
" Jal*ng ku bunuh kau !!! "
Luna melihat pria yang tadi mengantarnya sedang menghampiri dua penjaga yang berjaga di depan pintu Terra . Dua orang itu terlihat memucat .
" Ada apa !? "
" Tadi nona Narra meminta ijin pada kami agar bisa menjenguk tuan Terra , kami ijinkan karena dia hanya bilang ingin melihatnya saja . Kami mengijinkan karena Tuan Alex pernah berkata untuk tidak melarang jika nona ingin bertemu dengan calon suaminya "
Salah satu dari penjaga menjawab pertanyaan dari Jake dengan kepala yang tertunduk .
" Tapi tidak jika keadaan Tuan Terra sedang seperti ini . Dia membutuhkan banyak istirahat . Apa kalian bodoh !! "
Luna mendekati mereka , ia ingin segera melihat keadaan laki laki di dalam kamar itu .
" Apa aku bisa masuk ? "
" Tentu saja Dokter "
" Jangan panggil aku seperti itu , tuanmu tidak boleh tahu bahwa aku seorang dokter "
" Maaf saya lupa ... maafkan saya "
Luna melihat pecahan gelas yang bertebaran di lantai , dengan hati hati ia mengumpulkan pecahan itu agar tidak melukai seseorang yang memasuki kamar itu .
Sekilas ia bisa melihat Terra sudah terbangun dari tidurnya . Mata laki laki itu sedang memandang langit langit kamarnya . Setelah selesai ia menghampiri Terra .
" Anda tidak apa apa tuan ?! "
" Apa matamu buta hahh !! Apa kau tidak bisa melihat badanku yang hampir semua di balut kain perban !? "
" Apa anda butuh sesuatu !!? "
Luna sengaja tidak menanggapi kemarahan Terra karena jika ia menanggapi kemarahan Terra malah akan semakin menjadi .
" Pergi !!! "
" Baik , saya permisi "
Luna segera keluar dari kamar itu , sebelum pergi ia berpesan pada dua penjaga yang tadi ditegur oleh Jake .
" Kalian ... jangan pernah memasuki kamar ini apapun yang terjadi . Tugas kalian hanya berjaga ! Kalian tahu kan kalau tuan Alex sudah mengatakan untuk menuruti apapun yang aku minta !? "
__ADS_1
" Baik nona "
Luna hanya ingin Terra tidak selalu keras kepala , ia ingin pria itu tahu jika dia juga membutuhkan orang lain untuk membantunya . Apalagi dengan kondisinya saat ini yang memang tidak bisa bergerak dengan leluasa .
*
Sudah beberapa hari terakhir ini Air tidak pernah lagi pergi ke toko miliknya . Bumi benar benar tidak mengijinkan sang istri pergi kemanapun . Dia khawatir Terra kembali nekad menemuinya lagi .
Walau Alex sudah berjanji akan menjauhkan putranya dari keluarga Adipraja tapi Bumi yakin Terra akan melakukan segala cara untuk membalas dendam padanya .
Dan sejujurnya ia menantikan hal itu , ia menantikan berhadapan satu lawan satu lagi . Jika hal itu terjadi maka Papanya tidak akan punya alasan lagi untuk mencegahnya . Mencegah nya untuk menghancurkan pria gila itu .
" Mas .. "
" Ya sayang "
" Besok Air udah boleh pergi ke toko ya !? "
" Kamu kan masih bisa atur semua dari rumah sayang , Deniel juga sudah handle kafe di Bandung kan !? "
" Kenapa sih Mas ? Air yakin bukan karena Janu deh , Mas sembunyikan sesuatu dari Air ya ? "
" Memang apa yang bisa Mas sembunyikan dari kamu ? "
Air hanya berdecih kesal , ia memang tidak akan bisa melawan kata kata suaminya . Dia berencana akan menelpon Deniel ataupun Varo setelah ini .
Dia ingin salah satu dari mereka menyelidiki kenapa Bumi sangat over protektif padanya selama beberapa waktu terakhir ini . Karena hanya mereka yang bisa dia andalkan .
