Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 34


__ADS_3

Setelah kembali dari mencari makanan, Nadia melihat Alisha menangis sendirian di kamar rawatnya. Nadia langsung meletakkan makanan yang ia bawa dan menghampiri Alisha.


“Kenapa, Al? Kamu masih mikirin bayi kamu, ya?” tanya Nadia pelan.


Alisha masih terus meneteskan air matanya tanpa henti. Matanya menerawang kosong.


“Nad, apa Mas Bian disini terus selama aku belum sadar?” tanya Alisha dengan suara yang serak.


Nadia mulai bingung menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia sempat menduga Alisha tahu bahwa Bian sempat pergi entah kemana. Tapi Nadia sendiri juga tidak yakin kemana Bian pergi saat itu. Meski tidak tahu alasan Alisha menangis sambil menanyakan hal itu, Nadia pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu dengan jujur.


“Tentu saja dia disini terus. Ya sempat sih dia keluar karena mengurus dokumen untuk operasi kamu, tapi dia selalu nemenin kamu” jawab Nadia.


“Kamu yakin dia pergi ngurus dokumen?” tanya Alisha lagi.


“Emang mau ngapain lagi saat istrinya lagi kayak gini? Udah, kamu jangan banyakan mikir yang aneh-aneh. Fokus aja sama pemulihan kamu!” kata Nadia.


Meski ia mempercayai sahabatnya, Alisha masih tak yakin dengan jawaban Nadia. Tapi ia memilih tak melanjutkan lagi pertanyaannya mengenai Bian.


Lain halnya dengan Nadia. Dia sangat hafal dengan sifat sahabatnya. Tidak mungkin Alisha bertanya seperti itu tanpa mengetahui sesuatu. ditambah saat ia kembali dari kantin rumah sakit, dia sempat melihat ibu mertua Alisha sedang berjalan keluar dari rumah sakit bersama gadis yang sebelumnya masuk bersamanya. Gadis yang selalu ditatap Bian saat berada di kamar menjenguk Alisha.


“Apa mereka masuk di saat aku nggak ada dan Alisha mendengar percakapan mereka?” batin Nadia.


Sementara itu Bian dan David sudah selesai mengurus pemakaman bayi mungil itu. Sementara David langsung kembali ke kantor untuk mengurus masalah pekerjaan, Bian mengantar ibu mertuanya pulang ke rumah. Ia memastikan pada ibu mertuanya bahwa dirinya akan menjaga Alisha di rumah sakit.


“Jaga Alisha ya, Nak Bian!” ucap ibu mertuanya.


“Iya, Bu. Jangan khawatir soal itu! Ibu istirahat aja di rumah!” jawab Bian seraya tersenyum.


Setelah selesai mengantar ibu mertuanya, Bian berencana kembali ke rumah sakit untuk menemani Alisha. Tapi di dalam mobil ponselnya berbunyi, dan saat melihat siapa yang menelepon, Bian nampak pasrah. Ternyata panggilan itu berasal dari Berlian.


“Halo!”


“Halo, Mas! Kamu dimana?” tanya Berlian dari balik telepon.


“Di jalan. Ada apa?”


“Kamu bisa kesini nggak? Aku mau ngomong sesuatu” kata Berlian.


“Aku harus kembali ke rumah sakit. Ngomong di telepon aja!” kata Bian.

__ADS_1


“Kamu harus kesini, Mas.”


Bian memutuskan untuk menemui Berlian terlebih dahulu. Ia juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh gadis itu. Dia berharap Berlian tidak seperti yang ia bayangkan.


***


Di rumah sakit, Nadia masih menjaga Alisha dan mengurusnya selayaknya keluarga sendiri. Ia membantunya makan, membersihkan badannya, dan mengantarnya jalan-jalan di luar kamar agar tidak merasa bosan.


“Nad, kamu nggak pulang?” tanya Alisha saat Nadia mendorong kursi rodanya.


“Kenapa? Kamu mau aku pulang?” balas Nadia sinis.


“Ya kamu kan punya kesibukan, terus katering gimana?” tanya Alisha.


“Udah aku urus. Kamu diem aja udah!” jawab Nadia.


Nadia merasa lega karena melihat sahabatnya sudah bisa tersenyum saat ia menjahilinya. Setidaknya dia sudah bisa sedikit melupakan kesedihan yang ia rasakan saat ini.


