
Nara berjalan menuju parkiran dengan gontai. Bukan hanya karena lelah, efek kehamilan dan juga rindu pada Reka membuatnya tidak semangat. Ditambah lagi undangan dari sang Kakek untuk hadir di acara makan malam keluarga.
Nara tidak melihat Leo di sekitar mobil. “Langsung pulang Bu?” tanya Leo yang ternyata berada di belakang Nara. Tanpa Nara ketahui jika Leo terus berada tidak jauh dari Nara.
“Iya. Tapi nanti malam saya ada acara.”
“Baik Bu, boleh di share lokasi yang akan dikunjungi.”
Nara menyebutkan tempat yang diucapkan Radit. Leo hanya menganggukan kepala saat mendengar lokasi yang harus diamankan berikutnya.
Sesampainya di rumah Kevin, Nara menghubungi Reka. Situasi Reka saat ini membuatnya dilema. Berat untuk mengiyakan dan tidak mungkin melarang Nara bertemu keluarganya.
"Aku nggak mau datang, kamunya juga nggak ada. Masa aku datang sendiri," rengek Nara.
"Cie yang sudah mengakui tidak bisa jauh dari aku," ledek Reka lalu terbahak. Nara berdecak mendengar ejekan Reka. "Nyebelin."
"Datanglah Ra, nggak enak dengan Pak Radit. Aku yakin Leo bisa diandalkan," ujar Reka. Tidak lama percakapan mereka berakhir. Reka menghubungi Leo dan menceritakan singkat bagaimana hubungan Nara dengan keluarganya termasuk orang yang harus Leo benar-benar awasi agar tidak melukai perasaan atau fisik Nara.
"Jadi pergi?" tanya Meera melihat Nara sudah rapih. "Iya Bun. Bunda nggak apa-apa makan malam sendiri di rumah? Atau ikut aku saja," ajak Nara.
"Nggak apa-apa. Sudah biasa kok. Acara keluarga kamu, jika Bunda ikut nanti kalian bisa canggung."
Leo mengemudi dan memastikan jika majikannya nyaman. Sudah tugasnya yang bukan hanya menyelamatkan dan mengawasi Nara termasuk juga memastikan kenyamanan menantu keluarga Kevin. Karena ultimatumnya bukan hanya dari Reka selaku suami Nara tapi juga anggota keluarga lainnya.
Leo membuka pintu mobil untuk Nara. Berjalan dibelakang Nara dengan sedikit berjarak. Nara bertanya ruang pertemuan atas nama kakeknya. Diantar oleh pelayan menuju ruangan khusus.
Di sana sudah ada Radit juga keluarga ibunya yang baru saja tiba. Tanpa basa basi Nara hanya menyapa sang Kakek dan mencium tangan pria yang sudah merawatnya sejak kecil.
"Kamu siapa?" tanya Laila pada Leo.
"Supir Bu Nara," ujar Leo singkat. "Ini acara private dan penting, bukan tempatmu disini," ujar Laila dengan ketus.
"Maaf, saya hanya memastikan keamanan Bu Nara."
__ADS_1
"Nara, maksudnya kamu tidak aman jika bersama kami?" Nara tidak menjawab dia hanya mengedikkan bahunya. "Bang Leo bisa tunggu di depan, its oke mereka keluargaku. Tidak mungkin menggigitku kecuali terdesak."
"NARA!" teriak Laila.
"Sudah, jangan ribut. Nggak enak nanti dilihat tamu kita," ucap Radit.
"Tamu?" tanya Nara.
"Iya, Cindy akan menikah. Malam ini pertemuan dengan keluarga calon suaminya."
Nara menoleh pada Cindy yang terlihat cemberut. "Reka mana?" tanya Cindy. "Kalau dia ada disini pasti mau membantu aku membatalkan perjodohan ini," ucap Cindy.
Nara mengernyitkan dahinya. Mensyukuri jika Reka malam ini tidak menemaninya. Bisa dibayangkan jika ada Reka, Cindy pasti akan sangat menarik perhatian dan bermanja pada Reka. “Jodoh kamu ini juga tidak mengecewakan keluarganya mapan. Kamu tidak akan sengsara,” ujar Ayah Cindy.
“Iya, tapi pernah dipenjara karena nyulik orang,” sahut Cindy sambil menatap Nara. Nara tidak mengerti maksud Cindy jadi dia hanya diam. Sedangkan di luar ruangan, Leo yang melihat beberapa orang berjalan mendekati ruangan dan sepertinya mereka adalah tamu keluarga Nara.
