
Sebenarnya Berlian masih bingung, kenapa ibunda Bian sangat mendorong dan menyetujui dirinya untuk menjadi pendamping anaknya. Berlian tahu, bahwa Mama Liana pasti sudah menyuruh orang untuk memeriksa latar belakangnya. Itu berarti dirinya yang suka mabuk-mabukan, bermain ke klub malam, sampai jajan **** bebas sudah dikuliti habis oleh wanita paruh baya itu.
Bagi Berlian, pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab. Dia memang menyukai Bian, tapi saat ini rasa suka itu masih terbatas pada rasa penasaran semata. Ada juga sedikit rasa tak mau kalah saing dengan Alisha yang bukan siapa-siapa baginya.
Namun hingga dia sampai ke kantornya, Berlian masih tak bisa menemukan kira-kira apa yang mendasari ibu tua itu menyetujui dirinya menikah dengan Bian.
“F*ck! Jangan-jangan ibu tua itu mau ngekang gue lagi!” gumam Berlian di ruangannya yang bernuansa putih.
“Hai, baby!” sapa seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk ke ruangan Berlian.
Melihat sesosok pria yang ingin diharapkannya, Berlian pun langsung tersenyum lebar dan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan pria itu. Tidak puas hanya dengan memeluknya, Berlian langsung menciumi seluruh wajah pria yang sudah lama ingin dicumbunya itu.
“Baby, i missed you so much.”
Pria itupun membalas ciuman Berlian yang masih merajai seluruh wajahnya. Hampir lima belas menit mereka melakukan hal tersebut tanpa rasa malu meskipun tengah berada di kantor. Dan seperti sudah mengetahui kebiasaan bosnya, semua karyawan hampir tak ada yang memandang ke arah ruangan Berlian yang memang hanya dibatasi oleh kaca. Ketika dia lupa memencet tombol gorden otomatisnya, maka disitu semua karyawan seperti tersihir dan wajib untuk melihat ke arah lain jika tidak ingin hari itu menjadi hari terakhir mereka bekerja di perusahaan milik keluarga Berlian.
Setelah selesai melakukan hal gila dan mesum tersebut, pria yang dikenal sebagai Devan itu mengajak Berlian keluar dari ruangannya. Lagi, semua mata karyawan tak ada yang berani menatap mereka berdua. Semua terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
“Beb, kamu mau ajak aku kemana, sih?” tanya Berlian.
“Udah kamu ikut aja!”
Devan mengajak Berlian masuk ke dalam mobil sport miliknya dan melesat meninggalkan area kantor dalam beberapa detik saja. Tak lama setelah itu mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam sebuah hotel yang bertuliskan The Golden Hotel.
Mereka memasuki area lobi dengan bebas seperti sudah biasa masuk ke dalam hotel tersebut. Berlian yang sudah tahu maksud dari Devan mengajaknya ke tempat itu hanya tertawa melihat kelakuan pacarnya.
Ya, Devan adalah kekasih Berlian yang sudah lama dipacarinya sebelum mengenal Bian. Lebih tepatnya dia adalah cinta pertama Berlian yang sulit dilepaskan walaupun sudah sering putus dan nyambung. Jika mereka lelah dengan hubungan romansa dengan komitmen, keduanya akan mengakhiri hubungan mereka dan menggantinya dengan romansa bertema Friend With Benefit alias FWB.
Dan saat ini mereka tengah menjalani FWB tersebut. Menjadikan pasangan sebagai teman untuk melampiaskan hasrat tanpa harus saling membayar ataupun terikat komitmen.
“Beb, ini masih siang tapi kamu nakal banget” kata Berlian.
“Aku udah nahan sejak di rumah sakit. Jadi kamu harus menerimanya!” jawab Devan.
__ADS_1
Dan mereka menjalani siang hari penuh fantasi di dalam kamar bernomor 402.
***
Masih dengan memikirkan teka-teki pria yang menyebut nama Bian dan dirinya di atap, Alisha akhirnya kembali ke dalam kamar rawatnya. Di depan kamarnya sudah berdiri Bian, David, dan Nadia bersama beberapa petugas keamanan yang tengah berbincang dengan Bian.
Dengan langkah yang masih terseok, Alisha mendekat ke arah mereka hingga akhirnya Nadia mengetahui kedatangannya.
“Alisha! Dari mana saja, sih? Kita bingung nyariin kamu!” teriak Nadia yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Melihat istrinya terlihat semakin pucat, Bian berlari menghampiri Alisha dengan raut wajah cemas.
