Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Harus Hadir


__ADS_3

Nara sudah kembali ke Jakarta dan Reka masih berada di Jogja. Sepakat tidak saling mengganggu hanya saling mendukung agar Reka segera ditugaskan Papihnya di jakarta, demi kebaikan semuanya. Bahkan Nara saat ini disibukkan juga dengan mendampingi Rika, bertekad ingin lulus dan wisuda berbarengan dengan saudara kembarnya.


“Rika itu sangat beda dengan Reka,” ujar Meera saat keduanya berada di ruang makan. Baru saja menyelesaikan makan malam dan Rika yang sudah lebih dari seminggu tinggal di kediaman Kevin sudah berada di kamarnya menemani putrinya.


“Beda seperti apa Bun?”


“Tidak semandiri dan seberani Reka, mungkin karena perempuan, juga terlalu polos. Makanya waktu Eltan mendekati Rika, Bunda dan Papih sangat khawatir. Kita sepakat menerima keinginan Eltan untuk memperistri Rika. Bisa kamu bayangkan, yang laki-laki sudah matang dan yang perempuan masih bocah.”


Nara berdiri dari duduknya bermaksud kembali ke kamar. “Kamu yang sabar ya, beberapa hari lagi kok Reka akan benar-benar pulang ke Jakarta,” ucap Meera.


“Iya Bun.”


***


Nara sudah siap berangkat, sedang mengecek isi tasnya sebelum masuk ke mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Leo.


“Nara.”

__ADS_1


Nara dan Leo pun menoleh. Cindy berjalan bergegas menghampiri Nara, berkunjung sepagi itu untuk menemui Nara sudah pasti ada hal penting yang ingin disampaikan.


“Ada apa, aku harus berangkat,” seru Nara.


“Reka kemana sih, kok aku susah hubung dia,” keluh Cindy pada Nara. Sungguh Nara ingin menggoyangkan kepala Cindy, agar otak yang bergeser itu bisa kembali ke tempatnya. Bagaimana bisa dia tidak menghargai perasaan Nara sebagai istri dari Reka.


“Mau apa cari suami aku?” tanya Nara menunjukkan sikap posesifnya.


Cindy berdecak, “Kamu nggak ngerti-ngerti ya, aku ingin Reka bantu aku dari ikatan pernikahan yang aku tidak inginkan.”


“Reka nggak ada dan jangan libatkan Reka dalam urusan kalian.”


“Ngapain kamu cari Reka? Sudah jelas-jelas Reka sekarang sudah menikah,” tutur Rika. Cindy pun menoleh, “Kalau bukan karena Nara menikah dengan Reka, aku nggak akan dijodohkan dengan Reno. Kita tuh pasangan terbalik, harusnya aku bersama Reka dan Nara dengan Reno,” ungkap Cindy.


Rika terkekeh, “Kalaupun Reka nggak berjodoh dengan Bu Nara, kamu pikir kami merestui Reka sama kamu. Kayak nggak ada perempuan lain aja,” ejek Rika lalu kembali menuju pintu rumah.


“Rika, kamu tahu dimana Reka?”

__ADS_1


“Ujung dunia,” sahut Rika dengan asal. Cindy berdecak lalu meninggalkan kediaman Kevin.


“Ayo, aku antar,” ajak Eltan yang sudah membawakan tas Rika dan merangkul bahu istrinya menuju mobil mereka.


“Aku nggak paksa kamu selesaikan tepat waktu. Ingat sekarang prioritas utama kamu adalah keluarga, jadi jangan memaksakan diri.” Eltan kembali menasehati istrinya sambil fokus mengemudi. “Hm.”


“Aku serius sayang,” ujar Eltan lagi.


“Tapi kalau aku sampai nunda kelulusan nanti makin malas. Sebenarnya ini nggak bakal ribet kalau kamu bantuin aku. Bu Nar juga Cuma kasih arahan-arahan aja tapi nggak ....”


“Kamu mau dibantu bagaimana? Bantu yang kamu maksud itu dibuatkan bukan bantu menyusun,” sela Eltan. “Tapi bagus juga kalau kamu cepat lulus, biar bisa program kehamilan ya,” sahut Eltan yang dibalas dengan tatapan dengan sorot mata yang tajam.


“Apa sih, ngomong itu gampang. Eksekusinya susah dan itu aku sendiri yang merasakan.” Eltan hanya terkekeh.


Sementara itu di kampus, Nara sudah kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Berbagai beban tugas selain mengajar sudah menanti. Ditengah aktivitasnya, notifikasi ponsel Nara berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Pesan yang diterima dari Kakek Radit yang menyampaikan pernikahan Cindy dan Reno akan berlangsung minggu depan. Radit sangat berharap kehadiran Nara.

__ADS_1


 Nara menghela nafasnya, tidak bisa membayangkan jika dia harus hadir menyaksikan pernikahan orang yang sudah menyakitinya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2