Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 36


__ADS_3

Alisha masih memikirkan alasan apa yang membuat Berlian begitu yakin bahwa Bian akan menikahinya. Melihat gadis itu menyebutkannya dengan penuh percaya diri, sepertinya alasan itu cukup kuat di mata Berlian.


Hal yang bisa dipikirkan Alisha hanyalah masalah bisnis yang mengharuskan mereka menikah. Seperti yang diketahui Alisha, bahwa perusahaan Bian yang hampir saja terkena masalah, kini kembali bangkit setelah dibantu oleh dana investasi Berlian. Alisha sama sekali tak percaya bahwa Bian akan berselingkuh dengan Berlian.


“Tapi kenapa dia sebut hutang? Hutang apa selain bisnis itu?” gumam Alisha.


“Apa mungkin mereka..”


Brakk


Alisha terperanjat saat tiba-tiba terdengar suara pintu di tempat itu terbuka dengan keras, seolah sengaja dibanting oleh seseorang. Dan memang benar, Alisha melihat seorang laki-laki yang menerobos masuk ke dalam area tempat Alisha berdiam diri. Sebenarnya area itu adalah atap rumah sakit yang memiliki beberapa sisi dan fasilitas bagi pasien untuk beristirahat dan terapi. Alisha menemukan tempat itu ketika berusaha mencari tempat yang sepi untuk menenangkan dirinya.


Untungnya saat laki-laki itu masuk, Alisha tengah berada di sisi lain yang tak terlihat oleh orang tersebut. Dengan langkahnya yang masih tertatih, dia pun beringsut mundur untuk menghindari pria yang datang dengan amarah yang meluap tersebut. Awalnya Alisha ingin keluar dan meninggalkan tempat itu, tetapi ketika pria itu menyebutkan nama Alisha dan Bian, dia jadi mengurungkan niatnya.


Dengan semakin menyembunyikan dirinya, Alisha berusaha menguping omongan pria asing itu. Dia terlihat menelepon seseorang dengan nada bicara yang sangat tinggi dan emosional.


“Yang, kamu jangan kayak gitu dong! Dia kan udah nolak kamu, kenapa kamu masih aja ngejar dia?” seru pria itu.


Dan setelah lawan bicaranya selesai membalas ucapannya, dia kembi emosi.


“Bian, Bian, Bian lagi! Apa aku kurang buat kamu? Apa harus kamu tidur dengannya buat dapetin pria angkuh itu?” teriak laki-laki itu penuh emosi.


“Aku udah janji kan, akan membuat Alisha itu diam di rumah sakit ini selama mungkin, tapi kamu juga harus konsisten sama rencana kita!” teriaknya lagi.


“Pokoknya aku nggak mau tahu! Kamu harus selesaikan semuanya secepat mungkin!”


Laki-laki itu menutup teleponnya diiringi dengan teriakan dan sumpah serapah. Ia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Sementara Alisha yang dari tadi mendengar semua teriakan orang tersebut, mendadak tubuhnya lemas dan kepalanya merasakan sakit yang sangat hebat. Ia dengan jelas mendengar kata “tidur dengannya”. Alisha semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan suaminya saat ini. Dan ketika dia berusaha keras memikirkannya, Alisha justru terhuyung dan terjatuh hingga kepalanya terbentur pot bunga besar yang ada di depannya, hingga Alisha tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


Nadia yang sudah berusaha mencari keberadaan Alisha dimanapun tapi selalu nihil, akhirnya memutuskan untuk menelepon David.


“Vid, tolong gue! Alisha nggak ada di kamarnya. Gue udah cari kemanapun tapi belum ketemu” kata Nadia panik.


David yang mendengar kabar dari Nadia, langsung berangkat menuju rumah sakit. Dia menelepon Bian yang tengah menyusul dirinya untuk membahas masalah supir Alisha.


“Mas, putar balik aja ke rumah sakit! Mbak Alisha menghilang!” kata David dari telepon.


“Sial!” pekik Bian dari dalam mobilnya.


Bian pun langsung panik dan menuruti instruksi David untuk putar balik ke arah rumah sakit. Kepalanya serasa mau pecah. Semua permasalahan tak henti-henti mendatanginya. Hidup Bian mendadak berubah 180 derajat dari semula tenang dan bahagia, kini berubah panik dan penuh kekhawatiran.


