Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
46


__ADS_3

" Kenapa aku harus menyakiti istriku sendiri , kau lihat mereka sayang ? Mereka pikir aku monster yang suka menyiksa perempuan "


" Hahh istri !!?? "


Adam terlihat tidak terkejut , tapi berbeda dengan dua wanita di sampingnya . Mereka terlihat shock mendengar wanita cantik di depan mereka ternyata adalah istri dari seorang Bumi Attala Adipraja .


" Tidak lucu , bukannya dia pembantu yang kemarin aku obati !? " Vallery menutup mulutnya tak percaya .


" lstri ?? Jadi ... tadi ? "


Air tersenyum melihat raut kaget mereka , dia sangat maklum . Pernikahan mereka sangat mendadak dan belum diketahui oleh publik . Jadi sangat wajar jika orang luar mengira seorang Bumi masih berstatus lajang .


" Hai .. aku Adam sekretaris pribadinya , dan yang ada di sampingku adalah sekretarisku . Dan yang berbaju putih itu Dokter Val "


Adam memecah kebisuan mereka dengan memperkenalkan dirinya . Air mengangguk ramah dan kemudian perhatiannya kembali pada suaminya . Adam yang tahu situasi kembali angkat bicara .


" Tadi dia muntah jadi aku lepas bajunya , mukanya pucat jadi aku putuskan untuk memanggil Vallery kesini untuk memeriksa kondisinya "


" Silahkan jika Dokter ingin memeriksanya " kata Air yang melihat dokter muda itu masih menatapnya .


" Ehh .. iya .. jadi liatin kamu terus . Maaf kemarin aku kira kamu pembantunya laki laki songong itu " ucap Dokter Val salah tingkah tapi kemudian dia menatap Bumi penuh ancaman .


" Aku butuh penjelasanmu tuan Bumi yang terhormat !! Bagaimana bisa istrimu bisa kau tempatkan di kamar pembantu itu " katanya sambil memeriksa keadaan laki laki yang tampak salah tingkah itu .


Vallery adalah salah satu sahabat Bumi juga , walaupun dia seorang wanita tapi ia tak segan segan menegur Bumi jika laki laki itu berbuat semaunya . Dulu dia juga orang pertama yang tidak suka dengan hubungan Bumi dan Narra . Bahkan Bumi sempat memusuhinya karena hal itu .


" Aku sendiri yang memintanya dokter , aku harus mengawasi putraku yang masih bayi . Akan terlalu lelah jika aku harus turun naik tangga untuk mengawasinya " bohong Air membela suaminya .


" Elo ngga usah bela laki laki laknat ini , jika aku jadi kau maka aku akan pergi sejauh mungkin . Aku yakin masih banyak laki laki baik diluar sana yang bisa mencintaimu "


Selain seorang dokter Val juga seorang aktivis perempuan , dia sangat membenci bullying pada kaum wanita .


" Vall ... "


" Diem elo Dam , gue tahu elo bakal belain dia juga "


Adam hanya menghela nafas panjang melihat Vsllery yang memarahi habis habisan bosnya .

__ADS_1


" Dokter Val ... bagaimana dengan kondisi Mas Bumi ? "


" Oh iya sampai lupa , dia hanya terlalu lelah membuat kondisinya drop ! Istirahatlah untuk beberapa di rumah . Lagipula ada dia , elo ngga usah forsir tenaga habis habisan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan " Vallery menunjuk pada Adam .


" Sebaiknya kita bawa Bumi untuk istirahat di kamarnya . Lebih nyaman disana untuk berbaring "


Adam segera memapah Bumi untuk naik ke atas diikuti oleh Val dan sekretaris Adam . Sampai di kamar Bumi mencari keberadaan istrinya karena Air tidak terlihat mengantarnya ke kamar .


" Mana istriku !!! Mana dia !! "


" Ngga usah teriak teriak bisa nggak sih Bum ? Budeg gue lama lama deket sama elo " kata Adam sambil menggosok telinganya .