“Sayang, kamu kemana aja? Kenapa pergi dari kamar nggak bilang Nadia?” tanya Bian dengan nada yang dipaksa dilembutkan.
“Aku cuma cari angin” jawab Alisha pendek.
Bian pun memapah Alisha masuk dan naik ke tempat tidurnya. Wajah Alisha masih sayu dan pucat. Luka di sekujur tubuhnya memang sudah semakin pulih, tapi hatinya masih menyimpan beban yang begitu besar dan penuh misteri.
Akan tetapi meski matanya melihat ke layar kaca, pikirannya melayang pada persoalan lain. Ia masih memikirkan Berlian dan sekarang ditambah dengan pria asing itu. Bian yang menyadari istrinya sedikit berbeda, langsung memegang tangan Alisha untuk memberinya sebuah ketenangan.
“Yang, kamu kenapa? Kamu keliatan ada yang dipikirin” ucap Bian dengan lembut.
“Nggak mikirin apa-apa, Mas. Aku cuma mulai bosan disini” jawab Alisha berbohong.
Tapi sebenarnya dia galau. Dirinya memang sudah mulai bosan berada di rumah sakit, tapi jika ingin pulang ke rumah, pasti Bian mengajaknya tinggal kembali ke rumahnya. Dan hal itu pasti akan membuatnya semakin pusing. Meladeni ibu mertuanya di saat dirinya yang masih lemah, hanya akan menambah tingkat stres dirinya.
“Mas, aku boleh nanya nggak?” tanya Alisha memberanikan diri mumpung Nadia tak ada di kamarnya karena pulang mengambil baju.
“Apa, Sayang?”
“Mas masih sayang aku, walaupun aku udah kehilangan bayi kita?” tanya Alisha dengan mata berkaca-kaca.
“Apa maksud kamu? Tentu saja Mas sayang sama kamu” jawab Bian.
__ADS_1
“Apa Mas masih cinta sama aku?”
“Iya, Sayang. Mas sayang dan cinta kamu seumur hidup Mas” jawab Bian tulus.
“Apa boleh aku minta sesuatu?” tanya Alisha lagi.
“Apa?”
Bian mendengarkan permintaan Alisha yang cukup membuatnya berpikir malam itu. Sang istri meminta dirinya membeli rumah baru dan meninggalkan kediaman Herdianto. Dia juga tak mau memberikan alamat rumah itu pada siapapun termasuk David atau Nadia sekalipun. Bahkan Alisha juga tidak akan memberikan alamat barunya kelak pada sang ibu. Dia benar-benar ingin hidup berdua dengan Bian tanpa ada seorang pun yang mengganggu.
“Mm, tapi apa bisa kita nggak ngasih tahu siapapun? Pasti akan ada orang yang ngikutin Mas atau kamu” kata Bian.
“Bisa, Mas” jawab Alisha.
“Mas harus berhenti bekerja!”
Bian cukup terkejut mendengar jawaban Alisha. Sedetik kemudian dia melepaskan tawanya karena gemas melihat ucapan polos istrinya itu.
“Yang, mana bisa Mas nggak kerja. Nanti yang bayarin kartu kredit siapa?” kata Bian terkekeh.
Sebenarnya Alisha tahu jawaban itu mustahil. Dia pun hanya mengoceh tanpa kejelasan hanya karena ingin kembali melihat tawa Bian yang sudah lama tak ia lihat. Dan Bian sepertinya mengetahui pemikiran Alisha.
“Kamu sengaja ya bikin Mas ketawa? Hm?” tanya Bian sambil mengelus-elus pipi Alisha.
Alisha hanya tersenyum kecil. Namun dalam hatinya sedikit terasa perih. Ia ingin sekali melupakan semua omongan buruk mengenai suaminya. Ia ingin sekali menjauhkan Berlian dari suaminya. Alisha juga sangat ingin menjaga dan melindungi suaminya. Malam itu, dia kembali tersadar bahwa dirinya tak bisa hidup tanpa Bian. Sedikit berlebihan tapi pada kenyataannya, Alisha masih sangat mencintai suaminya di tengah terpaan rumor dan kecurigaan yang melanda suaminya.
“Mas, aku boleh minta sesuatu lagi?” tanya Alisha, kali ini dengan nada yang benar-benar terdengar serius.
“Apa lagi?” tanya Bian dengan wajah yang masih penuh dengan senyuman.
“Aku mau jabatan di kantor kita. Aku mau ada saham di kantor kita atas namaku. Dan aku mau bekerja terus sama kamu” jawab Alisha.
__ADS_1