Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Jangan Dipercaya


__ADS_3

Laila, Nara sudahlah," ucap Radit menengahi. "Tolong bantu Kakek, tanda tangani surat itu untuk pencabutan laporan," pinta Radit.


Nara sempat menatap Reka. Keduanya saling diam tanpa ekspresi, kecewa pada orangtua.


"Tidak kek, tolong pahami aku," ujar Nara. 


Radit menganggukan kepalanya tanpa menatap wajah Nara.


"Nara, kamu benar-benar ya. Apa susahnya hanya tanda tangan, Reno bukan penjahat. Dia lakukan hal itu pasti punya alasan, kalian ‘kan dulunya pasangan. Mana tau sebenarnya memang ada sesuatu yang kamu dan Reno sembunyikan," tutur Laila penuh emosi.


Nara mengepalkan tangannya geram, rahangnya mengeras, nafasnya agak terengah menatap lekat wajah Ibunya. Wanita yang melahirkannya tapi tidak pernah peduli dengan tumbuh kembangnya. Nara bahkan lebih dekat dengan pengasuhnya yang saat ini sudah tidak bekerja pada Radit dan pulang ke kampung halaman.


Laila, wanita yang tidak pernah ikut campur dengan hidup Nara tapi saat ini mencaci dan memaksa Nara untuk mengikuti apa yang diinginkannya. Bahkan merendahkan harga diri Nara di depan Reka dengan mengatakan bahwa ada hal yang disembunyikan Nara dan Reno.


“Ibu tidak ada hak mengatakan itu padaku. Atas dasar apa Ibu bicara tanpa tau apa yang terjadi, aku ....” Nara tidak dapat melanjutkan kalimatnya, tangisnya pecah.


Reka merangkul bahu Nara, “Sudah sayang, ingat kamu sedang hamil, jangan terlalu emosi,” bisik Reka sambil mengusap punggung Nara.


“Maaf, aku tidak bisa mengabulkan permintaan kalian.” Nara beranjak berdiri diikuti oleh Reka.


“Kamu memang mirip dengan Leon, tidak sopan dan tidak tau diri. Itulah kenapa aku lebih memilih meninggalkan kamu di rumah ini, melihatmu mengingatkan aku pada Leon yang brengsek.”


“Meskipun Ibu sebut Ayah brengsek, tapi dia tidak pernah menyakiti hati aku dan berusaha untuk selalu ada tidak pernah menghina aku dan sampai sekarang hidupnya baik-baik saja tidak pernah aku dengar ada masalah dengan usahanya. Bukan seperti kalian yang rela mengorbankan aku demi urusan bisnis.”


“Kamu ....”


“Cukup!” hardik Reka. “Sejak tadi saya menahan emosi melihat Nara direndahkan bahkan dengan Ibunya sendiri. Sebagai suami saya akan mendukung apa yang Nara putuskan.”


“Kalau Ibu jadi kamu, Ibu lebih memilih Reno yang jelas latar belakang keluarganya,” ejek Ibunda Nara.


“Laila, jangan memperkeruh suasana,” ucap Radit.


Reka hanya diam, tidak mungkin dia harus menjelaskan seperti apa keluarganya karena memang yang berjaya adalah keluarganya bukan dirinya. Belum ada hal membanggakan yang bisa dia sampaikan. Nara yang semakin tersulut emosinya, meraih map di atas meja yang berisi dokumen pencabutan laporan. Merobek dokumen tersebut dan melemparkan ke udara.


Laila menghampiri Nara melayangkan tangannya tapi berhasil ditahan oleh Reka. “Nara sekarang tanggung jawab saya, tidak ada yang boleh menyakitinya. Bahkan juga anda,” ucap Reka.


“Laila, sudahlah.” Ayah tiri Nara mencoba menenangkan istrinya. Reka menghempaskan tangan Ibunda Nara.

__ADS_1


“Ada apa ini?”


Reka dan Nara yang merasa tidak asing dengan suara itu pun menoleh.”Reka,” panggil Cindy. “Kamu di sini?” tanyanya.


“Kalian saling kenal?” tanya Ayah tiri Nara.


“Tentu saja aku kenal, Reka ini kekasihku tapi malah menikah dengan perempuan itu,” tunjuk Cindy pada Nara dengan dagunya.


“Cindy, jangan bicara sembarangan. Nara adalah kakakmu juga.”