Sebenarnya Alisha tidak semudah itu merelakan kepergian anak pertamanya, tapi dia mencoba terus ikhlas dan tabah. Namun di antara keikhlasan itu, selalu muncul pertanyaan dan penyesalan. Pertanyaan mengenai alasan supirnya terlihat seperti itu dan penyesalan karena dia memutuskan untuk pergi ke kantor menggantikan suaminya. Mengingat soal itu, Alisha langsung mengganti topik pembicaraannya bersama Nadia.


“Nad, apa kamu tahu keadaan supirku saat ini?” tanya Alisha.


“Cuma pengen tahu aja. Apa Mas Bian tahu?”


“Kayaknya sih tahu” jawab Nadia.


Nadia sengaja berbohong demi menjaga perasaan dan mental Alisha. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya sahabatnya jika tahu bahwa supirnya mengonsumsi obat tidur saat mengendarai mobil itu. Nadia pun kembali mengantar Alisha ke kamarnya.


Setelah ia memastikan Alisha tertidur, Nadia mencoba menelepon Bian. Dia tak habis pikir kemana lagi orang itu setelah selesai memakamkan anaknya.


“Kemana sih si Bian? Kok nggak bisa dihubungi?” gerutu Nadia.


Nadia mulai mencurigai sikap Bian yang sering meninggalkan Alisha. Menurut Nadia, sikap Bian saat ini tidak mencerminkan seorang suami yang baru saja kehilangan anak pertamanya. Ditambah istrinya masih terbaring dengan luka di sekujur tubuhnya, tapi dia malah pergi entah kemana tanpa bisa dihubungi oleh siapapun.


Seperti bisa melihat bahwa suatu saat akan memerlukan bantuannya, Nadia pun menghubungi David setelah meminta nomor sekretaris Bian itu. Tanpa basa-basi dia bertanya tentang keberadaan Bian. Setelah David menjawab bahwa dia tak sedang bersama Bian, Nadia menutup teleponnya dengan ekspresi yang semakin curiga. Ia yakin bahwa Bian sedang menyembunyikan sesuatu.


***


Ketika Bian tiba di rumah Berlian dan langsung mengetuk pintunya, gadis itu sudah menunggu di balik pintu seolah sudah siap menyambut kedatangan Bian. Setelah membuka pintu rumahnya, Berlian langsung memeluk Bian seolah dia adalah kekasihnya.

__ADS_1


“Berlian, jangan seperti ini! Gimana kalau orang lain melihatnya?” hardik Bian.


“Aku kangen sama kamu, Mas.”


Bian pun melepaskan pelukan Berlian dan langsung bergegas masuk. Ia tak mau tetangga atau orang lain melihat dan mengenalinya.


Begitu mereka masuk, Bian langsung meminta Berlian mengatakan tujuan dia memanggilnya ke rumah itu.


“Katakan! Kau mau bicara soal apa?”


“Kenapa buru-buru sih?” balas Berlian sambil kembali mendekati Bian.


Dengan lancang dan tanpa malu Berlian kembali menggelayuti tubuh Bian. Tangannya melingkar di leher Bian, membuat dia risih dengan sikap Berlian yang selalu menggodanya.


“Berlian..”


“Panggil aku Bey, Mas. Biar lebih mudah” ucap Berlian.


Bian hanya menghela napas dan terus mendongakkan kepalanya. Dia berusaha melepaskan diri dari Berlian yang makin tak bisa menahan dirinya. Ia bahkan makin berani memegang kedua pipi Bian dan menarik kepalanya turun agar dia bisa menciumnya.


“Bey!” teriak Bian sambil melepaskan ciuman gadis itu.


“Kenapa sih, Mas? Bukannya kita udah ngelakuin itu, kenapa sekarang kamu nolak?”


“Mumpung kamu bahas soal ini, aku mau kita lurusin soal itu sekarang juga!” kata Bian tegas.


“Lurusin apa lagi? Semua udah jelas, Mas!” jawab Berlian.


"Aku memang ragu kalau kita sudah melakukan itu, tapi kalaupun kita benar melakukannya, apa maumu?” tanya Bian.


Berlian melepaskan tangannya yang masih ada di tubuh Bian. Dia bergerak mundur dengan tatapan tajam dan senyum sinis yang menghiasi wajahnya.


“Apa mauku?” balas Berlian.


“Menurutmu apa mauku?” lanjutnya lagi.


“Aku nggak tahu makanya aku tanya, APA MAUMU?”


Bian berteriak keras hingga membuat Berlian sedikit terperanjat.

__ADS_1


“Oke, aku mau kamu nikahi aku!” jawab Berlian.


__ADS_2