
Pagi itu seperti biasa Varo mengantar istri kecilnya ke kampus . Mereka selalu menjadi pusat perhatian jika tiba di area depan gedung kampus karena mobil mobil mewah yang di kendarai oleh Varo .
Varo memang sangat suka mengkoleksi mobil mobil mewah hingga satu lantai basement di apartemen sudah dia sewa hanya untuk meletakkan koleksinya .
Seperti pagi ini Varo mengendarai mobil Audi hitamnya , banyak mata yang tak henti menatap ke arah mereka .
" Sayang nanti kamu pulang jam berapa ? "
" Paling sekitar jam satu siang , kenapa Mas ? Kalau nggak bisa jemput nggak apa apa kok Erin bisa pulang naik taksi "
" Ya sudah jika begitu , maaf ya ! Aku akan ada meeting jadi mungkin akan pulang terlambat "
" He em , Mas hati hati ya "
Erin kemudian meraih tangan kanan Varo dan ia bawa ke keningnya . Dan Varo membalas dengan sebuah kecupan di kening istrinya . Sebuah kebiasaan kecil yang bisa membuat hati Varo terasa hangat . Setelah itu Erin keluar dari mobil suaminya .
Tapi Varo mengurungkan niatnya untuk segera pergi dari tempat itu ketika ia melihat seorang laki laki muda yang mengendarai motor sport turun dan menuntun motornya hanya demi berjalan bersama Erin .
Harusnya dia tak cemburu karena sudah pasti sang istri akan memiliki banyak teman di lingkungan kampus . Tapi entah kenapa hatinya mendidih melihat pemandangan itu .
Apalagi ketika Erin membalas senyuman pemuda di depannya . Dia tak bisa menerima itu , laki laki itu terlihat sangat mengagumi istrinya . Harusnya sang istri tidak membiarkan laki laki lain menikmati semua itu .
Varo keluar dari mobil dan menyusul langkah sang istri yang masih ada di area parkir kampus .
" Sayaannng !!! "
Langkah Erin dan laki laki muda itu sontak terhenti mendengar teriakan Varo . Laki laki muda itu tampak mengerutkan dahinya ketika melihat Varo menghampiri gadis di sisinya . Panggilan dari laki laki berpakaian formal itu sedikit mengganggu pendengarannya .
" Ya Mas .. " Erin mendekat pada Varo karena mungkin ada hal yang perlu di sampaikan oleh suaminya .
" Mas lupa bilang sama kamu kalau nanti malam kita makan malam sama Mommy . Soalnya besok dia mau menyusul Daddy ke Rusia "
__ADS_1
" lya nanti Erin ke sana bantuin Mom siapin semuanya "
Erin kira setelah berbicara seperti itu Varo akan langsung kembali ke mobilnya . Tapi pria halalnya malah memandangi teman yang ada disampingnya .
" O iya Mas kenalin ini teman Erin namanya Egy , dia satu jurusan sama aku "
" Hai Mas , saya teman Erin .. Egy "
Laki laki muda bernama Egy itu menyalami Varo dengan ramah , tapi tidak halnya dengan Varo dia hanya menatap sinis pemuda itu .
" Ya sudah sayang ... Mas ke kantor dulu "
Varo sengaja menekan kata ' sayang ' agar Egy tau dia adalah orang yang spesial untuk Erin . Varo juga sengaja mengecup sekilas pipi wanitanya sebagai tanda kepemilikannya atas diri Erina .
Egy terlihat terkejut dengan interaksi dua orang di depannya , tapi dia mencoba bersikap biasa saja .
" Apa kau sedang berada dalam kesulitan !? " tanya Egy ketika Varo sudah pergi .
" Wajahmu terlalu polos untuk menjadi wanita seperti itu . Jangan biarkan laki laki itu mengambil keuntungan darimu ! Kau bisa mengandalkan ku jika sedang mengalami kesulitan "
Erin masih tidak terlalu paham dengan arah pembicaraan Egy , dia tidak sadar jika wajahnya yang menggemaskan semakin membuat Egy tidak bisa mengalihkan pandangannya .
" Erin nggak ngerti kamu ngomong apa , kesulitan pelajaran maksud kamu !? "
" Kau tahu ? Sudah lama aku mendengar kasak kusuk teman teman tentang hal ini . Mereka membicarakan tentang semua barang branded yang kau pakai , hampir setiap pagi kau diantar dengan mobil mewah yang berbeda "
" Ini Mama yang beliin , Erin mana punya uang buat beli sendiri . Lagian mana boleh Erin jalan jalan sendiri buat beli ini itu , nggak bakal di ijinin " gerutu Erin yang mengingat semua aturan suaminya yang konyol .
Varo memberinya gold card agar Erin bisa menggunakan untuk semua keperluannya . Tapi Erin sama sekali tidak pernah menyentuhnya . Kartu itu menjadi penghuni setia dompetnya karena setiap pagi Varo juga memberikan beberapa lembar uang untuk sakunya .
Bagi suaminya mungkin jumlah saku yang di berikan padanya sangat kecil tapi baginya yang itu bisa ia tabung untuk keperluan lainnya .
__ADS_1
" Apa setiap malam kau bersamanya ? "
Erin mengangguk dan jawaban itu sedikit membuat kecewa pemuda disampingnya .
" Berapa dia membayarmu !? "
" Ralat ya bukan bayar ... tapi nafkah "
Egy hanya mendengus , ia berpikir ia telah salah menilai Erin . Dari awal brrtemu dia sudah suka dengan sikap Erin yang ramah dan humble . Walau penampilannya mencolok.karena barang barang branded yang sering ia pakai tapi gadis itu tetap saja rendah hati .
Dia tidak menyangka di balik kemewahan itu ada seorang pria dewasa di belakangnya . Yang mungkin memanfaatkan semua kepolosan gadis yang ia suka .
" Jika aku bisa memberimu lebih dari dia , maukah kau milikku !? "
Langkah Erin langsung terhenti , sekarang ia paham kemana arah pembicaraan ini . Sebenarnya ia sangat kesal , ingin sekali ia menampar pemuda di depannya . Tapi hal ini pasti akan jadi pusat perhatian .
" Milikmu ?? Atas dasar apa kau ingin aku menjadi milikmu ? "
" Jika yang kau butuhkan hanya barang barang seperti itu aku masih mampu untuk membelikannya . Aku masih muda , aku pasti bisa melayanimu lebih dari dia !! "
Erin hanya menghela nafasnya menahan emosi yang sudah ada di puncak ubun ubunnya .
" Kau tak akan bisa bisa seperti dia , tak akan pernah ! Dia melakukan segalanya untukku , dia mencintaiku dengan segenap hatinya "
" Cihhh ... bulshit !! Sugar Daddy seperti dia hanya butuh tubuhmu untuk menghangatkan ranjangnya !! "
PLAAKKK ..
" Jangan hina hubungan kami !! Kami sudah di ikat oleh hubungan suci yang disebut pernikahan . Kami menikah sah secara agama dan negara . Dia imamku , dan kau tidak akan pernah bisa menjadi seperti dia . Karena dia satu satunya lelaki dalam hidupku !! Camkan itu !! "
" Dia ... suami ... tidak mungkin !! "
__ADS_1