Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bingung, Judulnya Apa


__ADS_3

Reka mencondongkan tubuhnya ke samping, semakin dekat dengan Nara. “Fans yang sudah pukul aku waktu kamu hipotermia,” bisik Reka pada telinga Nara. Membuat tubuh wanita itu mendadak meremang.


Nara mendorong tubuh Reka. “Dia nggak percaya kalau aku itu suami kamu,” ujar Reka lalu kembali melanjutkan makannya. Nara memilih diam menunggu Reka selesai dengan makan siang.


Reka berada di depan wastafel kamar mandi dan membuka kaos yang dikenakan. Menatap luka pasca operasi di perutnya yang sudah mengering. Kemudian membasuh wajahnya. “Ra, bantu aku oles salep,” ujar Reka. Nara pun mengambil salep dan mengoleskan pada bekas luka di perut Reka.


“Ini yang kering baru luarnya, kita nggak tau macam mana luka yang di dalam. Jadi kamu jangan aneh-aneh apalagi sampai berkelahi,” nasihat Nara lalu meletakan kembali salep luka Reka di atas naka


Reka mengambil pakaian ganti di lemari dan tanpa malu berganti dihadapan istrinya. “Siapa juga yang mau berkelahi. Tapi kalau ada yang nyebelin dan cari gara-gara terus, aku sih yes aja,” tutur Reka.


“Nah, itu tuh, yang aku maksud.”


“Saat ini yang nyebelin ya fans kamu itu.”


Nara berdecak, berjalan menuju lemari mengambil pakaian ganti dan berganti pakaian di kamar mandi. “Ra, kenapa nggak ganti di sini aja?” tanya Reka saat Nara menutup pintu kamar mandi. “Ra, ini cepat dibalas deh, lihat nih hubungi kamu lagi,” ujar Reka sambil menunjukan layar ponsel Nara dimana nama Ardi terpampang sebagai pemanggil.


Nara meraih ponsel yang dipegang Reka. ‘Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku.’ Nara membalas pesan Ardi agar tidak terus menerus menghubungi Nara.


“Jadi penasaran, nanti kalau kalian bertemu akan seheboh apa laki-laki itu,” ucap Reka.


...***...


Dua hari kemudian.


Pagi itu, Reka dan Nara sudah sudah siap berangkat ke kampus. “Nggak usah bawa motor dulu, kalian bisa berangkat bersama ‘kan?”

__ADS_1


“Iya Bun, lagian motor aku dimana ya? Di apartemen atau di cafe, aku lupa,” ujar Reka. Nara yang tadi pagi kembali dilanda mual dan muntah, wajahnya terlihat pucat. “Paksakan untuk makan sayang, memang rasanya pasti mual. Mau dibuatkan apa gitu biar kamu lebih nafsu makan,” ucap Meera.


“Nggak usah Bun, ini aja.” Menu pagi ini Pangsit Ayam rebus, pesanan Reka. Kevin menikmati sarapan paginya tanpa bersuara, karena Meera sudah mendominasi dengan segala macam nasihat untuk Reka dan istrinya.


“Masih sanggup berangkat nggak?” tanya Reka yang sudah berada di depan kemudi. Sedangkan Nara sudah bersandar lemah di sampingnya. “Sanggup, aku hanya mual,” jawab Nara.


Jalanan yang tidak terlalu padat membuat mereka tiba di kampus lebih cepat. Nara melepaskan seatbeltnya dan terkejut dengan gerakan Reka yang menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka. “Reka, jadi berantakan lagi ‘kan,” keluh Nara setelah Reka melepaskan penyatuan bibir mereka. Reka mencium kening Nara sebelum wanita itu keluar dari mobil.


Saat memasuki ruang dosen, Nara melihat Ardi sudah berada di kubikel nya. Nara meletakan tas di atas meja dan menarik kursi membuat Ardi menoleh ke arahnya. “Akhirnya datang juga,” ucap Ardi sambil menatap Nara.


“Sekarang susah sekali menghubungi kamu,” keluh Ardi masih menatap Nara yang pura-pura sibuk menyiapkan peralatan mengajarnya. “Bukan susah dihubungi, memang kemarin-kemarin aku tidak pegang ponsel. Apalagi waktu di Rumah sakit,” jawab Nara.


“Jadi benar kamu diculik?”