Dia akan lebih tenang jika tahu masalah apa sebenarnya yang telah terjadi . Dia melihat Bumi mengangkat panggilan ponselnya . Sepertinya sang suami sedang berbicara dengan papanya .
Mungkin papa Alfian sedang menanyakan sesuatu tentang Janu karena saat ini Janu sedang dibawa oleh kakek neneknya untuk berkunjung di salah satu rumah kerabat mereka .
" Yank , ini papa lagi nanya Dede boleh makan jelly buah nggak !? "
" Jangan dulu deh Mas , jelly biasanya susah di kunyah . Mending di kasih puding atau agar agar saja kalau ada . Kan Dede bisa ngunyah itu "
" Ok ... "
Air berjalan ke kamar mandi dengan menanggalkan satu demi satu pakaiannya , ia sengaja melakukan itu dengan slow motion agar sang suami memperhatikannya . Tentu saja ada tujuan kenapa ia melakukan semua itu .
Benar saja , Bumi langsung menutup teleponnya ketika melihat semua itu . Dia sangat sulit menelan salivanya ketika tubuh polos seputih marmer terpampang di hadapannya .
__ADS_1
" Sayang ... "
Tubuhnya menegang ketika sang istri menurunkan satu satunya penghalang yang masih ada di area bawahnya . Bumi melihat tubuh Air yang membungkuk agar bisa melepas kain segitiga itu dari kakinya .
Dan terpampang jelas area berumput dimana sarang tongkat saktinya berada . Bumi bangkit dan membuka kaos rumahannya . Sepertinya suhu tubuhnya memang sudah meningkat karena ulah istrinya .
Tapi ketika ia ingin melangkah mendekat ternyata Air sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam . Bumi bergegas mengetuk pintunya .
" Sayang buka dong pintunya , kok dikunci sih ?? Mas kan juga lagi gerah pengen mandi juga "
" Nggak !! Air lagi pengen berendam , Mas mandi di bawah saja !! " sahut Air dari dalam kamar mandi .
Sebenarnya ia sedang menahan tawanya , ia tahu sang suami pasti sudah kelimpungan melihat ulahnya tadi . Bumi memang semesum itu , dia akan selalu tergoda jika melihat tubuh istrinya .
" Sayang please ... Mas ikut mandi di dalam ya " Bumi masih berusaha membujuk istrinya .
" Dengan satu syarat "
" Apa sayang ? Angka lima yang nol nya banyak ??! "
" Bukan itu !! Besok ijinin Air ke toko , satu hari saja "
" Tapi sayang ... "
" Air nggak maksa , kalau nggak boleh ya udah !! Sana gih Mas pergi dulu !! Air mau mandi dulu ... "
Hening .. Air tahu pasti sang suami sedang berpikir dan ia tahu pasti jawaban apa yang nanti akan di katakan suaminya .
" Ya sudah untuk satu hari saja , tapi di antar sama Mas ya !! Sekarang buka pintunya sayang ... Mas udah gerah banget ini !! "
" Janji dulu !! "
" Mas janji ... udah cepetan buka pintunya sayang "
Dan mata Bumi berbinar saat Air sudah membuka pintunya , dia segera menerobos masuk dan membawa tubuh polos istrinya ke dalam bath up yang belum terisi air .
" Massss ... "
Air hanya pasrah , dia membiarkan sang suami puas menjamahnya karena tak bisa di pungkiri ia pun sangat menikmati setiap sentuhan suaminya .
~ Sampai nanti siang lagi ya ... emak selipkan cerita cerita dari tokoh pendukung karena emak pengen ceritanya tuntas . Tidak ada kisah salah satu tokoh yang menggantung . Tapi tetap saja tokoh utama menjadi prioritas emak . Mungkin kurang sempurna dalam merangkai setiap katanya , tapi emak juga masih terus belajar . Terus dampingi emak ya ... bantu emak terus belajar ! Jangan lupa goyang jempol dan kembang kopinya untuk sajen emak 😘😘😘 lope U all 😘😘😘 ~
__ADS_1