
Bumi terbangun dari tidurnya karena pagi ini dia kembali mencium bau wangi dari arah dapurnya . Bau yang sama seperti kemarin pagi . Karena penasaran Bumi turun melangkah menuju dapurnya .
Benar saja , disana Air sudah sibuk membuat kue kue lagi . Bumi tak habis pikir , apakah wanita itu kurang kerjaan hingga tiap pagi menghabiskan waktu dan tenaganya untuk membuat kue sebanyak itu . Padahal kakinya masih belum sembuh benar .
Bumi kembali ke kamarnya sebelum Air memergoki sedang memperhatikannya . Ketika akan membersihkan diri ke kamar mandi dia mendengar notif pesan dari ponselnya .
Ada kiriman foto dari Jerry , semalam dia memang meminta Jerry mengirimkan gambar Deniel . la ingin tahu seberapa menariknya seorang Deniel hingga Air mau berhubungan dengannya .
Jerry. : nih doi , pantesan jadi idola Tante Tante . Lebih gantengan dia daripada elo .
" Sialan emang elo Jer . Modelan kaya gini elo bilang ganteng " batin Bumi merutuki sahabatnya .
Laki laki di foto itu memang lebih muda darinya , tapi jika dilihat lihat dari penampilannya Deniel bukan laki laki miskin seperti yang ia bayangkan .
Setelah selesai membersihkan diri Bumi turun untuk segera berangkat ke kantor .
" Mas ngga ngopi dulu ? " suara Air menghentikan langkahnya .
Sebenarnya ia ingin sekali mengabaikan kata kata Air , tapi matanya terpaku melihat segelas kopi hitam dan seiris cheese cake kukus yang dari aromanya sangat menggoda selera .
" Air bikin kue brownies kukus juga jika Mas mau '"
Akhirnya pertahanannya melemah , gengsinya kalah dengan suara cacing diperutnya .
" Ckk ... baik jika kau memaksa . Cuma sekali ini saja . Lagian kue seperti buatanmu pasti tidak enak "
Air tak mau ambil pusing , mulai terbiasa dengan kata kata pedas suaminya . Tapi ia tersenyum ketika Bumi menghabiskan kopi dan dua potong cheese cake buatannya .
__ADS_1
" Biasa saja ... tidak enak !!! "
Air tertawa kecil mendengar cibiran Bumi , suaminya bahkan sudah menyambar kotak bekal yang tadi dia siapkan . Berisi beberapa kue brownies dan kue risole kentang .
" Ya Tuhan laki laki itu , kadang menakutkan seperti monster tapi kadang lucunya melebihi Janu " gumam Air dengan menggelengkan kepalanya .
Setelah menyelesaikan kue kuenya Air segera mengantarkannya ke supermarket milik Varo . Kebetulan Varo sedang ada di luar kota untuk mengecek sesuatu jadi Air menyerahkan kue kuenya pada manager sesuai perintah dari Varo .
" Hai ... "
Air menoleh ketika ada seseorang menyapanya . Laki laki yang kemarin sempat bertemu dengannya kemarin , Varo bilang dia adalah sepupunya . Tapi Air tidak ingat namanya .
" Hai .. " Air menjawab sapaan itu dengan sopan .
" Hai jagoan apa kabarmu ? " Deniel menyapa Janu seolah bayi itu dapat memahami kata katanya .
" Ya aku tahu . Kemarin dia sempat bilang padaku "
" Kue kuemu enak ! Kenapa tidak buka toko roti atau kafe saja ?! " tanya Deniel , ia mencoba untuk lebih dekat dengan wanita yang berhasil membuat otaknya geser dari tempatnya itu .
" Bukan hal mudah untuk semua itu , khususnya untukku . Kita lihat saja nanti "
Air tersenyum.dan melangkah pergi meninggalkan Deniel .
" Apa yang susah !? Aku punya tempat ditengah kota jika kau ingin menyewanya untuk membuka tokomu . Untuk modal kau bisa mengajukan pinjaman padaku ! Aku bekerja di sebuah bank swasta "
Untuk hal pertama memang benar adanya , ia punya ruko ditengah kota yang sudah kosong . Tapi untuk hal kedua ia terpaksa berbohong . Air tidak akan mau jika ia bilang ia yang akan membiayai usaha baru itu .
Air menghentikan langkahnya , sepertinya ia tertarik dengan tawaran Deniel . Jika usahanya berkembang maka ia bisa memenuhi kebutuhannya dan Janu . Lagipula ia bisa tinggal di toko itu karena ia yakin Bumi tak akan mengijinkannya tinggal di apartemen dalam waktu yang lama .
__ADS_1
Deniel tersenyum menang ketika Air mendekatinya kembali .
" Tapi aku tidak punya agunan jika mengajukan pinjaman . Ehmm .. aku tidak punya apa apa "
" Tapi aku percaya padamu ... kurasa itu udah cukup "
" Tapi aku belum pernah membuat usaha sebesar itu . Biasanya kue kue itu hanya aku titipkan di warung warung kecil "
" Aku bantu ... aku cukup pintar jika hanya untuk urusan kafe atau toko roti "
" Kenapa kau membantuku ? "
" Karena aku su ... aku suka padanya " mata Deniel mengarah pada Janu yang sekarang sedang mengoceh dan tertawa melihatnya .
" Janu !? "
" Ya , dia pria paling tampan yang pernah aku temui " jawab Deniel dengan tertawa .
" Pulanglah dulu sekarang , kalian terlihat sangat lelah . Besok kita bertemu di kafe depan untuk membicarakan rencana anggaran toko barumu . Bukankah lebih cepat lebih baik ?! "
" Terimakasih ... "
" Deniel ... namaku Deniel Brown "
" Terimakasih Deniel "
" Sama sama sayang ... Hei kenapa wajahmu begitu ? Aku sedang berbicara pada pria tampan itu " goda Deniel .
Air melangkah pergi dengan hati yang sangat bahagia . Akhirnya ia bisa membuat usaha sendiri yang hasilnya tentu bisa ia gunakan untuk masa depan Janu . Dia merasa beruntung karena banyak orang yang menyayangi dirinya dan putranya .
__ADS_1