Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
20


__ADS_3

Bumi yang memang sedang terburu buru segera turun dari mobil , ia bergegas untuk menemui kliennya . Waktunya sedikit terpangkas ketika tadi menolong Air yang hampir tertabrak mobilnya .


Bumi tidak memperhatikan jika Air masih berada di dalam mobil . Tadi dia sudah menyuruh wanita itu turun untuk mengikutinya . Tidak mungkin ia membiarkan Air dan Janu berada di luar kepanasan sedang dia berada di dalam resort .


" Bapak Bumi ? Ternyata anda masih sangat muda . Saya suka dengan pemuda pemuda tangguh seperti anda " ucap kliennya yang merupakan tokoh yang lumayan ternama .


Pertemuan tersebut sebenarnya bukan pertemuan formal karena kliennya hanya ingin bertemu dan mengenalnya . Sang klien ingin tahu dengan siapa ia bekerja sama .


" Anda kehilangan sesuatu !? "


Sang klien bertanya karena sepertinya Bumi sedang gelisah mencari sesuatu .


" Tidak tapi saya tadi mengajak seseorang kesini . Maaf Pak saya akan mencarinya sebentar ke depan "


Bumi berlari kembali ke area parkir resort tapi mobilnya sudah tidak kelihatan . Ketika ia mencoba menelpon supir ternyata sinyal disana sedikit susah . Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dalam karena tidak enak jika meninggalkan kliennya dalam waktu yang lama .


Mereka membatalkan rencana makan siang karena sang klien ada suatu kepentingan yang mengharuskannya pergi saat itu juga . Setelah mengantar kliennya Bumi segera menelpon supirnya .


" Pak apa dia masih bersamamu ? "


Bumi memijit pelipisnya setelah menutup telponnya . Supir itu bilang jika Air sempat membeli makanan di minimarket terdekat . Hari sudah menjelang sore wajar jika Air merasa lapar .


Tadi niatnya Bumi ingin mengajak Air ke dalam dan makan siang bersamanya . Tapi ternyata wanita itu malah ada di luar resort .


Bumi dapat melihat dari kejauhan Air sedang mengipasi putranya yang tidur di sebuah gazebo . Ada sudut hatinya yang terasa diremat ketika melihat Air dan Janu di sana , tapi juga ada kagum di hatinya melihat betapa tegarnya seorang Air . Betapapun ia memperlihatkan kebenciannya tapi wanita itu selalu menghadapi dirinya dengan kelembutan .


" Pak panggil mereka sekarang , kita pulang "


Sang supir dengan segera memanggil Air yang sudah terkantuk-kantuk di dalam gazebo .

__ADS_1


" Bu ... kata Bapak kita pulang sekarang " kata sang supir dengan sopan .


" Eh .. iya pak , Bapak sudah selesai ? "


" Sudah Bu "


Air menggendong putranya dan berjalan menuju mobil . Dia bisa melihat Bumi sudah berada di jok belakang , dengan wajah masamnya .


Air membuka pintu depan , niatnya ingin duduk disamping sang supir . Juga agar Bumi lebih leluasa bergerak di belakang sana . Air tahu Bumi tidak akan sudi tersentuh olehnya .


" Siapa yang menyuruhmu duduk di depan !!!!!!!? "


Tanpa menjawab apapun Air kemudian membuka pintu belakang dan duduk berdampingan dengan Bumi . Dia terlalu lelah bahkan untuk sekedar menggerutu .


Beberapa menit setelah mobil melaju Air mulai di landa kantuk . Tadi pagi pagi sekali ia harus membuat banyak kue untuk sampel , dan seharian ini dia menunggu Bumi meeting dengan kliennya .


Dalam mimpinya Air merasa sedang tidur di kasur empuk yang membuatnya nyaman . Dia semakin membenamkan kepalanya pada bantal empuk dalam mimpinya .


Bumi yang terkejut ada sesuatu yang jatuh di bahunya segera menoleh . Dilihatnya dengan mata terpejam wanita disampingnya sedang mencari kenyamanan di bahunya. Bumi terpaku ketika bisa melihat wajah ayu itu dengan begitu dekat .


Alis mata hitam yang tebal alami , bulu mata yang lentik , hidung yang mancung dan bibir yang .... sangat menggairahkan !! Bibir yang sedikit terbuka itu seakan menanti untuk dijamah .


Bumi menggelengkan kepala agar pikiran kotornya segera pergi dari otaknya . Dan yang membuat dia heran adalah dia nyaman ketika wanita yang sangat di bencinya itu tidur di bahunya . Ada sebuah ketenangan ketika berada di sisi wanita itu .


Bumi melihat Janu membuka matanya , anak itu tidak menangis mungkin tahu jika ibunya sedang lelah . Bumi tersenyum ketika Janu mengulurkan tangannya , tanda jika anak itu ingin bersamanya .


Pelan pelan Bumi mengambil Janu dari kain gendongan yang memang dipasang tidak terlalu kencang agar membuat Janu nyaman tidur di pelukan ibunya .


Janu mempermainkan dasi yang sedang dipakai oleh Bumi . Kadang tangan kecil itu malah memencet hidung dan mulut Bumi dan ketika Bumi membalas dengan menggigit lembut tangannya Janu malah tertawa terpingkal pingkal .

__ADS_1


" Papahh ... papahh " oceh Janu dengan tangan meraba mata Bumi .


DEGGHH ... DEGGHH


Jantung Bumi bertalu dengan kencang ketika mendengar Janu berceloteh , dia seakan mendengar Janu menyebutnya dengan panggilan papa .


Mata bening anak itu mengingatkannya pada sorot mata kakaknya . Ada sesal di hati Bumi ketika sadar ia sempat membenci bayi tampan di pangkuannya .


Bumi membiarkan Air tetap tidur di bahunya sampai mereka sampai ke apartemen . Bahunya sampai terasa kebas karena menahan beban lumayan lama .


" Heiii .. bangun !! "


Air yang mendengar Bumi berteriak segera terbangun , ia belum menyadari jika dirinya tadi tertidur di bahu Bumi .


" Kita sudah sampai ? " dahinya berkerut ketika melihat putranya sedang berada dipangkuan Bumi . Tadi sepertinya Janu ada dalam lain gendongan yang masih melingkar di pundaknya .


" Tentu saja sudah , kau tidak tahu karena tidurmu sudah seperti orang mati " ketus Bumi , ia kembali pada mode juteknya .


" Tidur ??? "


Air segera meraih tubuh gembul putranya , tapi sepertinya Janu masih asyik bermain dengan dasi dan jas yang dipakai oleh Bumi . Janu merengek ingin menangis tapi untungnya Air berhasil menenangkannya .


" Papahhh ... papahhh "


Air terlonjak mendengar celotehan putranya , dengan sedikit paksa ia meraih tubuh Janu dan keluar dari mobil .


" Maaf ... Janu tidak bermaksud apa apa kok Mas "


Bumi tidak menjawab apapun , dia terus melangkahkan kakinya menuju ke apartemennya . Tanpa Air sadari jika sudut bibir suaminya sedikit terangkat .

__ADS_1


__ADS_2