
Bian dan Alisha telah memutuskan untuk tinggal di rumah baru mereka. Meski sang mama menolak Bian meninggalkannya, ia tak bisa berbuat banyak semenjak ancaman Bian waktu itu.
Dulu ketika menikahi Alisha, Bian mengancam tidak akan menjadi ahli waris papanya dan meneruskan bisnisnya. Kali ini Bian mengancam tidak akan menemui keluarganya lagi jika mamanya masih bekerja sama dengan Diandra untuk membuat rumah tangganya hancur. Ia juga mengancam jika mengetahui mamanya masih menindas Alisha, dia tidak akan pernah memaafkannya.
Tentu saja Mama Liana menurutinya, namun hanya di mulut dan sikap luarnya saja. Dalam hatinya ia tetap membenci gadis miskin itu. Ia tidak pernah bisa menerima dan menganggap Alisha sebagai menantunya. Namun jika ia tak menuruti permintaan anaknya, ia akan kehilangan Bian.
Akhirnya Mama Liana pun menerima keputusan Bian untuk tinggal di rumah barunya. Namun permintaan Bian tak berhenti sampai di situ. Ia tidak mau memberi tahu dimana alamat rumahnya pada sang mama. Ia juga menyuruh David untuk merahasiakan alamat rumah barunya itu.
“Vid, pastikan semua aman. Suruh anak buahmu menjaga rumah ini dua puluh empat jam. Jangan sampai ada orang suruhan mama yang tahu rumah ini!” perintah Bian tegas.
Alisha yang duduk di samping Bian saat ia mengucapkannya, hanya bisa melongo dan tak bisa berkata-kata.
“Sayang, apa harus kayak gini banget?” tanya Alisha heran.
“Apanya?”
“Kamu suruh orang jagain rumah dua puluh empat jam, dan mama juga nggak boleh tahu rumah ini. Apa kamu nggak berlebihan?” tanya Alisha lagi.
“Udah nggak apa-apa, ini demi kamu” jawab Bian santai sambil mengacak rambut Alisha.
Setelah rapat bersama pemegang saham itu, Bian mengurus proyeknya dari rumah. Ia hanya datang ke kantor ketika ada tamu yang harus ia temui, atau ada dokumen dan rapat penting yang membutuhkan kehadirannya.
Alisha menganggap Bian terlalu menggunakan kekuasaannya untuk melonggarkan jam kerjanya.
“Kamu kok nggak kerja sih, Sayang? Mentang-mentang yang punya perusahaan ya?” ledek Alisha.
“Enggak lah. Aku tidak seperti itu. Memang sebelum menikah sama kamu pun, aku ya gini kerjanya” jawab Bian.
“Tanya aja sama David kalau nggak percaya!”
Karena ditantang, Alisha benar-benar menelepon sekretaris suaminya itu untuk memastikan ucapan suaminya.
__ADS_1
Melihat sikap dan ekspresi Alisha yang polos, membuat Bian semakin gemas. Ia menarik tubuh Alisha yang ada di jarak satu meter dengannya. Karena tarikan Bian yang tiba-tiba, Alisha pun terhuyung dan jatuh menimpa Bian di atas sofa.
Meski mereka sudah resmi menjadi suami istri, ada kalanya mereka masih menunjukkan sikap malu-malu saat bermesraan. Saat itupun Alisha dan Bian hanya saling pandang, bedanya kali ini Bian menggodanya lebih dulu. Ia mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir Alisha.
Plakk
“Ih, kok mukul sih? Kebiasaan buruk lho ini” komplen Bian sambil menahan tawa.
“Kaget tahu!” omel Alisha sambil mencoba bergerak bangkit dari sofa.
Tapi Bian langsung menariknya lagi hingga dia terjatuh kembali.
“Kemarin kan aku udah bilang, apa yang aku minta” goda Bian sambil tersenyum nakal.
“Kamu tuh ya..”
Bian langsung ‘menyerangnya’ lagi. Kali ini dengan serangan yang sama namun lebih lama. Bian dan Alisha mencurahkan semua perasaan yang mereka pendam selama ini. Mereka terlalu sibuk mengurus orang lain dan melupakan romansa mereka sendiri.
***
Melihat amarah Bian yang tak bisa ia lawan, Diandra memutuskan membiarkan mereka larut menikmati kehidupan suami istri seperti yang mereka inginkan.
