Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
48


__ADS_3

" Sayaaaanngg ... pelan "


" lni juga udah pelan ... "


" Tapi ini ... euugghh ... sayaaaanngg "


Air malah lebih semangat menekan ketika mendengar sang suami merengek .


" Makanya nurut ! Udah dibilang harus istirahat malah banyak tingkah "


Bumi pasrah mendengar semuanya , nyatanya ia yang salah karena sudah memaksakan diri menyentuh istrinya dalam keadaan sakit .


" Iyaaaa ... aarrgghhh " pekik Bumi dengan kedua tangan meremas bantal di bawahnya karena merasakan sensasi yang baru sekali ini dia rasakan .


Setelah tadi sempat muntah di kamar mandi , Air mengerok suaminya karena Air merasa suaminya masuk angin . Dari dulu ia jarang makan obat jika sedang masuk angin .


Ibunya pasti akan mengeroknya , setelah itu minum susu jahe untuk penghangat badan . Dan biasanya ia akan sembuh setelahnya . Dan ia pun kini mencoba teknik itu kepada suaminya .


Mungkin karena baru pertama kalinya di kerok membuat Bumi kadang meringis menahan sakit .


Setelah selesai mengerok Air membantu Bumi duduk untuk kemudian meminum susu jahe yang ia buat tadi . Walau sempat menolak karena sensasi rasa pedasnya tapi akhirnya Bumi menghabiskan lebih dari separuh isi gelasnya .


" Sekarang Mas istirahat lagi , Air temenin disini " Air duduk di ranjang dengan mengelus lengan suaminya .

__ADS_1


" He em " karena merasa badannya lebih baik Bumi akhirnya bisa tertidur dengan pulas . Kedua tangannya melingkar di perut Air , takut jika saat terbangun nanti Air sudah tidak ada di sisinya .


Bumi merasa hatinya menghangat ketika dengan penuh kesabaran sang istri merawatnya . Dia ingin selamanya seperti ini , Bumi ingin Air yang selalu disisinya dalam keadaan apapun . Saat bahagia ataupun saat seperti ini .


*


Sementara Varo malam ini terpaksa menuruti permintaan Deniel untuk menemani sepupunya itu pergi ke sebuah klub malam . Deniel meminta Varo karena hanya pria itu yang bisa mencegahnya untuk berbuat hal hal gila seperti dulu lagi .


Belum banyak yang tahu jika ia sudah tidak lagi bekerja seperti dulu lagi . Tapi Deniel tahu penyakit ' gilanya ' belum seratus persen sembuh , ia khawatir akan kembali tergoda jika ada yang merayunya ataupun nekat menyentuhnya seperti dulu .


" Tau belum sembuh kenapa kesini sih "


" Ya kalau aku pulang dari sini dengan keadaan utuh berarti aku sudah lulus ujian jadi papanya Janu " jawab Deniel sekenanya .


Seorang waiter menghampiri mereka dengan menyodorkan dua minuman kepada mereka . Mereka tak segera meminumnya karena masih asyik mengobrol .


" Lhohh siapa yang bilang kalau aku masih berharap mendapatkannya ? Aku tadi hanya bilang kalau aku ingin jadi papanya Janu , bocah itu selalu membuatku gemas ingin menggigit pipinya "


" Belum setetes pun kita minum tapi otakmu sudah geser duluan . Jjika kau menjadi papanya Janu otomatis kau akan menjadi suami Air "


" Tapi aku hanya ingin jadi papanya Janu ... bukan suaminya Air "


" Ckk what ever !! Terseraaahhh ... "

__ADS_1


Deniel kemudian menenggak habis tak bersisa minuman yang ada di depannya . Seseorang di sudut ruangan tersenyum puas melihat laki laki muda itu sudah menghabiskan minumannya .


" Turun yuk , lama nih nggak lemesin badan " ajak Deniel pada Varo untuk berjingkrak bersama para gadis cantik mengikuti irama yang sedang DJ mainkan .


" Ogah , elo aja sono "


Akhirnya Deniel turun sendiri meninggalkan Varo yang saat ini menikmati minumannya . Tak lama setelah menikmati minumannya kepalanya merasa sedikit pusing , mungkin efek karena ia tidak terbiasa minum minuman beralkohol sebelumnya .


Deniel memutuskan untuk kembali ke apartemennya untuk beristirahat . Varo berpikir mungkin ia pusing karena kecapean saja .


Dengan langkah terhuyung dia mulai melangkah keluar dari hingar bingar klub itu . Tapi seorang waiter tampak menghampirinya . Waiter yang sama yang mengantarkan minuman kepadanya tadi .


" Mari saya antarkan Bapak untuk beristirahat , Bapak terlihat kurang sehat " tawarnya .


Dan entah kenapa mendengar kata ' istirahat ' Varo langsung mengangguk menyetujuinya . Varo merasa terlalu lemas untuk berjalan di hingar bingar klub yang sangat ramai ini .


Sang waiter membimbing langkahnya menuju kamar yang ada di lantai atas klub itu . Di depan sebuah kamar sang waiter menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat secarik kertas berisi nomor kamar .


" Lahh .. ini nomer berapa ya ? Ini angka enam atau sembilan ya ? Tadi wanita itu cuma ngasih ini terus pergi . Kalau salah gimana ya ! Tapi bodo amatlah ... salah sendiri langsung pergi . Yang penting aku udah dapat yang tip yang lumayan " gumam sang waiter yang kebingungan membaca angka di kertas yang ada ditangannya .


Sang waiter membantu membuka kamar nomor sembilan yang ternyata memang tidak terkunci . Varo langsung masuk ke dalam kamar karena ingin segera merebahkan tubuhnya .


Tapi tiba tiba otaknya menjadi panas ketika melihat seorang wanita berbaring dengan hanya menggunakan lingerie transparan warna hitam . Entah kenapa ia menjadi ingin sekali menyentuh setiap inchi tubuh sintal itu .

__ADS_1


Varo mendekat dan mulai menyentuh wajah cantik yang terlihat sayu menatapnya .


" Kau cantik ... "


__ADS_2