuruh suaminya diam .
Tak lama dokter Val sampai juga ke tempat itu . Hari ini dia off jadi tidak mengenakan seragam kehormatannya yang serba putih .
" Siapa yang sakit !? Ganggu waktu gue libur saja sih elo B !! "
" Gue udah bayar mahal elo jadi jangan kebanyakan protes !! Tuh periksa bocah tengil itu , demam aja sampai nyusahin istri gue "
" Hei mbak " Val menyapa Air yang berdiri disamping Bumi .
" Hai juga dokter Vallery "
" Ngomong ngomong Mbak masih betah jadi istrinya dia !? "
Air tertawa mendengarnya , dokter muda itu memang selalu ceplas ceplos jika berbicara .
" Gue nggak ngomong sama elo !! Minggir gue mau periksa dia !! "
Vallery memeriksa suhu tubuh Deniel , mengukur tensi dan memeriksa semua lebam di tubuh Deniel dengan teliti .
" lni habis berantem apa gimana ? Kok lebam lebam gini ... demamnya bukan karena lebam pada tubuhnya . Dia masih kuliah ?? Sepertinya stress nya yang bikin dia demam "
Deniel terbangun ketika merasakan sapuan lembut di dahi dan pipinya . Di pikirannya dia sedang melihat seorang bidadari sedang ada di depannya . Bidadari itu tersenyum padanya sambil mengoles sesuatu di sekitar wajah dan tangannya .
Saat itu Vallery sedang mengoleskan salep pada luka di wajahnya agar tidak terkena infeksi .
" Hai .. kau bangun ? Mbak ... "
" Saya Sus bu Dokter asistennya bu Air sama tuan Deniel "
__ADS_1
" Tolong oleskan ini di semua luka tuan Deniel ya , terus nanti minumkan ibuprofen ini untuk menurunkan demam sekaligus meringankan rasa sakitnya " setelah itu ia bangkit karena merasa sudah menyelesaikan tugasnya .
Vallery terjejut ketika tangan Deniel menarik lembut tangannya .
" Setidaknya selesaikan ini dulu ... baru elo pergi " Deniel melihat salep yang tergeletak di atas nakas .
Walau hatinya menolak tapi entah kenapa Val kembali duduk dan mengambil salep yang tadi sempat ia letakkan di atas nakas .
" Berantem elo ?? " tanya Val pada laki laki yang meringis ketika ia tekan tekan lukanya yang lumayan dalam .
" Dikeroyok "
" Hebat ya ... menang !? "
" Elo niat nanya apa mau mengejek gue sih ? "
Vallery sebenarnya heran pada dirinya sendiri . Dia yang dikenal sebagai gadis yang galak dan dingin dalam waktu sesingkat itu bisa langsung merasa akrab dengan pasiennya yang satu ini .
" Rebutan cewek !? "
" Najis ... yang ada gue di gebukin cowoknya karena ceweknya ngejar ngejar gue "
" Elo player !? "
Deniel tidak menjawab , ia tidak mau lagi membahas masa lalunya .
Malam itu ketika di klub ia mencari cari Varo yang sudah tidak ada lagi di mejanya saat ia kembali . Awalnya ia mengira mungkin Varo pulang karena ia tahu sepupunya itu paling malas jika berada ditempat seperti itu .
Tapi ketika di parkiran ia masih melihat mobil Varo , berkali kali menelpon pun tak diangkat padahal ponsel Varo masih aktif . Ketika ia kembali masuk ke klub seorang wanita cantik yang sempat menjadi pelanggannya menghampirinya .
Tapi tak ada angin tak ada hujan sekelompok laki laki menyeretnya keluar dan memukulinya . Deniel bukan pria lemah , tapi para pengeroyoknya membawa senjata hingga ia kemudian kewalahan .
Ketika sudah terpojok tiba tiba datang lagi seorang pria meminta maaf padanya . Dia bilang terimakasih karena Deniel ia bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya .
__ADS_1
Dan mirisnya Deniel benar benar tidak tahu kisah apa di baliknya , mau minta maaf seperti apapun nyatanya dia sudah babak belur . Pria itu menawarkannya untuk membawa ke rumah sakit terdekat , tapi Deniel gengsi untuk menuruti kemauan pria itu .
la memilih istirahat di ruko , ia pikir paginya ia bisa sembuh . Nyatanya tubuhnya malah terasa lebih sakit dari sebelumnya .