
Alisha benar-benar ingin meninggalkan tempat itu sesegera mungkin. Ia bahkan kepikiran untuk berpura-pura sedang ditelepon Bian demi bisa menghindari aksi mertuanya itu. Namun ia mengurungkan niatnya karena ia yakin mama mertuanya akan menyadari aksi bohongnya. Dia juga terpikirkan ide-ide lain tapi semuanya seperti menguap begitu saja di otaknya tanpa dieksekusi.
Hingga akhirnya dia kehabisan ide dan waktu untuk menghindarinya. Flora pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita dengan kekayaan berlimpah itu.
Mama Liana memintanya berdiri di tengah podium tanpa alasan yang jelas. Dan dengan polosnya Alisha menurutinya. Beberapa saat setelahnya, sang mama mengatakan sesuatu dengan menggunakana mikrofon yang ada di depan mereka.
“Teman-teman semua, hari ini saya mau mengumumkan pemimpin baru di kantor cabang kita kali ini. Orang itu adalah menantu saya, Nyonya Alisha Bian Herdianto. Beri tepuk tangan untuknya!”
Alisha seketika menolehkan kepalanya ke arah ibu mertuanya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya tentang apa maksud dari ucapan wanita ini. Kenapa dia menyebutnya ‘pemimpin baru’. Apa juga maksud dari kantor cabang ‘kita’?
Rupanya Alisha tidak menyadari bahwa kantor yang ia datangi adalah kantor cabang baru yang bernaung di bawah perusahaan milik suaminya. Tentu saja Alisha tidak memahami semua itu. Yang dia tahu hanyalah mendapat pesanan katering dari kantor itu dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik.
Tapi ia malah mendapat kejutan yang super duper gila dari yang pernah ia terima.
Dan perkenalan dirinya itu justru mendapat sambutan dan tepuk tangan riuh dari semua karyawan yang hadir di tempat itu.
Alisha memang bingung harus bereaksi atau bersikap seperti apa saat itu, namun tidak dengan mama mertuanya. Dia dengan santai dan tangan yang ikut bertepuk, membisikkan sesuatu di telinga Alisha.
“Apa kamu suka dengan kejutanku? Kamu lihat saja, ini baru awalnya. Aku akan menghancurkan semua yang ada di hidup kamu!”
Badan Alisha menggigil dan berkeringat dingin. Sebenarnya ia sudah bertekad untuk melawan apapun yang ibu mertuanya lakukan padanya, tapi ketika ia mengalaminya, Alisha malah terdiam seolah tak mempunyai daya.
Nadia yang sedari tadi hanya diam dan melihat apa yang terjadi, seketika mengajak Alisha keluar dari ruangan itu setelah ada kesempatan.
“Al, apa dia benar mama mertuamu? Kenapa dia melakukan itu?” tanya Nadia.
Alisha memang belum pernah menceritakan apapun soal dirinya selama tinggal di rumah Keluarga Herdianto. Semenjak menikah, Alisha jarang berkomunikasi dengan Nadia. Ia terlalu sibuk dengan menjaga perasaannya dari sikap sang mertua.
Wajar saja jika Nadia begitu terkejut melihat sikap ibu mertua sahabatnya itu. Ia begitu ketus, sarkas dan angkuh dimata Nadia. Belum lagi soal pengumuman dan upayanya mempermalukan Alisha di depan umum. Nadia sungguh tidak mengerti bagaimana keadaan sahabatnya pascamenikah.
“Jujur sama aku, Al! Apa ibu mertuamu tidak merestui kamu menjadi menantunya?” desak Nadia.
Alisha mulai meneteskan air matanya. Ia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Ia pun menceritakan semua hal yang ia alami sejak awal ia masuk ke kehidupan Bian.
Begitu selesai mendengarkan curhatan dari sang sahabat, Nadia mengeluarkan semua sumpah serapah yang ia tahu untuk diberikan pada mertua Alisha.
__ADS_1
“Aku kecewa sama kamu, Al. Kenapa hal separah ini kamu sembunyikan dariku?” protes Nadia kesal.
“Aku bukan tidak mau cerita, Nad. Aku belum siap” kata Alisha.
Di sisa perjalanan mereka kembali menuju rumah, Alisha dan Nadia hanya diam dan hanyut dalam pikirannya masing-masing.
***
Di tempat lain, Bian menolak permintaan bertemu dari Diandra. Bahkan ketika gadis itu berusaha meneleponnya selama enam kali, Bian tetap tak menggubris. Ia sudah tidak ingin berurusan dengan Diandra di luar urusan kantor, tidak juga dengan pertemuan empat mata apapun itu.
