
Sepanjang acara berlangsung, Reka tidak melepaskan pandangan dari Nara. Selain mengawasi gerak gerik Ardi, dia memperhatikan Nara khawatir dengan kondisi perut besarnya. Nara saat ini tampil beda, melepas kaca mata dan mengatur rambutnya dengan gaya simple.
Tiba saatnya prosesi wisuda, Nara mulai membacakan SK Kelulusan dan memanggil satu persatu wisudawan. Setelah sekian wisudawan akhirnya nama Reka pun disebut. Reka menaiki panggung dengan gagah bahkan sempat terdengar sorak dari wisudawati.
Topi toganya sudah disematkan tanda kelulusannya menempuh pendidikan. Saat melewati Nara, Reka memberikan sun jauh dan kiss bye membuatnya kembali mendapat sorak dari rekan-rekannya. Nara hanya bisa tersenyum sambil kembali menyebutkan nama lainnya. Akhirnya rekan Nara mengetahui jika suaminya adalah Reka Candra. Termasuk juga para rekan Reka yang mengetahui jika Reka benar-benar sudah melepas masa lajangnya dengan menikah dengan Nara dan kini sedang menunggu kelahiran anak mereka.
"Kita foto dulu," ujar Reka sambil merangkul Nara. Berbagai sesi foto dilakukan. Mulai dari Reka dan Rika saja, lalu Reka dan Nara, juga bersama Meera dan Kevin.
Bahkan Nara juga kedua orangtua Reka dan Rika rela menunggu dengan sabar saat si kembar asyik berfoto bersama rekan mereka.
"Ayo sayang, kamu pasti lelah," ujar Reka sambil mengusap perut Nara.
Rika masih asyik berselfie dengan Eltan. "Kita langsung ke Two Season?" tanya Meera. "Iya Bun, Kak Kayla dan Kak Elang sudah tunggu di sana."
***
Dua bulan kemudian.
Nara merasakan tidak nyaman di perutnya sejak pagi, tapi tidak menyampaikan pada Reka. Dipikirnya hanya kontraksi palsu. Tapi semakin siang rasanya semakin sakit. "Bun," panggil Nara sambil meringis menahan sakit menghampiri Meera yang berada di dapur. "Loh, kamu kenapa sayang?" Meera menuntun Nara untuk duduk disofa.
"Sudah terasa?" tanya Meera sambil mengelus perut Nara yang terasa kencang. Nara mendesis pelan karena rasa nyeri yang kembali mendera.
"Kita ke rumah sakit." Meera meninggalkan Nara memanggil supir agar menyiapkan mobil juga menuju kamar Reka mengambil perlengkapan bersalin yang sudah disiapkan sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu sudah hubungi Reka?" Nara menggelengkan kepalanya. Kebetulan sekali jalanan cukup padat, membuat laju mobil yang membawa Nara tersendat-sendat. Sudah tiga kali mendampingi dan mengurus kelahiran cucunya, Meera tidak terlalu khawatir lagi. “Kalau saat datang rasa nyeri kamu tarik nafas,” ucap Meera.
Ketika mobil yang membawa Nara tiba di rumah sakit, tepatnya di depan UGD. Suster dan tim medis langsung membawa Nara ke ruang tindakan bersalin. Mengecek kondisi pembukaan dan tekanan darah juga lainnya.
Meera sempat menghubungi Reka agar cepat datang ke Rumah sakit. Setelah di wisuda, Reka fix membantu Papihnya di perusahaan. meskipun tidak langsung sebagai direktur tapi memulai dengan jabatan yang dikuasainya sambil mempelajari menangani bisnis dan memimpin perusahaan.
Reka berlari di sepanjang koridor Rumah Sakit, jas dan dasinya sudah ditinggalkan di mobil. Menuju ruang bersalin, menanyakan keberadaan istrinya pada salah satu perawat. “Sayang.” Reka berdiri di samping brankar yang dipakai oleh Nara. Mengusap titik keringat yang muncul di dahinya. “Ka ... sakit,” keluh Nara sambil meringis.
“Iya aku tahu rasanya pasti sangat sakit, kamu sabar sayang.” Nara sampai berpegangan di penyangga ranjang yang terbuat dari stainless. “Baru pembukaan lima, Bunda tunggu di luar sambil beritahu yang lain.”
Nara kembali meringis, membuat Reka tidak tega melihatnya. “Apa kita pilih operasi saja? Katanya operasi tidak sakit.”
Nara menggelengkan kepala, “Tidak sakit saat dioperasi tapi penyembuhannya lama,” tutur Nara. “Jadi gimana?” Nara tetap dengan pendiriannya akan berusaha melahirkan normal. Menjelang malam, Nara panik karena ketubannya pecah. Perawat yang akan membantu proses melahirkan mengecek pembukaan jalan lahir dan ternyata sudah lengkap.
Sudah beberapa kali Nara mengejan dengan dipandu dokter tapi bayinya belum mau keluar. “Ayo sayang, kamu bisa. Kita bikinnya sampai berpeluh dan penuh drama.”
“Berisik,” pokoknya aku nggak mau hamil lagi.
Nara kembali mengejan sekuat tenaganya. Cucu Kevin Daud pun akhirnya terlahir dengan sempurna. “Fix gue jadi seorang Ayah.” Reka mengecup kening Nara agak lama. “Terima kasih sayang, sudah menerima aku menjadi imammu. Dengan lahirnya anak diantara kita, aku harap hubungan kita semakin kuat. Karena aku hanya mencintamu.”
“Terima kasih juga sudah mau menerima ideku untuk menikah. Ternyata aku menemukan keluarga baru yang benar-benar menerima dan menyayangiku.”
“Apapun yang terjadi ke depan, please tetap bersama dan percaya padaku.” Pernikahan Reka dan Nara yang awalnya karena perjodohan perlahan membawa keduanya ke dalam perasaan yang sama. Menikah dengan wanita yang luar biasa.“Terima kasih sayang, sudah menjadi pelengkap hidup seorang Reka."
__ADS_1
Nara menangis bahagia di pelukan Reka. "Mudah-mudahan aku nanti tidak khilaf untuk tidak buat kamu hamil."
"Memang kalau aku hamil kenapa?"
"Bukannya kanu tidak ingin hamil lagi?" tanya Reka.
"Nggak, siapa bilang. Aku mau punya anak banyak." Reka hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
...TAMAT...
Yuhuu akhirnya tamat juga. Terima kasih yang sudah membaca dari awal sampai bab ini. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Sepertti biasa, karya ini hanya hiburan, ambil pesan positif dan tinggalkan pesan negatif yang tersirat.
Yuk semuanya pindah ke karya baru author
__ADS_1