Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 14


__ADS_3

Diandra menelepon Mama Liana untuk memastikan keberadaan Alisha. Tapi karena Mama Liana tidak berada di rumah, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Diandra. Dan akhirnya ibunya Bian itu menghubungi asisten rumah tangganya untuk memeriksa posisi Alisha.


Setelah memastikannya, wanita paruh baya itu memberitahu Diandra bahwa Alisha belum pulang ke rumah.


“Oh, jadi kamu nggak pulang?” gumam Diandra dengan senyum liciknya yang khas.


Sementara itu, ternyata Bian menghubungi Nadia, sahabat istrinya. Ia memastikan keberadaan Alisha padanya, karena istrinya itu tidak mengangkat telepon darinya.


“Dia di rumah, Bi. Tapi tolong, jangan bikin dia nangis lagi!” pinta Nadia.


Sebenarnya gadis itu juga tidak mau mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Ia juga tidak mau Alisha langsung mengalah dalam ‘peperangan’ ini. Namun melihat reaksi Bian yang langsung menghubungi dan meminta bantuan darinya, ia merasa sepertinya ada baiknya Bian segera menghampiri dan menjemput Alisha.


Ternyata hal yang membuat Bian berlari keluar kantor adalah informasi yang ia dengar dari obrolan para karyawatinya.


“Eh, gue tadi denger di toilet, istri Pak Bian berantem sama Bu Diandra” kata salah seorang karyawatinya.


“Masa sih? Berantem gimana? Kepo deh gue” timpal yang lainnya.


Karyawati itu pun menceritakan keseluruhan yang ia dengar dari bilik toilet. Sebenarnya dia tidak berniat menguping pembicaraan itu, tetapi dia merasa suasana akan berubah canggung jika dia muncul tiba-tiba di tengah percakapan mereka. Maka dari itu dia memilih untuk diam di dalam bilik toilet.


Ia menceritakan keseluruhan bagian dari obrolan Diandra dan Alisha. Bian berubah stres dan frustasi begitu mendengar cerita tentang bagian yang tidak ia dengar. Ternyata ia melakukan kesalahan besar pada istrinya.


Ternyata istrinya begitu membela dan mempercayainya. Bahkan ia menerima kesalahan di masa lalu suaminya. Dengan bangga Alisha mengatakan bahwa ia akan mempertahankan rumah tangga mereka. Tetapi bodohnya, Bian justru membuatnya menangis dengan membentak dan meneriakinya. Padahal setelah dipikir lagi, meski Alisha menuduh ibunya terlibat, ia tahu betul jika sang ibu memang membenci dan berusaha menjatuhkan istrinya.


“Bodoh kamu, Bian!” gumamnya pada dirinya sendiri.


Ia tidak meminta David untuk mengantarnya. Bian sengaja ingin menyetir sendiri agar dia bisa berlama-lama bersama Alisha. Istrinya itu pasti sudah marah besar padanya.


Begitu sampai di rumah sang istri, Bian langsung masuk ke kamar Alisha setelah menyapa ibu mertuanya yang juga terlihat kebingungan.


Ia melihat Alisha yang tengah tertidur pulas dengan mata yang sedikit sembab.


Bian mendekatinya perlahan dan membelai rambut Alisha dengan lembut.

__ADS_1


“Sayang, maafin aku!” ucap Bian lirih.


Sentuhan Bian ternyata langsung bisa membangunkan Alisha. Matanya mengerjap kaget saat melihat Bian sudah duduk di depannya. Ia pun langsung bangun dan duduk di atas kasurnya.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Alisha ketus.


Bian menggerakkan bibirnya karena gelisah. Namun ia memahami sikap dingin istrinya ini.


“Aku mau minta maaf sama kamu” ucap Bian.


“Maaf kenapa?”


Alisha sudah menduga bahwa suaminya baru saja mengetahui kebenaran yang ia salah pahami, entah bagaimana caranya ia tahu hal itu.


Tetapi Alisha memang tidak suka dengan Bian yang membentak dan meneriakinya. Bahkan ini terasa lebih menyakitkan daripada melihat videonya bersama Diandra.


“Semuanya. Karena neriakin kamu, karena membentakmu, karena nggak percaya sama kamu, karena tidak jujur sama kamu” kata Bian.