Namun sayangnya, Diandra sudah memprediksi sikap Bian padanya. Ia tidak berperang dengan tangan kosong. Sudah saatnya Diandra mengeluarkan amunisi pertamanya.
“Bilang sama bos kamu, kalau aku sudah mengirimkan sesuatu yang menarik ke dalam emailnya. Suruh dia membukanya. Ah, katakan juga padanya untuk membuka blokir nomorku, atau dia akan menyesal”
Diandra menutup teleponnya dengan gerakan anggun penuh kemenangan. Ia menelepon David karena Bian telah memblokir nomornya.
Lalu Diandra terlihat menghitung sesuatu dengan gerakan jarinya. Dan pada saat ia selesai menghitung, ponselnya berdering.
Diandra tersenyum melihat nama yang muncul di ponselnya.
Ia terlihat beberapa kali tertawa setelah mendengar jawaban dari orang yang meneleponnya, yang tak lain adalah Bian.
“Kamu bisa datang, kan? Aku tunggu di tempat biasa kita ketemu, ya!” ucap Diandra.
Ketika Diandra merasa senang karena upayanya berhasil, tidak dengan Bian. Ia sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Kali ini dia mengikuti permainan Diandra terlebih dulu sebelum menyelesaikannya.
Hadiah menarik yang dikirim Diandra ke emailnya adalah sesuatu yang mengancam Bian. Diandra menggunakan kelemahan Bian untuk memaksanya menuruti apa yang ia minta.
Diandra menggunakan pasal perjanjian kerjasama perusahaannya untuk mengendalikan Bian.
Di dalam perjanjian itu disebutkan bahwa selama proses kerjasama berlangsung, pihak satu yang tak lain adalah Bian, harus mengikuti semua aturan yang berlaku dalam perjanjian seperti pembatalan kerjasama jika ditemukan pelanggaran apapun yang merugikan kerjasama itu.
Diandra memiliki satu kelemahan Bian yang ia dapat saat masih menjadi kekasihnya dulu. Ia bisa menggunakan itu untuk mengancam Bian dengan pembatalan kontrak kerjasama mereka. Karena apa yang ia kirim padanya bisa menjadi pelanggaran seperti yang dimaksud dalam perjanjian kerjasama itu.
Akhirnya Bian datang menemui Diandra di tempat yang ia tentukan. Raut wajah Bian sudah berubah seperti bukan Bian yang kemarin berani menolak Diandra.
__ADS_1
“Apa-apaan kamu, Di? Apa yang kamu kirim itu?” tanya Bian sambil mencoba tetap tenang.
“Aku nggak nyangka kamu bisa setenang ini setelah melihatnya” kata Diandra basa basi.
“Apa maumu?”
Diandra mendekatkan wajahnya pada wajah Bian yang tak mau melihatnya.
“Sayang, aku tahu kamu masih mengingatnya. Aku mau kita seperti dulu lagi” rayu Diandra.
“Kamu gila, Diandra! Aku akan pura-pura tidak mendengar ini!” seru Bian sambil beranjak dari kursinya.
Namun Diandra menahan langkah Bian dengan ucapannya.
“Kamu milih kontrak kerjasama kita atau istrimu?” ancam Diandra.
Saat itu Bian ingin sekali menganggapnya sebagai pria agar dia bisa memukulnya tanpa rasa bersalah. Namun ia tidak bisa menghajar seorang wanita.
Bian berdiri terdiam selama sepersekian detik hingga akhirnya dia berbalik dan berjalan ke arah Diandra kembali.
“Aku tanya sekali lagi, apa maumu?” tanya Bian dengan nada dingin.
“Sudah kubilang, kan? Aku Cuma mau kita seperti dulu lagi”
Bian tertawa sinis.
“Kau mengancamku?” tanya Bian.
“Ini bukan ancaman, Bi. Ini perintah! Aku bisa mengirimkannya sekarang kalau kamu mau” kata Diandra.
“Aku nggak akan nurutin keinginan gila kamu” ucap Bian seraya meninggalkan tempat itu.
Diandra sedikit mendengus kesal, karena rencananya tak berjalan seperti yang ia bayangkan. Namun dia tidak berhenti sampai di situ. Ia pun membuka dan mengutak atik ponselnya. Tak lama ia berhenti dan kembali menyunggingkan senyum sinisnya.
“Tamat kau Alisha” ucapnya lirih.
__ADS_1