" ltu ... itu .. tadi nyonya tidak mau ke atas , katanya beliau mau menunggu di bawah saja . Nyonya juga sempat bikin teh hangat , katanya harus diminum sama tuan " sekretaris Adam tampak membawa nampan berisi segelas teh hangat yang kemudian di letakkan di atas nakas .


DEGGHH ... DEGGHHH


" Sayang ... " lirih Bumi .


Dia baru ingat bahwa ia pernah melarang istrinya untuk menyentuh lantai atas . Dengan alasan apapun Air tidak boleh naik ke lantai tempat kamarnya berada .


Hatinya terasa diremas ketika kembali di ingatkan dengan kekejamannya pada anak dan istrinya .


Adam , Dokter Val dan sekretarisnya segera menuruti kemauannya . Lagipula masih banyak pekerjaan yang harus Adam selesaikan di kantor .


Air terkejut melihat tiga orang yang turun tergesa .


" Lhohh .. Mas Adam mau kemana ? Terus yang jagain Mas Bumi di atas siapa ? "


" Saya masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan nyonya . Dokter Val juga ada tugas di rumah sakit . Jadi kami harus pergi "


" Ya Tuhan .. jangan terlalu formal pada saya Mas , jangan panggil nyonya . Panggil saya Air ... Nama saya Aira "


" Eh .. iya maaf Air " Adam menggaruk tengkuknya , aneh rasanya jika memanggil wanita cantik di depannya hanya dengan nama saja .


" Bu Aira .. maafkan saya , tadi .. "


Aira menghampiri sekretaris Adam dan tersenyum .

__ADS_1


" Kau hanya mencoba melindungi suamiku , tapi lain kali.bersikaplah lebih baik pada orang yang tidak kau kenal . Tidak semua orang punya niat jahat "


" Baik Bu Aira ... terimakasih " .


Setelah semua orang pergi Air menjadi bingung sendiri , ia ingin melihat kondisi suaminya . Tapi ia tak mungkin mengingkari janjinya untuk tidak akan pernah naik ke lantai atas .


" Sayang ... "


Air terperanjat kaget melihat Bumi yang melangkah turun ke lantai bawah .


" Mass ... " pekik Air yang melihat Bumi tiba tiba jatuh bersimpuh di depannya . Ia mengira Bumi akan pingsan lagi , ia menarik Bumi agar kembali berdiri . Tapi Bumi hanya menggelengkan kepalanya .


" Biarkan ... aku pantas disini . Fely benar , aku adalah monster yang tak punya hati "


Air kemudian ikut bersimpuh di depan suaminya , ia mencium pipi Bumi yang masih saja tertunduk sedih .


" Kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini lagi kan ? "


" Tapi kau tidak menemaniku di atas , kau pasti masih mengingatnya . Kau pasti masih mengingat kata kata konyol itu kan !? "


" Tapi ... aku sudah berjanji padamu Mas " kata Air dengan wajah menunduk .


Bumi memeluk kaki sang istri dengan perasaan hancur , mungkin seperti inilah perasaan istrinya ketika ia memintanya untuk tidak menyentuh apapun miliknya termasuk kamar pribadinya .


" Aku mohon , jangan siksa aku dengan mengingatkan kembali semua dosaku padamu . Jika perlu aku akan menebus semua sakitmu dengan nyawaku "


" Mas .. jangan begini " Air menangis melihat keputusasaan suaminya . Sungguh ia tak berharap akan seperti ini .


Mereka saling memeluk , menumpahkan semua rasa . Tak hentinya Bumi mencium pucuk kepala istrinya .


" Aku mencintaimu ... "


" Aku tahu ... aku lebih mencintaimu sayang "



__ADS_1


Bonus visualnya mas Bum sama mbak Aira😘😘😘


__ADS_2