Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Mandi Dulu


__ADS_3

“Pak, saya ikut bareng ya. Mobil saya bermasalah lagi,” pinta Selly.


“Reka.”


Reka yang belum menjawab permintaan Selly menoleh karena seseorang memanggilnya. Meyakinkan kedua matanya benar menatap sosok yang sangat dia rindukan. “Nara,” ucap Reka sambil berjalan menghampiri istrinya.


Nara dengan wajah sedikit merengut harus pasrah saat Reka meraih tubuhnya dalam pelukan. “Kamu bisa di sini sayang? Kenapa nggak kasih tau aku?” tanya Reka lalu mengurai pelukannya. Kondisi lobi sudah tidak terlalu ramai, karena sudah cukup sore dan jam kerja kerja telah berakhir. Tapi masih ada beberapa orang yang lalu lalang dan tentu saja menyaksikan momen tadi.


Selly menatap Reka dan Nara dengan raut wajah heran. Perempuan itu siapa sih, kok Pak Reka pakai peluk-peluk segala, batin Selly.


Nara masih diam, wajah Reka berubah ceria dan sangat antusias karena kehadiran Nara. Tangannya mengusap perut Nara yang terlihat sudah membuncit. Nara memiringkan kepalanya menoleh ke arah Selly yang masih melihat ke arahnya dan Reka berada. “Dia siapa sih, kelihatannya dekat dengan kamu. Ngajak pulang bareng segala, jangan-jangan kalian sering anter jemput ya?” tanya Nara penuh curiga.


Reka menghela nafasnya, “Nggak sayang, ayo kita pulang. Aku kangen banget loh,” sahut Reka mencoba mengalihkan atensi Nara. Tangan kanan Reka meraih handle koper milik Nara dan menyeretnya sambil melangkah menuju pintu keluar, sedangkan tangan kirinya berada di bahu Nara.


“Pak Reka,” panggil Selly.


Reka dan Nara pun menghentikan langkahnya dan menoleh. “Saya boleh ....”

__ADS_1


“Nggak, masih banyak alternatif kendaraan umum. Nggak malu kamu mau numpang dengan atasan kamu atau jangan-jangan kamu cari kesempatan untuk dekat dengan Reka,” ujar Nara dengan nada ketus.


Selly mengernyitkan dahinya heran dengan perempuan yang berani menghardiknya. “Kamu siapa, Pak Reka aja nggak keberatan kok.”


“Selly sebaiknya kamu cari taksi saja dan jangan berlebihan dengan mengatakan saya tidak keberatan dengan sikap kamu. Wanita ini istri saya, ayo, sayang,” ajak Reka.


Selama perjalanan, Nara hanya menatap ke luar jendela menikmati pemandangan jalanan kota Yogya. Sedangkan Reka menduga jika Nara salah paham antara dirinya dan Selly, “Sayang,” panggil Reka yang sesekali menoleh diantara fokusnya mengemudi.


Nara menoleh ke arah Reka, “Kamu belum cerita bagaimana bisa sampai ke sini,” ucap Reka memecah kesunyian dan berusaha mengurangi memarahan Nara.


“Aku mau makan malam dulu, setelah itu baru bahas masalah tadi,” sahut Nara. Reka hanya bisa menelan saliva karena sangat khawatir jika Nara benar-benar salah paham atau tidak memahami jika tidak ada yang terjadi antara Reka dan Selly.


“Hm, apa aja. Kamu biasa makan malam di mana? Apa dengan perempuan tadi.” Reka menghela nafasnya karena Nara kembali menyinggung dia dan Selly.


“Nggak pernah Ra, aku nggak pernah sengaja makan malam bareng dia.” Reka membelokkan kendaraan pada salah satu restoran. “Di sini aja ya, menu khas Jogja,” ujar Reka. Nara turun setelah Reka membukakan pintu untuknya dan berjalan dengan tangan Reka berada di pinggangnya posesif.


“Aku merokok dulu,” ujar Reka setelah mereka selesai dengan makan malamnya. “Satu batang doang,” ucap Reka lagi yang hanya dijawab Nara dengan anggukan kepalanya.

__ADS_1


Kini Reka dan Nara sudah berada di dalam rumah yang ditempati Reka selama dia berada di Yogya, “Kamu sama Papih tinggal di sini?”


“Hm, tapi Papih akhir-akhirnya ini lebih fokus di Jakarta,” sahut Reka.


Reka mengajak Nara ke kamar mereka, lalu mendudukkan istrinya di pinggir ranjang sedangkan dia masih berdiri di hadapan Nara.


“Kenapa nggak bilang kalau mau menyusul ke sini?”


Nara menghela nafasnya, “Aku kemari didukung oleh Bunda. Tadi pagi dia tahu kalau aku habis nangis karena kamu bilang nggak bisa pulang lagi. Bunda yang usul untuk aku kemari, menurutnya kehamilan aku sudah aman untuk naik pesawat. Akhirnya aku ajukan cuti ke kampus dan Papih yang urus tiket juga siapa yang jemput aku di bandara.”


Reka hanya mengangguk, selama ini dia cukup puas dengan kerja Leo karena mendengar Nara aman dan tidak ada yang berani mengganggu atau mendekatinya termasuk Reno. “Lalu bagaimana dengan kamu? Siapa tadi perempuan yang kelihatannya ada kedekatan dengan kamu?”


Reka akhirnya duduk di samping Nara, “Ra, aku sudah pernah bilang kalau tanpa aku merespon atau tebar pesona akan ada perempuan agresif yang menggoda, salah satunya perempuan tadi. Tapi serius Ra, aku nggak pernah merespon. Sekalinya aku antar dia itu pun karena terpaksa aku nggak ada alasan untuk menolak dan tadi kedua kalinya. Tapi aku senang ada kamu, jadi ada alasan untuk menolak. Besok-besok dia nggak akan berani mencoba mendekat lagi karena tahu jika aku benar-benar punya istri yang menggemaskan dan cantiknya bikin Reka klepek-klepek,” ungkap Reka sambil mendekatkan wajahnya.


Nara mendorong tubuh Reka, “Gombal.” Kemudian berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. “Ra, aku kangen banget. Masa kamu nggak kangen, apalagi sama adikku ini Ra,” rengek Reka. Nara hanya tertawa, “Mandi dulu.” 


\=\=\=\=

__ADS_1


Adik yang mana woy 🤣🤣


__ADS_2