“Hmm. Aku nggak mau bahas hal itu ya,” ucap Nara.


“Aku ke kelas dulu,” pamit Nara melihat sudah waktunya dia mengajar. Kebetulan jam pertama di kelas Reka.


Memasuki kelas yang awalnya gaduh tapi langsung senyap saat Nara masuk dan duduk di kursi Dosen. Nara menyapa lalu menjelaskan sepintas kesimpulan pertemuan sebelumnya. Saat dia berdiri dan mulai menjelaskan materi hari ini, sekilas melihat mahasiswi yang duduk di samping Reka.


“Jadi, perhatikan baik-baik saat kalian mengutip pendapat orang lain. Ini kesalahan yang kerap muncul pada saat kalian menyusun skripsi atau membuat karya ilmiah lainnya. Tugas untuk minggu depan, silahkan kumpulkan naskah yang terdapat kutipan pada skripsi kalian,” terang Nara menutup penjelasannya.


“Ada yang mau bertanya, sebelum saya tutup,” ucap Nara setelah dua kala empat puluh menit berada di kelas Reka.


“Tidak ada Bu,” jawab Yasa. “Nanti kalau ada pertanyaan saya japri Ibu aja ya,” ujarnya lagi. Reka menoleh pada Yasa dan berdecak.

__ADS_1


“Kalau berani sama bodyguardnya lo japri aja Bu Nara,” gumam Dewa tapi masih bisa didengar.


“Yaelah, Ka. Gue cuma bercanda lagi, nggak pernah ngehubungin cewek nanyain materi kuliah. Ada juga ngajak kencan,” tutur Yasa. Reka menendang kursi yang diduduki Yasa. Nara akhirnya undur diri keluar dari ruang kelas Reka.


“Awas lo, ngehubungi istri gue,” ancam Reka yang direspon Yasa dengan tertawa.


“Reka, kamu kemana aja sih?” tanya Lolita yang sejak tadi memang duduk di samping Reka. “Kok kamu bilang istri, memang kamu sudah menikah?” tanya Lolita lagi.


“Sudah, mending lo jauh-jauh,” jawab Yasa padahal yang ditanya adalah Reka.


Tidak lama kemudian, datang dosen mata kuliah berikutnya membuat semua mahasiswa di ruangan itu kembali diam.


Saat jam makan siang, Reka mengirim pesan pada Nara untuk mengajaknya makan. Saat ini Reka sudah menuju kantin kampus. Reka menghentikan langkahnya membaca balasan pesan dari Nara, bahwa saat ini Nara menuju coffe shop yang ada di kampus.


Reka pun berbalik menuju tempat yang dimaksud Nara. Nara sudah duduk manis di salah satu kursi memandang iced cappucino nya. “Kamu seharusnya makan bukan minum beginian.”


“Aku mual, dari tadi kebayang minum ini. Boleh ya, sedikit aja. Nanti kamu yang habiskan,” ucap Nara dengan nada memelas. Reka hanya mengangguk sambil menatap Nara yang mulai menyesap gelasnya.


“Sudah, itu sudah terlalu banyak,” ujar Reka sambil meraih gelas yang berada di tangan Nara.


“Sedikit lagi,” pinta Nara. Reka meminum sisa minuman Nara. “Kamu lagi hamil, aku yakin minuman seperti ini tidak direkomendasikan dikonsumsi oleh Ibu hamil,” ucap Reka pada Nara. Nara hanya berdecak.


“Loh, kalian di sini?”


Nara menoleh ke arah suara dan tersenyum. Berbeda dengan Reka yang sudah hafal dengan suara Rika. “Hmm, sekarang nongkrongnya udah nggak sama Yasa dan Dewa tapi sama Bu Nara,” ejek Rika yang sudah berdiri di samping meja dimana Reka dan Nara berada.

__ADS_1


“Berisik, ngapain sih ganggu aja,” ucap Reka. “Mana Vano, biasanya kalian sudah kayak majikan sama pembantu, kemana-mana beriringan.”


“Patah hati dia. Suka sama cewek tapi ceweknya suka sama sahabat lak_natnya, masih ada hubungan saudara pula. Yang ada, terpuruk dia,” sahut Rika lalu meninggalkan tempat itu setelah mengambil pesanannya. 


__ADS_2