
“Iya Ka, aku dari toilet,” ucap Nara diujung telepon.
“Hmm, nggak apa-apa. Kangen aja sama Bu Dosen yang cantiknya bikin gemes.”
“Gombal,” sahut Nara.
Reka terkekeh, kemudian menceritakan tentang kedatangan orang tua Nara. “Lalu aku harus bagaimana?” tanya Nara dengan suara memelas. “Kalau mereka menghubungi kamu atau menyusul ke kampus jangan ditemui. Aku akan temani kamu untuk temui mereka,” tutur Reka.
Setelah Reka mengakhiri panggilan telepon karena Nara harus segera masuk kelas, Reka menghubungi pengacara keluarga dan membuat janji untuk dia dan Nara bertemu. Tidak lupa melanjutkan skripsinya sesuai permintaan Nara agar cepat lulus sarjana.
Menjelang sore, Reka sudah tiba di kampus. Tanpa memberi tahu Nara, Reka akan mengajak Nara menemui pengacara untuk menyelesaikan persoalan Reno. Berdiri tidak jauh dari mobil Nara sambil menghisap rokoknya. “Ra,” panggil Reka saat melihat Nara berjalan menuju mobilnya. Tapi yang membuatnya kesal adalah Nara berjalan bersama Ardi.
“Kamu di sini, sejak kapan? Kenapa nggak ngabarin aku,” ujar Nara.
“Ayo, kita sudah ditunggu,” ajak Reka tanpa menjawab pertanyaan Nara. meraih kunci mobil dari tangan Nara lalu membuka pintu penumpang untuk Nara. “Masuk,” titah Reka. Nara hanya bisa patuh, apalagi dia melihat wajah Reka yang kelihatan kesal. Bahkan Nara tidak sempat pamit pada Ardi yang mematung menyaksikan interaksi Nara dan Reka.
“Kita ditunggu siapa?” tanya Nara saat mobil yang membawa mereka sudah meninggalkan kampus.
“Om Ronald,” jawab Reka singkat. Nara tau nama yang disebut Reka adalah pengacara keluarga mereka. Tapi yang membuat Nara gelisah adalah kebisuan Reka selama perjalanan. Reka termasuk tipe orang yang ramai dan supel jadi melihat pria itu terdiam membuat Nara gelisah.
Nara baru akan berucap, tapi urung dilakukan karena mobil yang membawa mereka sudah memasuki area restoran. Melepas seatbelt yang menahan tubuhnya dan segera turun dari mobil, berjalan di samping Reka menuju ruang pertemuan.
Sesampainya di ruangan, ternyata sudah ada Papih Reka dan Om Ronald. “Kalian duduklah,” titah Kevin. Tidak lama pelayan datang membawakan pesanan minuman yang sudah di pesan oleh Kevin.
“Ronald, silahkan jelaskan masalahnya pada mereka!”
Nara dan Reka menunggu penjelasan dari Om Ronald. Intinya mereka sepakat mencabut laporan dengan berbagai syarat demi keamanan Nara ke depannya. Menurut pengacara mereka, bukti dari CCTV saat Nara keluar dari apartemen bersama Reno menjadi kekuatan pihak Reno. Karena terlihat jika Nara ikut Reno bukan karena dipaksa, meskipun kenyataannya Reno mengancam jika Nara berteriak atau berulah.
“Akan segera saya urus, jadi kalian tidak usah khawatir. Syarat-syarat tadi bisa melindungi Nara kedepannya.” Setelah berbasa-basi, Reka mengajak Nara undur diri.
__ADS_1
“Kita mau ke mana lagi?” tanya Nara karena merasa tubuhnya sudah sangat lelah. “Maunya ke mana?” Reka bertanya balik, saat membuka pintu mobil untuk Nara.
“Pasang seatbelt kamu, kita langsung pulang. Aku tidak ingin calon anak aku kenapa-kenapa karena Ibunya terlalu banyak aktivitas,” tutur Reka. Dalam perjalanan, ponsel Reka berdering. Reka abai, sampai akhirnya ponsel itu kembali berdering.
“Kenapa nggak dijawab?” tanya Nara. Reka merogoh kantong celananya dan memberikan ponselnya pada Nara lalu kembali fokus pada kemudi.
“Cindy,” ujar Nara lalu menatap Reka.
“Jawab, kalau perlu kamu maki sekalian,” ucap Reka. Nara menggeser tombol hijau dan memilih loudspeaker.
“Halo, Reka. Kamu kemana aja sih kok nggak pernah ada di rumah. Aku berapa kali ke rumah tapi kamunya nggak ada terus,” cecar Cindy di ujung telepon.