Alisha tidak mengatakan apapun. Matanya mulai berkaca-kaca. Ternyata suaminya tahu semua kesalahan dirinya. Air matanya mulai menetes. Namun ia langsung masuk dalam rengkuhan tangan Bian yang memeluknya hangat.


“Aku nggak mau kamu bentak lagi, Yang. Aku ini lebih tua dari kamu lho” kata Alisha yang mulai bercanda di antara tangisnya.


Bian tertawa dan menangis saat melihat istrinya bercanda seperti itu. Ia semakin menyayangi Alisha. Bahkan yang ia masalahkan hanya bentakan dan teriakannya, ia sama sekali tidak membahas perihal videonya.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bian lagi.


“Soal apa? Video itu?”


Bian mengangguk. Alisha mulai menatap suaminya dengan tatapan tajam memicing. Acara tangis sendunya sudah berakhir, dan berganti menjadi acara bergenre thriller kali ini. Bian yang melihat perubahan di mata Alisha, kini menjadi sedikit gugup.


“Apa kamu melakukannya?” tanya Alisha dengan nada interograsinya.


Sedikit lama waktu yang dibutuhkan Bian untuk memberi reaksi atas pertanyaan Alisha. Namun dengan yakin ia membuka mulutnya.

__ADS_1


“Kalau maksud kamu apakah aku tidur dengan Diandra, enggak” jawabnya tegas.


“Apa kamu yakin? Bukan lupa karena lagi nggak sadar diri?” cecar Alisha lagi.


“Enggak, Yang. Aku inget semuanya hari itu” jawab Bian.


Seketika raut wajah Alisha berubah lega. Tubuhnya yang terlihat tegang karena berusaha terlihat tegas dan tegar, kini kembali seperti sedia kala. Ia memeluk kembali suaminya itu.


“Itu cukup!” ucapnya lirih.


“Makasih, Yang. Makasih banyak”


Pelukan Bian semakin erat dan hangat. Ia pun memutuskan untuk menginap di rumah istrinya beberapa hari kedepan. Dan masalah di antara mereka telah selesai dengan baik hari itu.


***


Jika peperangan antara Bian dan Alisha telah mereda, kini peperangan itu berpindah ke rumah mamanya Bian. Dia mengamuk seisi rumah karena Bian tidak pulang dan malah menginap di rumah istrinya.


Ditambah lagi setelah mendengar cerita dari Diandra tentang kejadian di kantor, amukannya semakin menjadi-jadi.


Ia menyuruh sekretaris dan sopirnya untuk menjemput Bian di rumah Alisha. Tetapi sebelum mereka menjalankan perintah tersebut, David telah datang lebih dulu ke rumah itu untuk memberitahukan pesan dari Bian yang dititipkan padanya.


“Nyonya, Pak Bian meminta saya untuk memberitahukan bahwa..” David berhenti sejenak karena ragu.


“Apa?” teriak Mama Liana.


“..bahwa Pak Bian telah memutuskan untuk menghentikan kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan Ibu Diandra” akhirnya David menyelesaikan ucapannya.


Mendengar berita yang super mengejutkan baginya, Mama Liana bukan lagi mengamuk tapi ia sudah murka. Barang-barang yang ada di sekitarnya telah hancur lebur dibuatnya. Staf dapur yang ada di sampingnya pun ikut menjadi sasaran tinjunya yang asal pukul.


Ia langsung memerintahkan anak buahnya menjemput Bian dan Alisha, saat itu juga. David pun tidak bisa lagi menahan keputusan nyonya besar itu.


Yang bisa ia lakukan hanyalah menghubungi Bian untuk mengabarkan berita ini padanya. Ia yakin betul akan ada peperangan besar hari itu.

__ADS_1


Bian memintanya datang ke rumah Alisha saat itu juga, secepat mungkin untuk mengamankan Alisha dan ibunya. Karena Bian merasa mamanya tidak akan tinggal diam setelah mendengar keputusan besar yang ia ambil.


Alisha tak tahu Bian telah memutuskan hal sebesar itu. Ia juga tidak tahu bahwa hari itu akan terjadi sesuatu hal yang besar di rumahnya.


__ADS_2