Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
22


__ADS_3

Bumi terbangun dari tidurnya karena pagi ini dia kembali mencium bau wangi dari arah dapurnya . Bau yang sama seperti kemarin pagi . Karena penasaran Bumi turun melangkah menuju dapurnya .


Benar saja , disana Air sudah sibuk membuat kue kue lagi . Bumi tak habis pikir , apakah wanita itu kurang kerjaan hingga tiap pagi menghabiskan waktu dan tenaganya untuk membuat kue sebanyak itu . Padahal kakinya masih belum sembuh benar .


Bumi kembali ke kamarnya sebelum Air memergoki sedang memperhatikannya . Ketika akan membersihkan diri ke kamar mandi dia mendengar notif pesan dari ponselnya .


Ada kiriman foto dari Jerry , semalam dia memang meminta Jerry mengirimkan gambar Deniel . la ingin tahu seberapa menariknya seorang Deniel hingga Air mau berhubungan dengannya .


Jerry. : nih doi , pantesan jadi idola Tante Tante . Lebih gantengan dia daripada elo .



" Sialan emang elo Jer . Modelan kaya gini elo bilang ganteng " batin Bumi merutuki sahabatnya .


Laki laki di foto itu memang lebih muda darinya , tapi jika dilihat lihat dari penampilannya Deniel bukan laki laki miskin seperti yang ia bayangkan .


Setelah selesai membersihkan diri Bumi turun untuk segera berangkat ke kantor .


" Mas ngga ngopi dulu ? " suara Air menghentikan langkahnya .


Sebenarnya ia ingin sekali mengabaikan kata kata Air , tapi matanya terpaku melihat segelas kopi hitam dan seiris cheese cake kukus yang dari aromanya sangat menggoda selera .


" Air bikin kue brownies kukus juga jika Mas mau '"


Akhirnya pertahanannya melemah , gengsinya kalah dengan suara cacing diperutnya .


" Ckk ... baik jika kau memaksa . Cuma sekali ini saja . Lagian kue seperti buatanmu pasti tidak enak "


Air tak mau ambil pusing , mulai terbiasa dengan kata kata pedas suaminya . Tapi ia tersenyum ketika Bumi menghabiskan kopi dan dua potong cheese cake buatannya .

__ADS_1


" Biasa saja ... tidak enak !!! "


Air tertawa kecil mendengar cibiran Bumi , suaminya bahkan sudah menyambar kotak bekal yang tadi dia siapkan . Berisi beberapa kue brownies dan kue risole kentang .


" Ya Tuhan laki laki itu , kadang menakutkan seperti monster tapi kadang lucunya melebihi Janu " gumam Air dengan menggelengkan kepalanya .


Setelah menyelesaikan kue kuenya Air segera mengantarkannya ke supermarket milik Varo . Kebetulan Varo sedang ada di luar kota untuk mengecek sesuatu jadi Air menyerahkan kue kuenya pada manager sesuai perintah dari Varo .


" Hai ... "


Air menoleh ketika ada seseorang menyapanya . Laki laki yang kemarin sempat bertemu dengannya kemarin , Varo bilang dia adalah sepupunya . Tapi Air tidak ingat namanya .


" Hai .. " Air menjawab sapaan itu dengan sopan .


" Hai jagoan apa kabarmu ? " Deniel menyapa Janu seolah bayi itu dapat memahami kata katanya .


" Ya aku tahu . Kemarin dia sempat bilang padaku "


" Kue kuemu enak ! Kenapa tidak buka toko roti atau kafe saja ?! " tanya Deniel , ia mencoba untuk lebih dekat dengan wanita yang berhasil membuat otaknya geser dari tempatnya itu .


" Bukan hal mudah untuk semua itu , khususnya untukku . Kita lihat saja nanti "


Air tersenyum.dan melangkah pergi meninggalkan Deniel .


" Apa yang susah !? Aku punya tempat ditengah kota jika kau ingin menyewanya untuk membuka tokomu . Untuk modal kau bisa mengajukan pinjaman padaku ! Aku bekerja di sebuah bank swasta "


Untuk hal pertama memang benar adanya , ia punya ruko ditengah kota yang sudah kosong . Tapi untuk hal kedua ia terpaksa berbohong . Air tidak akan mau jika ia bilang ia yang akan membiayai usaha baru itu .


Air menghentikan langkahnya , sepertinya ia tertarik dengan tawaran Deniel . Jika usahanya berkembang maka ia bisa memenuhi kebutuhannya dan Janu . Lagipula ia bisa tinggal di toko itu karena ia yakin Bumi tak akan mengijinkannya tinggal di apartemen dalam waktu yang lama .

__ADS_1


Deniel tersenyum menang ketika Air mendekatinya kembali .


" Tapi aku tidak punya agunan jika mengajukan pinjaman . Ehmm .. aku tidak punya apa apa "


" Tapi aku percaya padamu ... kurasa itu udah cukup "


" Tapi aku belum pernah membuat usaha sebesar itu . Biasanya kue kue itu hanya aku titipkan di warung warung kecil "


" Aku bantu ... aku cukup pintar jika hanya untuk urusan kafe atau toko roti "


" Kenapa kau membantuku ? "


" Karena aku su ... aku suka padanya " mata Deniel mengarah pada Janu yang sekarang sedang mengoceh dan tertawa melihatnya .


" Janu !? "


" Ya , dia pria paling tampan yang pernah aku temui " jawab Deniel dengan tertawa .


" Pulanglah dulu sekarang , kalian terlihat sangat lelah . Besok kita bertemu di kafe depan untuk membicarakan rencana anggaran toko barumu . Bukankah lebih cepat lebih baik ?! "


" Terimakasih ... "


" Deniel ... namaku Deniel Brown "


" Terimakasih Deniel "


" Sama sama sayang ... Hei kenapa wajahmu begitu ? Aku sedang berbicara pada pria tampan itu " goda Deniel .


Air melangkah pergi dengan hati yang sangat bahagia . Akhirnya ia bisa membuat usaha sendiri yang hasilnya tentu bisa ia gunakan untuk masa depan Janu . Dia merasa beruntung karena banyak orang yang menyayangi dirinya dan putranya .

__ADS_1


__ADS_2