Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
119


__ADS_3

" Dewa .. kapan kamu kesini sama ibu ? Harusnya kamu ngabarin Mas biar bisa aku jemput . Kasihan ibu malam malam begini diangin anginkan sama kamu naik motor " Bumi dikejutkan dengan kedatangan ibu mertua dan adik iparnya .


" Yah kalau cuma angin udah nggak mempan sama kita Mas !! Yang ada angin takut sama kita . Kita udah dari siang di sini Mas ! " jawab Dewa yang langsung membuat tawa kakak iparnya itu .


Bumi tersenyum ketika sang istri menghampiri dan meraih tangannya untuk di bawa ke keningnya .


" Lho kok Mas udah ganti baju , Mas pulang ke apartemen dulu ya ?! "


" He em tadi Mas gerah banget sayang . Janu mana ? "


" Tadi di bawa Papa ke kamar , tidur disana kayanya soalnya dari tadi nggak turun turun . Mama sama ibu lagi bikin ayam panggang kesukaan Mas di dapur "


" Ooooo ... nanti kalau udah siap bilang ya ! Aku mau ajak Dewa ke garasi sebentar . Yuk Wa !."


" Ke garasi mau ngapain Mas !? " tanya Dewa sambil mengikuti langkah kakak iparnya menuju ke samping rumah .


" Ya liat mobil lahh , masa mau beli bakso "


" Ckk Dewa nanya serius ini Mas "

__ADS_1


" Lha memang kita mau lihat mobil . Mas mau modifikasi mobil yang udah lama , ketimbang nganggur di garasi . Kamu di beliin sama Mas nggak mau ! "


" Dewa tipe laki laki setia Mas , Dewa udah cinta banget sama motor yang itu . Tak akan terganti walau Mas iming imingin mobil "


Dewa terkekeh mendengar celotehan adik iparnya . Walaupun sudah pernah di bikin bonyok tapi Dewa sangat menghargai adik iparnya .


Bersama Dewa dia merasakan seperti mempunyai adik laki laki . Sifatnya yang supel dan rendah hati membuat Bumi nyaman jika mengobrol dengan adik iparnya itu .


Sementara di dapur dua wanita parubaya yang masih saja cantik sedang menyiapkan makan malam bersama sama . Mereka terlihat sangat akrab bahkan obrolan mereka sering di bumbui tawa renyah .


" Janu sudah semakin besar Mbak , kemarin aku bilang sama Aira biar bisa program anak lagi . Biar rumah ini tambah rame gitu ! " kata Rita pada besannya yang sedang membolak balik ayam panggangnya agar tidak gosong .


" Ya mana bisa Mbak , kan tadi bisa lihat sendiri dari tadi pagi dia sudah dimonopoli sama kakeknya . Malah udah di umpetin di kamar Janunya "


" Nduk ( sebutan untuk anak perempuan di Jawa ) .... puding mangganya udah di taruh di lemari pendingin belum ? Biar nanti seger kalau dimakan habis makan malam "


" Papa sama Mas Bumi nggak suka makanan atau minuman dingin Bu , jadi cuma aku masukin sebagian saja nanti buat Dewa "


" Lhahh Embak lupa ? Masa es makan es ... " kata Rita yang langsung membuat tertawa dua wanita disampingnya .

__ADS_1


Ketika semua siap Air dengan segera memanggil suami dan adiknya di garasi . Tampak dua pria itu masih asyik dengan mobil di depannya .


Tapi matanya kemudian terpaku pada suatu benda yang berada di lantai tepat dibawah mobil yang tadi dipakai suaminya . Dan ada beberapa lembar tisu dengan warna merah di sisi benda itu .


" Mas ... "


" lya sayang , udah siap makan malamnya ? "


Air tak menjawab , dia masih tertegun dengan benda yang ia lihat di ujung sana . Dewa yang melihat keterkejutan kakaknya segera mendekatinya .


" Ada apa Mbak !? "


Dewa pun tak kalah terkejut dari kakaknya , dia tahu benar benda apa yang sedang dilihat kakaknya . Dewa mendekati benda itu untuk memastikan dugaannya .


" Darah ... " lirih Dewa yang mencium bau anyir tissu yang berwarna itu . Dia juga mengambil sebuah pistol yang tergeletak di lantai . Semula dia kira benda itu hanya pemantik api berbentuk pistol tapi nyatanya yang ada di tangannya adalah benar benar sebuah senjata api .


Dewa membawanya ke dua benda itu kehadapan Bumi .


" Ini benar punya Mas !? "

__ADS_1


__ADS_2