“Apa maksud Ayah, Kakak aku? Bukankah putrinya Ibu Laila itu seorang Dosen?” tanya Cindy. “Jadi, dia putrinya Ibu Laila. Oh My God, Reka kamu menikahi wanita yang lebih tua.” Cindy tertawa seakan mengejek. “Kita memang tidak pernah bertemu dan aku baru tau kalau kamu menikah dengan Kakak tiriku,” ejek Cindy.


Reka menghela nafasnya menyaksikan apa yang terjadi. Drama apa lagi ini, batinnya.


"Jadi laki-laki yang kamu sebut pacar itu dia?" tanya Laila.


"Iya," jawab Cindy.


"Putra dari Kevin Daud?" Laila kembali bertanya.


"Iya," jawab Cindy.


“Papah gimana sih ? Nara tidak cabut tuntutannya, Ayahnya Reno pasti membatalkan kerjasamanya,” keluh Laila.


“Laila, apa yang dikatakan oleh Nara benar. Seharusnya sebagai seorang Ibu kamu memahami Nara, bukan malah menghinanya begini.”


“Aku tidak menghina, tapi mengajarkan realita kehidupan pada Nara. Sekarang dia boleh saling cinta dengan suaminya, besok belum tentu. Buktinya aku dan Leon berakhir seperti ini,” ucap Laila.


“Ibu kenapa menikahkan Reka dengan Nara bukan dengan aku,” ujar Cindy. Laila menghela nafasnya, “Tenang saja sayang, Ibu tidak yakin pernikahan mereka akan langgeng. Kalau kamu melihat peluang untuk mengambil hati Reka ya lakukan saja,” titah Laila.


“Jangan macam-macam dengan Reka dan keluarganya. Kalian belum tau siapa mereka,” tutur Radit lalu beranjak meninggalkan Laila dan keluarganya.


“Kalau begini, bagaimana nasib perusahaan? Apa kalian siap kita hidup seadanya atau menumpang di sini,” keluh suami Laila.


Reka yang sedang mengemudi akhirnya menepikan kendaraannya. Nara sejak tadi menangis karena kecewa dan emosi menghadapi sikap Ibunya. “Hei, sudahlah. Boleh marah tapi jangan keterusan,” ujar Reka sambil menghapus jejak basah di wajah Nara.


“Aku malu sama kamu, lihat sendiri bagaimana sikap Ibu aku berbeda dengan keluarga kamu Reka.”

__ADS_1


“Itu namanya rejeki kamu Ra, tidak merasa dicintai di keluarga sendiri tapi berharga di keluarga suami. Termasuk mendapatkan aku sebagai suami, rejeki juga ‘kan?” tanya Reka sambil senyum menggoda. Nara mendorong dada Reka agar tubuhnya menjauh.


“Jadi, mau kemana kita sekarang?” tanya Reka sambil kembali melaju. “Kampus, pulang atau ....”


“Aku mau liburan,” ucap Nara.


Reka menoleh lalu kembali fokus pada kemudinya. “Maksudnya liburan bagaimana?”


“Aku butuh liburan, besok weekend. Kita pergi sore ini, please Reka,” pinta Nara.


“Aku sih siap aja. Sekalian honeymoon,” ungkap Reka sambil terkekeh. 


Sesampainya di kediaman Kevin, Reka dan Nara dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sudah berada di ruang tamu ditemani oleh Meera.


"Cindy," ucap Reka.


"Kalian baru datang? Aku sudah tunggu sejak tadi,” ujar Cindy.


Reka dan Nara saling tatap. Nara hanya mengedikkan bahunya seakan menjelaskan jika dia tidak tahu soal ini.


“Nara, tidak pernah cerita kalau punya adik perempuan,” ucap Meera


“Karena kami tidak saling mengenal, aku baru tau jika Nara yang dimaksud adalah dia,” jujur Cindy.


“Lalu apa tujuanmu ke sini?” tanya Reka.


 Cindy terlihat bingung, mungkin dia belum menyiapkan alasan yang masuk akal berada di antara keluarga Reka.


"Mau bertemu kamu dan Nara. Kok lama sih, ke mana dulu?" tanya Cindy. "Bukan urusan lo, udah deh mending lo pulang."


"Reka kamu kok gitu sama aku," ujar Cindy.


"Bun, kalau dia nanti datang lagi ke rumah kita jangan boleh masuk. Apalagi bicara macam-macam, jangan dipercaya," ucap Reka.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2