“Nggak adalah, Reka dan aku habis liburan. Lagi pula kamu ngapain cari Reka terus. Jelas-jelas Reka sudah punya istri, macam perempuan nggak laku aja,” ejek Nara.
Terdengar decakan, “Mana Reka, berikan ponselnya pada Reka.” Nada suara Cindy terdengar lebih tinggi. “Bicara denganku saja, aku istrinya Reka khawatir kamu lupa.”
“Terserah, aku tutup dan aku blokir kontak kamu. Jangan harap bisa menggoda Reka lagi,” sahut Nara lalu mengakhiri panggilan. “Memang selera kamu perempuan seperti apa sih?” tanya Nara lalu memasukan ponsel Reka ke dalam tasnya.
Reka mengulum senyum. Rasakan, emang enak cemburu, batin Reka.
“Ponsel aku mana?”
“Aku sita, jangan-jangan Cindy sering menghubungi kamu atau mungkin ada perempuan lain juga,” ujar Nara. Reka terlihat gelisah, walaupun dia tidak memiliki hubungan dengan wanita lain selain istrinya tapi memang ponselnya selalu ramai dengan pesan-pesan dari perempuan-perempuan yang mengejarnya.
“Ra, jangan disita. Setelah ini aku harus menghubungi cafe,” ujar Reka beralasan karena tidak ingin Nara salah paham dengannya.
“Masih nanti ‘kan? Sekarang biarkan aku amankan dulu. Sepertinya aku perlu sidak isi ponsel kamu,” ancam Nara. “Sebenarnya perempuan seperti apa selera kamu?” Nara mengulang pertanyaan dan tidak menyadari jika mobil yang membawa mereka sudah memasuki kediaman orangtua Reka.
Reka melepaskan seatbeltnya lalu mendekatkan tubuhnya pada Nara. “Kayak kamu,” jawab Reka sambil meraih tengkuk Nara dan melu_mat bibir Nara, tangannya mengambil ponsel dari tas Nara. Cukup lama pagutan bibir tersebut sampai nafas Nara tersengal karena ulah Reka. “Turun,” ajak Reka sambil tertawa lalu mematikan mesin mobil.
__ADS_1
Nara melihat sekeliling dan ternyata mobilnya sudah terparkir rapi di carport kediaman mertuanya. Reka bergegas ke kamarnya sambil menghapus kontak teman-teman perempuan yang masih sering menghubunginya juga memblokir beberapa kontak yang ekstrim ketika menghubunginya.
“Kamu pulang sendiri? Reka mana?” tanya Meera.
“Reka barusan masuk duluan Bun, kebelet mungkin,” ucap Nara.
“Kalian jadi bertemu Ronald?” Nara mengangguk. Meera memeluk Nara, “Bukan berarti kami tidak sayang kamu Nara. Tapi kalau diteruskan akan semakin menyulitkan kamu. Percayalah, orang tua Reno akan banyak cara untuk memutar balikan keadaan,” terangnya lalu mengurai pelukan.
“Aku paham Bun.”
“Yang penting saat ini adalah kesehatan kamu dan calon bayi kalian. Papih nggak akan diam, kami akan pikirkan dan lakukan yang terbaik untuk keamanan kamu,” tutur Meera penuh kesungguhan dan ketulusan.
Hati Nara kembali menghangat dengan kepedulian Ibu mertuanya. Sangat bersyukur karena dia berada di keluarga yang tepat dan sangat menyayanginya. “Kamu sudah makan?” tanya Meera.
“Belum Bun, tadi Reka ajak aku untuk cepat pulang.”
“Reka,” teriak Meera, “Bener-bener ya kamu, istri belum makan begini padahal tadi dari restoran,” ucap Meera sambil mengajak Nara ke ruang makan.
“Lebih sehat juga makan di rumah, Bun,” sahut Reka berjalan menuju lemari es dan mengambil minuman soda dalam kaleng. Duduk di samping Nara yang sedang mengisi piring dengan nasi dan lauk yang sudah terhidang.
“Makan yang banyak ya, biar kaliah sehat,” ujar Reka sambil mengusap pucuk kepala Nara.
“Bunda buat salad, nanti kamu bawa ke kamar. Bisa buat cemilan.” Meera meletakan box plastik berisi salad buah di depan Nara. Reka sedang meneguk minuman kaleng yang dipegangnya saat ponsel miliknya berdering.
Reka mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menatap layar ponsel yang dipegang. “Kok ada di kamu sih, bukannya di tas aku?”
\=\=\=\=\=\=\=
Bukan kebelet tapi mengamankan situasi 🙃😅
__ADS_1