
Reka menegakkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Nara yang sudah merona karena menyadari apa yang akan Reka lakukan. Hembusan nafas Reka terasa hangat mengenai wajah Nara. Bahkan hidung mancung Reka hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Nara.
Reka menelan salivanya karena bibir Nara yang sudah beberapa waktu tidak diresapinya. Saat akan memajukan tubuhnya, kedua tangan Nara berada di dada Reka seakan menahan tubuh Reka untuk semakin dekat.
“Ra.”
“Kamu sudah mandi belum?” Pertanyaan Nara benar-benar merusak momen yang Reka ciptakan. Bahkan sejak dalam perjalanan Reka sudah membayangkan akan melakukan hal apa saja untuk melepaskan kerinduannya. Tentu saja dengan hal-hal yang cukup romantis.
“Belum sih, tapi aku sudah cuci tangan dan cuci muka.”
“Reka, kamu habis dari bandara bertemu banyak orang. Cepat mandi, kita nggak tau kuman apa yang kamu bawa.”
Reka mengusap kasar wajahnya. “Ra, padahal tadi momen lumayan romantis. Kamu tega bener deh,” sahut Reka sambil beranjak turun dari ranjang. “Jangan tidur lagi,” ujar Reka.
“Hmm.”
“Kangen aku udah diujung Ra,” ujar Reka sambil mendorong pintu kamar mandi.” Tidak lama Reka kembali membuka pintu kamar mandi dari dalam dan menyembulkan kepalanya. “Bisa kali dua ronde Ra,” ucap Reka.
__ADS_1
“MANDI!”
Bruk.
Reka bergegas menutup kembali pintu kamar mandi karena tidak ingin Nara berubah marah dan menggagalkan semua rencananya. Nara turun dari ranjang untuk mengambilkan piyama untuk Reka dan meletakkannya di atas meja rias. Reka keluar dari kamar mandi sambil bersiul dengan tubuh hanya terlilit handuk di pinggangnya. Tetesan air dari rambutnya yang basah masih terlihat juga aroma sabun menguar di hidung Nara membuat dirinya yang sedang fokus pada ponsel menoleh ke arah Reka.
“Itu piyama kamu,” ujar Nara sambil menunjuk piyama yang sudah disiapkan olehnya. “Ngapain pakai piyama, orang aku mau langsungan.”
“Langsungan kemana?” tanya Nara heran.
“Tau ah, kamu kebiasaan kalau urusan begini susah connect-nya. Ya memang nggak ada pendidikannya urusan kenikmatan tapi jangan polos-polos juga kali,” sahut Reka lalu merangkak naik ke ranjang dan memposisikan tubuh Nara di bawah kungkungannya.
Nara mengangguk. “Ke sini,” ujar Reka sambil mendaratkan bibirnya pada bibir Nara lalu memagutnya lembut. Suara decapan pun mengalun di kamar yang akan menjadi saksi bisu perhelatan penuntas kerinduan antara Reka dan Nara.
Cukup lama, Reka akhirnya melepas pagutannya dan mulai melucuti gaun tidur Nara. Tidak lupa dia hempaskan juga handuk penutup bagian bawah tubuhnya. Kini kedua anak manusia itu sudah dalam keadaan polos. Reka menatap puja dan penuh damba pada pahatan sempurna kemolekan tubuh Nara.
Reka kembali mempertemukan bibir mereka sehingga menyebabkan peraduan lidah bahkan pertukaran saliva. Reka bahkan dengan semangat menelusuri dengan lembut tubuh Nara. Bibirnya menjelajah di setiap lekuk bagian tubuh yang sudah sangat dirindukan. Meskipun menggebu tapi Reka berusaha lembut dan membuat Nara merasa nyaman hingga dengan sepenuh hati akan menyerahkan jiwa raganya hanya untuk Reka tanpa paksaan.
__ADS_1
“Reka ... please,” ujar Nara
Nara tak tahan dengan usapan indra perasa Reka yang terus bermain dan bergerak di bawah sana. Membuat Nara merasakan sensasi yang tidak biasa. Entah karena begitu merindukan Reka atau memang Reka bergaya tidak biasa.
Mulut Nara kembali mendessah membuat Reka semakin menggebu dalam menggerakkan indranya.
"Reka, aku nggak tahan. Lakukan sekarang," titah Nara dengan mata terpejam dan kedua tangan meremmas sprei. "Sesuai keinginanmu nyonya," sahut Reka lalu menyatukan tubuhnya. Memejamkan mata sambil mengerang pelan saat bagian bawah tubuhnya mulai digerakan. Pasangan itu benar-benar terhanyut dalam pusaran kenikmatan. Meleburkan rasa rindu dengan gerakan yang melenakan keduanya.
Sekali seakan tidak cukup, Reka kembali mengulang aksinya. Masih dengan gerakan lembut dan perkasa. Akhirnya mereka melewati malan syahdu itu dengan saling menghamburkan rasa lewat sentuhan.
"Terima kasih sayang, kamu makin arggg," ujar Reka sambil mencium kening Nara setelah pelepasannya yang kedua.
Nara hanya mengangguk dengan mata yang sudah terpejam.
"Aahhh." Erang Reka saat melepaskan tubuhnya.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Nggak hot 'kan? sengaja, dari pada ikutan pengen.