
Malam itu Bian dan Alisha memulai kembali deep talk mereka setelah pertengkaran terbesar yang pernah mereka alami selama berumah tangga. Mereka sepakat untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul saat itu juga.
Alisha mengajak Bian berdiam di kamar tanpa memikirkan hal lain selain mereka. Bahkan mereka juga mematikan ponsel agar tak ada yang mengganggu pembicaraan serius itu. Alisha menggunakan kesempatan ini untuk mengutarakan apa yang selama ini telah mengganggu pikirannya.
“Sayang, aku minta maaf ya. Tapi aku mau ngomong sama kamu” ucap Alisha pelan.
“Hm? Ngomong aja, sayang!” jawab Bian.
“Aku boleh nggak minta kamu jangan sering pulang malam lagi?”
“Aku tahu itu kerjaan kamu, tapi kadang aku takut kalau sendirian” ucap Alisha sambil menunduk.
Bian tersenyum gemas melihat istrinya yang begitu pelan mengatakan pikirannya, seolah takut dia akan memarahinya lagi. Bian pun langsung memeluk istrinya dengan hangat.
“Iyaa, aku nggak akan pulang malam lagi. Kasihan banget istriku sendirian” ucap Bian dengan nada lucu.
“Kamu belajar darimana ngomong kayak gitu?” tanya Alisha heran mendengar suaminya berbicara dengan nada yang diimut-imutkan.
Bian hanya tertawa dan malah menawarinya untuk tinggal di rumah orang tuanya. Tentu saja Alisha sedikit ragu akan hal itu. Dia masih belum siap bertemu dengan ibu mertuanya. Tetapi jika dia menolak tawaran Bian, dia akan lebih mencurigainya.
“Kenapa? Kamu masih takut sama mama?” tanya Bian.
“Eng..enggak. Cuma kalau mama masih marah-marah lagi, aku takut jadi stres..”
Bian mengangguk sependapat dengan ucapan Alisha. Dia mencoba memikirkan pilihan lain.
“Apa ibuk aja kita minta tinggal di sini?” tanya Bian.
“Ibuk?”
Alisha tampak berpikir lama. Sebenarnya dia tidak hanya memikirkan masalah kesendiriannya jika ditinggal Bian bekerja, namun ia sering merasa tak nyaman setiap melihat keluar, ke arah halaman dimana hidup Diandra berakhir.
Diamnya Alisha membuat Bian kembali mengulang pertanyaannya.
“Kenapa? Ada hal lain yang ingin kamu katakan?” tanya Bian.
Alisha memaksa dirinya untuk berani mengatakannya. Dia tidak ingin hal-hal kecil yang disembunyikan dari pasangan, akan menyakiti mereka berdua suatu saat nanti. Alisha mengatakan keinginannya untuk pindah dari rumah itu. Bukan karena takut makhluk halus atau semacamnya. Dia hanya merasa tidak nyaman berada di rumah itu.
Syukurnya respon Bian tidak seperti dugaan Alisha. Ia berpikir suaminya akan mengomel padanya karena memintanya pindah secara mendadak. Ternyata Bian dengan santai mengatakan akan segera memikirkannya.
“Makasih, sayang.”
“Ada lagi?” tanya Bian.
“Hm? Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Ada lagi nggak, yang mau kamu katakan lagi sama aku?”
Alisha mengerucutkan bibirnya, karena yang masih tertinggal dan ingin ia katakan adalah sesuatu yang akan membuat dia tampak seperti istri yang posesif.
“Aku nggak suka si Berlian itu manggil kamu ‘mas’” jawab Alisha.
“Hah?”
Bian tertawa keras hampir satu menit. Dia bisa merasakan puncak dari kekesalan istrinya hanyalah hal ini.
“Kamu cemburu?” tanya Bian.
“Cih, padahal dia seumuran, kenapa panggil mas?” gerutu Alisha.
“Kalau gitu kamu panggil mas juga aja!” timpal Bian.
“Hah? ‘Juga’? Kamu mau dia manggil begitu terus?” seru Alisha sambil memukul dada Bian.
“Enggak, enggak. Nanti aku bilang sama dia biar panggil aku BAPAK!” Bian memberi nada khusus pada kata ‘Bapak’ untuk meyakinkan istriya yang tengah cemburu.
“Cih!”
“Kamu nggak mau coba manggil aku pakek mas? Mas Bian gitu” tanya Bian sambil menahan tawanya.
Alisha cukup kaget dengan permintaan Bian. Ia terus mendesaknya untuk memanggilnya dengan sebutan “mas”. Bian seolah tahu bahwa hal itu ada dalam daftar keinginan Alisha jika dia memiliki pasangan. Sejak SMA, Alisha memang berkeinginan mempunyai pacar dengan usia yang lebih tua darinya. Selisih lima tahun adalah hal yang selama ini menjadi impiannya.
Alisha menganggap seseorang dengan selisih lima tahun lebih tua darinya adalah tipe pasangan yang tepat baginya. Dia ingin bermanja dan diemong oleh kekasihnya. Namun yang ia dapatkan adalah laki-laki yang lebih muda darinya. Entah apa yang membuat Bian menyukai dan menerimanya, tapi perlahan Alisha pun melupakan impiannya. Bian sudah sangat cukup memberinya kebahagiaan meski usianya terpaut dua tahun lebih muda darinya. Dia sangat bisa memahami Alisha dan semua keadaannya.