Tapi ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan memisahkan Bian dan Alisha bagaimana pun caranya. Akan tetapi kini Diandra dan partner in crime-nya, yaitu Mama Liana, memilih untuk bermain halus dan cantik.
Mereka tidak akan secara terang-terangan lagi dalam melakukan rencana mereka. Usaha Diandra menggunakan kontrak kerjasama sebagai alasan telah gagal. Usaha Mama Liana menjadikan Alisha pimpinan di kantor cabang agar dia dipermalukan, juga telah gagal. Masalah mereka adalah Bian yang terlalu mencintai Alisha. Jika mereka ingin memisahkan Bian dan Alisha, mereka harus meyakinkan Bian bahwa Alisha tidak bisa lagi menjadi istrinya.
Diandra juga memutuskan untuk bergerak sendiri selain bekerja sama dengan Mama Liana. Jika dia hanya mengandalkan wanita itu, Diandra berpikir dirinya akan menunggu terlalu lama. Sebab Bian memegang kelemahan mamanya. Sementara Diandra lebih bisa memegang kelemahan Bian dibanding mamanya sendiri.
Diandra berada di kantornya saat menerima telepon dari salah satu anak buahnya. Ia mendapatkan informasi bahwa Bian telah meninggalkan kediaman Keluarga Herdianto.
“Apa? Bagaimana bisa? Apa dia tinggal di rumah istrinya?” tanya Diandra.
__ADS_1
Diandra berubah murka saat mendengar jawaban anak buahnya yang mengatakan bahwa Bian tinggal di rumah barunya. Ditambah anak buahnya tidak bisa menemukan rumah baru yang ditinggali oleh Bian dan Alisha.
Diandra pun kembali menelepon seseorang. Kali ini sorot matanya benar-benar tajam. Ia berpikir harus cepat melakukan sesuatu, sebelum Bian dan Alisha terlanjur memiliki anak. Diandra tidak mau Bian memiliki anak dari Alisha.
“Halo?” sahut suara yang ada di balik ponselnya.
“Tolong kau siapkan apa yang aku minta kemarin. Lakukan malam ini juga!” perintah Diandra.
Kali ini tekad Diandra sudah sangat bulat. Ia harus menghalangi Bian tidur dengan Alisha apalagi sampai memiliki anak. Walaupun sebenarnya dia sudah terlambat karena mereka sudah melakukannya saat bulan madu dan di rumah baru mereka.
***
Malam itu hujan kembali mengguyur bumi. Alisha tetap berangkat mengirim pesanan katering terakhirnya di hari itu.
Bian menawari untuk mengantarnya, namun Alisha malah menolak dan beralasan bahwa ia akan pergi bersama dengan Nadia.
Sebenarnya dia memang akan pergi bersama Nadia, tetapi di tengah jalan Nadia mengirimkan pesan bahwa dia sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa menemaninya.
“Huh, Nadia ini benar-benar!” gerutu Alisha.
Karena sudah ditunggu oleh si pemesan, Alisha memesan taksi online langganannya. Ia menunggu di depan sebuah toko yang sudah tutup. Begitu sebuah mobil datang mendekatinya, Alisha langsung menghampiri dan masuk ke dalamnya.
Namun satu kesalahan Alisha adalah, dia tidak memeriksa terlebih dahulu apakah itu mobil yang ia pesan atau bukan. Karena warna mobil itu memang sama dan berhenti tepat di depannya. Jalanan tempat ia menunggu pun sangat sepi, sehingga jarang ada mobil lain yang lewat di sekitar tempat itu. Alisha dengan lancar menaikkan barang pesanannya dan menyapa sopirnya dengan ramah.
“Selamat malam!” sapa Alisha.
Namun orang itu tidak menjawab dan langsung memacu mobilnya. Alisha merasakan ada yang aneh dari sopir itu. Dan ia juga melihat rute yang ia ambil bukan rute yang akan ia tuju.
Dan saat Alisha berusaha menanyakan hal itu pada sopir tersebut, tiba-tiba ada seseorang dari jok belakang yang muncul dan menyerangnya dengan memukul kepala bagian belakang Alisha. Spontan Alisha langsung pingsan karena pukulan itu cukup keras.
Ternyata itu bukan mobil ojek online pesanan Alisha, mereka adalah orang-orang yang disuruh oleh Diandra untuk menculik Alisha.
__ADS_1