
" Dewa ... " Astika seperti sedang bermimpi melihat pria muda yang akhir akhir ini mengganggu mimpinya . Pada pria itu dia bisa berkeluh kesah .
Pria muda itu sedang duduk di atas karpet dan bersandar pada sofa tempat dia merebahkan tubuhnya . Kepalanya sengaja ia sandarkan di atas pundak pria muda itu . Dan lirih ia berkata ..
" Tetaplah disini , jangan tinggalkan aku .. "
" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu , tapi kita tak bisa tetap disini . Lama lama aku dan dia bisa baku hantam untuk memperebutkan cintamu "
" Hahh .... "
Astika seperti terbangun dari mimpinya , ia bisa melihat dua laki laki di depannya saling melempar senyum . Dia baru sadar jika tadi dia datang ke apartemen Reyhan . Dia memaksakan diri untuk bangun dan merasa pusing secara tiba tiba .
" Hei .. hei .. pelan , tidak perlu terburu buru sayang " Reyhan terlihat panik melihat Astika yang mengeluh pusing .
Ekspresi Dewa hanya datar melihat interaksi antara Reyhan yang sangat terlihat masih mencintai Astika .
" Maaf , aku tidak bermaksud apa apa . Aku terbiasa memanggilnya seperti itu . Kami sekarang hanya berteman baik tidak lebih " Reyhan yang menyadari kesalahannya berusaha menjelaskan pada Dewa .
" Jangan mencoba untuk menjelaskan apa apa padaku , tidak apa apa ! Nyatanya kau lebih mengenal dia daripada aku " kata Dewa dengan menepuk pelan pundak Reyhan .
" Bawa aku pulang ... "
Dan lagi lagi dua laki laki itu sama sama bangkit , tentu saja mereka ingin mengantar pulang Astika . Tapi Reyhan duduk kembali ketika kembali mengingat posisinya . Dia hanya seorang ' mantan ' , pria muda di depannya yang sekarang lebih berhak pada wanita yang ia cintai .
" Aku yang akan mengantarkan dia pulang .. "
" Silahkan , jangan bangunkan dia jika tertidur lagi di dalam mobil . Tunggulah sebentar ! Dia pasti akan bangun dengan sendirinya ketika mobil berhenti "
Adam hanya mengangguk dan menggandeng tangan Astika berjalan menuju pintu apartemen Reyhan .
Sampai di mobil Dewa mengatur kursi agar Astika dapat nyaman beristirahat . Dan Reyhan ternyata benar Astika kembali tertidur di mobilnya , Dewa pun sengaja tidak membangunkan gadis itu setelah sampai di basement apartemen .
" Kau sudah bangun ?? "
Astika terlihat membuka mata tak lama setelah mereka sampai .
" Maaf jika kau lama menunggu . Kenapa tidak membangunkan aku ? "
__ADS_1
" Dia bilang kau akan kembali pusing jika aku bangunkan tiba tiba . Kau masih lemah "
Sepertinya keduanya memang tidak berniat keluar dari mobil karena nyatanya tak satupun dari mereka membuka pintu untuk keluar . Dan suara Astika akhirnya memecah keheningan itu .
" D .... "
" Hemm ... "
" Apa kau tidak cemburu pada Reyhan !? "
" Sangat !! "
Jawaban yang singkat tapi membuat senyum lebar di wajah ayu itu , dia bertanya seperti itu karena diapun bisa melihat bahwa Reyhan masih sangat mencintainya .
" Kami punya masa lalu yang mungkin membuat kami terlihat dekat "
" Bukan cuma ' terlihat ' ... tapi kalian memang sedekat itu "
" Apa kau akan mundur ?! "
Astika meraih tangan Dewa dan menggenggamnya erat .
" Apapun yang terjadi tetaplah yakin padaku , pada hubungan kita . Bantu aku untuk melupakan dia sepenuhnya "
" Aku antar kau ke atas , kau harus banyak istirahat . Jangan berpikir macam macam "
" Aku tidak sakit D ! "
Setelah mengantarkan Astika sampai ke unit apartemen Dewa segera kembali di mobilnya , dia mengambil ponsel dan menelpon seseorang .
" Aku ingin bicara padamu Rey , kita bertemu di taman depan apartemenmu "
*
" Dewa mana Mas , aku bawa makan siang banyak buat kalian "
" Makasih sayang "
__ADS_1
Adam meletakkan berkas yang baru saja ingin dia baca dsn berjalan menghampiri istrinya yang siang itu membawa makanan ke kantornya .
" Dewa lagi ada urusan di luar "
" Oooo ... "
Adam memang sengaja belum menceritakan masalah Dewa pada istrinya karena belakangan ini mood istrinya seperti roller coaster yang turun naik tak tentu .
" Kangen ... "
Adam memeluk posesif istrinya yang baru saja menata rantang rantang itu di meja .
" Ini di kantor Mas , Ada Nindy di luar "
" lni jam makan siang sayang , dia pasti sedang keluar makan bersama teman temannya . Hanya kita berdua disini ... "
Adam mulai mengendus tengkuk dan leher sang istri yang siang ini mengenakan baju model sabrina berwarna terang .
" Tunggu dulu ... aku punya kejutan buat Mas , tapi aku tidak tahu ini akan membuat senang Mas atau tidak ! Aku juga baru tahu tadi pagi . Aku ambil dulu di tas "
" Aku sedang membuka kejutanmu sayang , dan aku selalu menyukainya "
Adam meloloskan kain segitiga penghalang area bawah sang istri .
" Mas !! Bukan ini kejutannya "
Diva mencubit lengan sang suami yang sedang membuka celananya sendiri dan kemudian duduk memangkunya .
" Kita selesaikan kejutan yang ini dulu sayang , Mas kangen banget lagi " lirih Adam dengan meremat pelan dua bukit yang sudah ada di depannya .
Mau tak mau Diva mulai terpancing untuk mengikuti alurnya , dia mulai mengeluarkan suara suara indahnya ketika bibir sang suami meraih apapun yang bisa ia raih .
" Maaasss .... pelan pelan ya . Dulu dokter pernah bilang trisemester pertama tidak boleh terlalu bersemangat " kata Diva memperingatkan suaminya .
Adam mulai memposisikan ularnya agar bisa bersarang kembali di sarang kesukaannya . Tapi tiba tiba ia kemudian berhenti dan menatap ke arah istrinya .
" Tadi kamu bicara apa sayang !?"
__ADS_1