Tak lama mobil Bian dan David memasuki area parkir rumah sakit dengan waktu yang hampir bersamaan. Mereka berdua langsung berlari menuju kamar Alisha yang cukup jauh dari lantai dasar. Begitu sampai kamar, yang mereka temui hanyalah Nadia yang masih dalam kondisi panik.


“Kamu jagain Alisha nggak sih?” teriak Bian pada Nadia.


“Mas, kita berpencar saja! Aku akan coba cari di lantai bawah” kata David.


Akhirnya mereka bertiga berpencar. Bian pun melibatkan sekuriti untuk mencari istrinya. Diketahui saat itu kondisi Alisha memang masih dalam keadaan lemas dan belum stabil, tapi bagaimana bisa dia keluar dan berjalan sendiri sampai sulit ditemukan seperti ini.


***


Sementara Bian sibuk mencari istrinya yang tengah menghilang di rumah sakit, Berlian dan Mama Liana justru sedang merapatkan barisan untuk mewujudkan keinginan mereka berdua.


Berlian yang sempat mengatakan bahwa Bian akan menikahinya karena berhutang sesuatu, akhirnya memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Mama Liana. Dia menceritakan semua dari awal makan siang mereka hingga dia sampai di rumahnya. Berlian juga dengan berani dan tanpa rasa malu mengatakan bahwa Bian menidurinya dalam keadaan mabuk. Namun meski ia dengan sengaja mengatakan hal itu dengan niat agar didukung oleh sang mama, Berlian justru memasang wajah sedih dan berurai air mata palsu.


“Jadi? Jadi kalian sudah tidur bareng?” seru Mama Liana histeris.


“Iya, Tante. Mas Bian mabuk dan langsung melakukannya” ucap Berlian dengan tampang sok sedihnya.

__ADS_1


“Terus kenapa kamu ngomong ini ke saya?” balas Mama Liana dengan senyuman yang tak biasa.


“Huh? Saya, maksud saya..” Berlian mendadak tergagap karena terkejut melihat reaksi yang dilontarkan Mama Liana.


“Kamu ada niat tersembunyi, kan?” tanya Mama Liana.


Berlian tak langsung menjawab karena masih bingung merangkai kata untuk meyakinkan wanita paruh baya ini.


“Aku sudah tahu, Berlian. Aku tahu kamu ingin menikah dengan Bian, kan?”


Berlian mengangguk pelan yang disambut tawa lebar dan pelukan dari Mama Liana. Berlian masih tak paham dengan jalan pikiran wanita yang menurutnya sangat aneh itu.


“Aku akan membantumu dan merestuimu menjadi istri Bian, tapi kamu harus membantuku!” ucap Mama Liana.


“Bantu apa, Tante?”


Mama Liana yang selama ini nampak anteng semenjak peristiwa kematian Diandra, kini mulai kembali pada dirinya yang lama. Ia dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling menceritakan semua yang terjadi semenjak Alisha masuk ke dalam keluarga Herdianto.


Mama Liana juga mengatakan bahwa keputusannya menerima Berlian untuk menikah dengan Bian adalah karena dia sangat sempurna di mata wanita itu. Mama Liana tidak ingin terus hidup bersama bayang-bayang Alisha yang membuatnya malu di kalangan teman-teman sosialitanya.


“Bisa kamu bayangkan betapa malunya aku saat temen-temenku bilang menantuku adalah perawan tua miskin” kata Mama Liana.


Merasa telah mendapatkan lampu hijau dari sang mama, Berlian pun turut mengemukakan pendapatnya yang selama ini ia pendam.


“Pasti malu banget, Tan. Tapi kenapa Tante gak ngusir dia aja dari sini? Atau bikin Alisha minta cerai dari Mas Bian” kata Berlian.


“Aku bahkan udah nyuruh orang buat culik wanita sialan itu, tapi mereka malah goblok meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan” kata Mama Liana.


Mendengar cerita ekstrem itu, alih-alih takut, Berlian justru semakin tertantang untuk masuk ke dalam keluarga Herdianto. Berlian merasa sangat cocok menjadi bagian dari keluarga ini, apalagi dengan Mama Liana. Walaupun aneh, tapi dia memiliki banyak kecocokan dengan Berlian. Dan bayangan menjadi istri seorang Bian Herdianto, sudah membuat Berlian membayangkan hal-hal yang jauh dari angan-angannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2