Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bikinnya Sama-sama


__ADS_3

Sudah lebih dari satu minggu Reka dan Nara terpisah jarak dan hanya bisa melepas rindu lewat jaringan. Jangan ditanya masalah rasa rindu, Reka kadang uring-uringan karena kesal harus menahan rindu. Kevin pun ikut dibuat kesal  mendengar Reka yang selalu mengutarakan keinginannya untuk belajar bisnis di Jakarta. Kevin bahkan harus menasehatinya bahwa sudah tanggung jawabnya sebagai pemimpin rumah tangga untuk bisa melangkah dan berfikir lebih jauh.


Selama seminggu ini, Nara tidak dipersulit oleh masalah keluarganya. Entah apa yang dilakukan Elang Sanjaya, yang jelas Reno seminggu ini tidak ada menunjukan batang hidungnya ataupun mengganggu lewat panggilan atau pesan.


Jam kerjanya sudah berakhir, Nara pun bersiap pulang. membereskan berkas dan menutup file-file yang sedang dibuka. “Mau pulang?” tanya Ardi.


“Iya,” jawab Nara tanpa menatap langsung si penanya. Dia tidak ingin berinteraksi dengan pria lain terlalu berlebihan meskipun memang tidak pernah berlebihan dalam berkomunikasi dengan Ardi. “Aku jarang lihat Reka, kalian tidak sedang bertengkar ‘kan?”


“Owh, nggak.”


Ardi berjalan di samping Nara menuju parkiran. Leo memperhatikan sosok pria di samping Nara. Mengenali dari foto yang disampaikan Reka yang juga memasukan Ardi sebagai person warning. “Silahkan Bu,” ujar Leo sambil membuka pintu. Ardi menatap heran pada Leo, “Kamu siapanya Nara?” tanya Ardi saat Nara sudah masuk mobil.


“Bodyguard, maybe.” Leo berjalan memutar menuju pintu kemudi.


Mobil yang membawa Nara sedang berada di tengah kepadatan jalan Jakarta. Nara menyandarkan punggungnya, seakan tidak sabar ingin segera tiba di rumah untuk segera rehat. Karena jika tidak berubah, besok Reka akan pulang. Tentu saja dia akan menyambut Reka dengan sepenuh hati dan segenap jiwanya. Hormon kehamilan membuatnya lumayan sentimentil termasuk rasa bahagia karena kepulangan Reka.


“Bu Nara, pria tadi sepertinya tidak terlalu membahayakan.”

__ADS_1


“Maksudnya Ardi?”


“Hm. Nama beliau termasuk fotonya ada di list orang yang harus saya awasi agar tidak menyakiti Ibu,” terang Leo. Nara hanya menggelengkan kepalanya, tidak menyangka jika Reka masih saja cemburu pada Ardi.


“Dia rekan kerja aku, selama ini tidak pernah menyulitkan atau menyusahkanku,” sahut Nara.


Leo tertawa, “Mungkin menyulitkan perasaan Tuan Reka.”


Setelah makan malam dan berbincang dengan Ibu mertuanya. Nara memutuskan ke kamar dan beristirahat. Entah jam berapa, yang jelas Nara merasa dalam kondisi sangat lelap saat merasakan pergerakan di ranjangnya. Juga sentuhan tangan memeluk tubuhnya dari belakang.


Kedua matanya langsung mengerjap saat merasakan kecupan di ceruk leher yang membuat tubuhnya seketika meremang. Saat hendak beranjak ada tangan yang menahan tubuhnya seakan tidak mengijinkan dia untuk bangun.


“Eh, jangan begitu sayang. Ingat, kamu sedang hamil.”


“Reka!”


Nara meraba saklar lampu dan memastikan jika orang yang baru saja menyentuh nakal tubuhnya adalah Reka suaminya.

__ADS_1


“Loh, kamu kok ada di sini? Bukannya baru pulang besok?” tanya Nara heran.


Reka berdecak, “Kamu nggak kangen aku gitu? Masa aku sudah di hadapan kamu malah bilang begitu,” tutur Reka dengan wajah merengut.


“Bukan begitu, kaget aja. Kamu bilang pulang besok tiba-tiba ada di sini.”


“Aku naik penerbangan terakhir, udah kangen kamu banget,” cakap Reka dengan manja. Nara hanya tersenyum  sedangkan Reka merentangkan kedua tangannya seraya meminta Nara untuk mendekat. Nara menghambur ke pelukan Reka, membenamkan wajahnya pada leher suaminya. Aroma maskulin khas tubuh Reka sungguh dia rindukan. “Aku kangen,” ujar Nara.


“Aku lebih kangen,” Sahut Reka sambil mengeratkan pelukannya dan mendaratkan bibirnya pada kening Nara. “Kabar baby gimana?” tanya Reka lalu mengurai pelukannya dan sedikit menunduk untuk mencium perut Nara yang masih rata.


“Hey junior, apa kamu menyusahkan Mommy? Kamu akan berhadapan dengan Daddy kalau Mommy kesulitan karena kalian,” ancam Reka.


Nara refleks memukul lengan Reka, “Jangan ancam babyku.”


“Babyku juga Ra. Bikinnya ‘kan sama-sama.” Reka menegakkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Nara yang sudah merona karena menyadari apa yang akan Reka lakukan.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ayo, mereka mau ngapain?


Lanjut malam ya


__ADS_2