Memanggil pasangan dengan sebutan “mas” juga adalah bagian dari impiannya selama ini. Hal seremeh itu begitu bisa membuat Alisha bahagia. Tentu saja dia bisa melakukan itu pada Bian, memanggilnya begitu toh bukan hal yang sulit. Hanya saja dia merasa sedikit aneh.
Cuph
Alisha terkejut dan menoleh ke arah Bian yang tiba-tiba memberinya kecupan pipi.
“Kamu malah bengong sih” kata Bian.
“Lagi mikir, ya? Malu kalau manggil aku pake mas gitu? Karena aku lebih muda?” lanjutnya lagi.
“Enggak lah. Cuma udah sering pake ‘sayang’ jadi agak canggung aja” jawab Alisha.
“Coba deh!”
Alisha agak ragu. Mulutnya mendadak sulit mengucap kata yang harusnya sangat mudah.
“Iyaa, ma..”
__ADS_1
Alisha menggoda Bian yang menunggu dengan ekspresi yang lucu.
“Maa..ss..Bian!”
“Kok gitu?” protes Bian.
Akhirnya karena Bian merajuk, Alisha menurutinya dengan memanggilnya “Mas Bian”. Melihat wajah suaminya yang langsung sumringah, Alisha merasa lega. Akhirnya semua yang menjadi beban pikirannya selama ini, bisa ia utarakan dan selesaikan bersama suaminya. Bahkan jika pun dia harus membumbuinya dengan bahasan-bahasan remeh seperti itu, dia tidak akan keberatan selama masalah itu tak membuat rumah tangganya retak apalagi berantakan. Dan deep talk malam itu pun telah berakhir dengan baik.
***
Butuh waktu empat bulan sebelum Bian akhirnya memutuskan untuk menjual rumah itu. Sementara itu mereka memilih tinggal di rumah Alisha. Meski Alisha sedikit merasa tidak enak karena rumahnya terlalu kecil untuk ukuran orang sekaya Bian, namun suaminya terus mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan itu.
Bian juga kembali aktif di perusahaannya. Setelah meyakinkan Alisha bahwa ia tak akan melakukan hal-hal yang menyakiti hatinya, akhirnya Alisha memberinya ijin untuk kembali bekerja meski harus meninggalkannya di tengah kehamilannya yang semakin besar. Namun tetap saja, kecemburuan dan kegelishan Alisha masih bersarang dan mengganggu dirinya.
“Jangan pulang telat lagi ya!” ucap Alisha dengan wajah lesunya.
“Iyaa. Tapi hari ini aku akan bertemu dengan Berlian lagi. Ada urusan yang belum selesai..”
Sebelum Bian menyelesaikan kalimatnya, Alisha nampak akan menyelanya. Namun Bian langsung memberinya pengertian. Dia langsung menambahkan bahwa pertemuannya bersama Berlian tidak akan dilakukannya sendiri, melainkan bersama David dan beberapa pemegang saham yang lain.
Meski malu karena menjadi istri yang posesif, tapi Alisha cukup senang mendengarnya. Setidaknya ia semakin tahu bahwa Bian tak akan membuatnya kecewa.
Masalah kasus Diandra pun akhirnya resmi ditutup dengan kesimpulan bahwa dia memang melenyapkan dirinya. Bian dan David juga dinyatakan tidak memiliki korelasi apapun terhadap kematian Diandra. Satu-satunya masalah yang tersisa adalah Alisha yang masih menyimpan rahasia bahwa ibu mertuanya adalah dalang dari penculikan itu.
Begitu sampai di kantor, Bian bertemu dengan ibunya yang sudah menunggu selama satu jam di ruangannya. Sama seperti sikap Bian yang masih dingin pada ibunya, Mama Liana pun juga masih sama. Ia masih belum menerima Alisha sebagai menantunya. Bahkan ketika dia sudah mengetahui bahwa Bian akan memiliki anak dari Alisha, dia masih saja menganggap menantunya adalah benalu dan hama yang mengganggu keluarganya.
“Ada apa mama kesini?” tanya Bian.
“Mama ingin mengecek laporan investor kita. Apa kamu sudah menemukannya?”
“Sudah.”
“Siapa orangnya? Apa mama kenal?” tanyanya lagi.
Bian tidak menjawab. Ia terus menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang akan ia bawa. Dan saat mamanya terus mendesak untuk memberitahunya, pintu ruangannya tiba-tiba diketuk oleh seseorang.
Begitu tahu bahwa Berlian lah yang datang, Bian langsung menyuruhnya masuk. Namun kedatangan Berlian justru membuat Mama Liana terpukau. Ia terpikat dengan keanggunan dan kecantikan Berlian. Terlebih saat dia tahu kalau usia Berlian sebaya dengan anaknya, ditambah dia adalah investor yang dibicarakan Bian, semua membuat Berlian tampak sempurna di mata Mama Liana.
“Selamat siang, tante!” sapa Berlian.
“Oh, siang juga! Siapa namamu?” tanya Mama Liana.
“Saya Berlian, Tante.”
Dan obrolan mereka yang berlangsung lama membuat perasaan Bian semakin tak enak. Ia bisa merasakan bahwa posisi Diandra telah digantikan oleh Berlian.
__ADS_1