Salah seorang dari rombongan itu adalah warning person. Leo pun ikut masuk kembali. “Selamat malam Pak Abimana,” sapa ayah Cindy. Nara menoleh dan senyum di wajahnya langsung sirna melihat siapa yang baru saja datang dan disambut oleh keluarga Ibunya.
Kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Abimana tersenyum sinis pada Nara. Lalu berjabat tangan dengan Radit. Reno yang melihat ada Nara di sana pun sama terkejutnya dengan Nara. “Nara,” panggil Reno.
“Ibu tidak paham dengan pertanyaanmu. Jangan buat situasi tidak nyaman, karena mereka akan menjadi besan Ibu dan kita akan bersaudara dengan mereka,” jelas Laila.
Nara memejamkan matanya menahan kesal. “Bu Nara,” panggil Leo. “Jika ibu tidak nyaman, kita bisa pergi.”
Nara menatap sang Kakek, berharap masih ada yang waras di antara keluarganya. “Maafkan kakek, ini keputusan Laila dan keluarganya bukan kami tidak menghormati dan ....”
“Apa kalian masih ingat persyaratan yang sudah kalian setujui?” tanya Nara pada Reno dan ayahnya ketika menyela ucapan Radit.
Abimana terkekeh. “Bagaimana bisa Reno harus menjaga jarak denganmu kalau dia akan menjadi saudara ipar kamu.”
“Kalau begitu silahkan berurusan dengan pengacara saya,” ucap Nara sambil berdiri.
“Nara, yang sopan kamu,” hardik Laila.
__ADS_1
“Silahkan Bu,” ucap Leo seraya menunjukan jalan. Menurutnya Nara harus segera meninggalkan ruangan tersebut karena hanya akan menambah suasana menjadi tidak kondusif dan bisa dipastikan Nara akan tersakiti.
“Nara,” panggil Reno lalu berjalan menghampiri Nara.
Langkah Reno terhenti karena dicegat oleh Leo. “Singkirkan tanganmu,” ujar Reno. Nara menoleh, dan menyaksikan Leo yang sedang menghadang Reno dengan salah satu tangan berada di dada Reno.
“Anda tidak boleh mendekati Bu Nara. Ingat perjanjian yang sudah anda setujui.” Reno menghempaskan tangan Leo. Abimana melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum menyaksikan tingkah putranya. Radit berdiri lalu menghampiri Leo dan Reno.
Reno melangkah kembali dan lagi-lagi tubuhnya ditahan oleh tangan Leo. Mencoba menghempaskan kembali tangan Leo tapi saat ini tangan Leo mencengkram kerah kemeja yang dikenakan Reno. “Saya sudah melarang dengan cara halus tapi sepertinya itu tidak mempan.”
“Sudah cukup, hentikan. Lepaskan tanganmu,” ujar Radit pada Leo.
“Tugas saya memastikan Bu Nara nyaman dan orang ini jelas-jelas membuat Bu Nara tidak nyaman. Hanya dia yang bisa memerintah saya,” tutur Leo masih mencengkram Reno.
“Nara,” ucap Radit.
“Apa sekarang kakek juga membela mereka?”
“Bukan begitu Nara. Jangan gunakan emosi tapi kita harus duduk baik-baik dan membicarakan hal ini.”
“Kalian yang sudah memainkan emosiku. Aku sudah berbaik hati mengabulkan permintaan gila kalian untuk membiarkan pria bodoh itu bebas tapi kalian juga yang menjerumuskan aku ke jurang untuk kembali melihat wajah penjahat itu. Bahkan kalian mengatakan aku akan menjadi saudara ipar dengannya.” Nara tertawa sinis. “Bang Leo, lepaskan dia. Jangan kotori tanganmu dengan berurusan dengan mereka,” titah Nara.
Leo perlahan melepaskan cengkraman tangannya lalu menatap tajam Reno. “Jauhi majikan saya,” ancam Leo lirih tapi bisa didengar oleh Reno dan Radit.
Leo menghampiri Nara lalu keduanya meninggalkan ruangan dan keluar dari restoran yang hampir saja membuat keributan di sana.
“Langsung pulang atau ....”
\=\=\=\=\=\=
eng ing eng ,,, 😆
__ADS_1