
“Apa? Menikahimu? Apa kau gila?” kata Bian tak percaya.
“Menurutmu apa yang akan terjadi kalau istrimu yang lemah itu tahu apa yang sedang dilakukan suaminya saat dia kecelakaan?” tanya Berlian sinis.
Bian tersenyum kecut, ternyata pikirannya benar bahwa Berlian memang mempunyai niat terselubung di balik peristiwa itu. Dan melihat wajah Bian yang mulai bingung dan cemas, Berlian yang tadinya menjauh dari Bian, kini dia kembali mendekat.
“Kenapa? Kamu takut? Menurutmu aku akan dengan bangga mengatakan hal itu pada istrimu? Atau kamu berpikir aku meminta hal yang lain?” tanya Berlian.
Saat itu wajah Bian dan Berlian sangat dekat. Ia bahkan mengatakan hal itu dengan membisikkannya di telinga Bian.
“Kamu pikir apa yang akan terjadi setelah kamu ngelakuin itu? Gimana kalau aku hamil? Apa aku nggak boleh meminta tanggung jawab darimu?” tanyanya lagi.
Saat itu jantung Bian berdegup sangat kencang. Hati dan pikirannya penuh dengan keraguan. Ia tidak mungkin menikahi Berlian, tapi ia juga memikirkan apa yang diucapkan oleh gadis itu.
Melihat Bian terdiam, Berlian kembali memeluknya. Dan kali ini Bian hanya diam dan pasrah menerima pelukan Berlian. Tatapannya pun kosong. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
“Aku cuma mau menikah denganmu, Mas. Aku nggak minta kamu menceraikan istrimu”
Dan untuk kesekian kalinya gadis itu mencium bibir Bian yang masih saja terdiam. Bahkan karena melihat Bian tidak bereaksi seperti sebelumnya, ia semakin brutal dalam mencium pria yang memikat hatinya. Tentu saja dia sangat ahli dalam hal ini mengingat kesehariannya hanya bermain dengan para lelaki di dalam klub malam. Dan pastinya Bian tak tahu soal itu.
Entah karena sudah pasrah dan tak tahu apa yang harus ia perbuat selanjutnya, Bian justru memulai aksi yang tidak diduga oleh Berlian. Dia yang tadinya hanya diam tak bergerak, kini mengayunkan tangannya ke arah wajah Berlian dan dengan bebas mencium gadis itu seolah sedang dalam keadaan tak sadar. Berlian sendiri merasa terkejut dengan aksi Bian itu. Entah setan mana yang merasuki Bian sehingga dia bisa melakukan hal itu.
Setelah menghabiskan beberapa menit dengan melakukan hal bodoh itu, Bian pun mendorong tubuh Berlian dengan cukup keras hingga membuat gadis itu terkejut.
“Kita nggak bisa kayak gini!” kata Bian dengan napas terengah-engah.
“Apa maksudmu? Lalu barusan apa, Mas?” tanya Berlian.
__ADS_1
“Itu hanya kesalahan!”
Bian berlari keluar dan kembali memacu mobilnya menuju rumah sakit. Sementara Berlian yang baru saja merasakan kesenangan luar biasa karena Bian menciumnya seperti itu, kini berubah mengamuk hingga menghancurkan sebagian barang-barang yang ada di sekitarnya. Ia merasa Bian mempermainkannya saat ini.
“Aku akan membuatmu membayar ini, Bian!”
***
David begitu cekatan mengurus semua pekerjaan yang ditinggalkan oleh Bian begitu saja. Dengan begitu meyakinkan dia berusaha mengatur ulang semua pertemuan yang sudah dijadwalkan. David bahkan bisa mengulur semua permintaan pengajuan berkas yang harus ditanda tangani oleh Bian. Dia melakukan semua itu pun tanpa persetujuan dari Bian, karena dia sudah tahu Bian akan mempercayainya.
David melakukan gerakan cepat ini agar segera bisa mengurusi masalah supir Alisha yang bermasalah itu. Saat ini supir itu masih dalam pengawasan anak buahnya di rumah sakit, tapi selain dokter, David dan Nadia tidak ada lagi yang tahu masalah obat tidur yang terdeteksi di tubuhnya.
Sementara itu Bian yang telah kembali ke kamar Alisha, terlihat bahagia saat mendapati istrinya sudah jauh lebih baik. Namun ia melihat ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Alisha. Ia sedikit menghindari Bian. Bahkan saat Bian ingin memeluknya, Alisha menolaknya dengan beralasan bahwa lukanya akan membuatnya kesakitan. Bian pun tak bisa melakukan hal lain selain menerima perlakuan tersebut.
Melihat Bian kembali, Nadia pun memintanya untuk keluar dan berbicara dengannya.
“Lo darimana aja, sih? Ditelepon nggak bisa dari tadi” jawab Nadia.
“Aku..ngurus kerjaan tadi” jawab Bian sedikit tergagap.
“Kerjaan? Bi, lo tuh bos besar, istri lo lagi kayak gitu lo masih ngurusin kerjaan? Dimana anak buah lo?” protes Nadia dengan nada yang sedikit tinggi.
“Emang ada apa? Kenapa dengan Alisha?”
Sebelum Nadia menjawabnya, ponsel Bian berbunyi dan ia menjawabnya dengan sedikit terburu-buru.
“Iya, saya kesana sekarang!” jawab Bian.
__ADS_1
“Mau kemana lagi lo?” tanya Nadia sinis.
“Sorry, Nad. Aku titip Alisha dulu ya, David bilang ada hal penting soal kecelakaan Alisha” kata Bian.
Ia pun bergegas meninggalkan rumah sakit untuk kesekian kalinya, meninggalkan Alisha kembali sendirian. Nadia juga sedikit kaget ketika mendengar David yang menelepon Bian.
“Apa dia akan ngomong soal obat itu?” gumam Nadia.
Nadia memilih masa bodoh dan kembali ke kamar Alisha. Tetapi dia tidak melihat Alisha di tempat tidurnya. Nadia pun panik dan langsung mencari sahabatnya itu di semua tempat. Tetapi tetap saja, dia tidak menemukan Alisha.
“Al, kamu dimana sih?”
Nadia juga kebingungan harus menelepon siapa untuk membantunya mencari Alisha. Ia pun mau tak mau terus mencarinya dengan tenaganya sendiri.
***
Dengan semua tenaga yang ia punya, Alisha ternyata keluar mencari udara segar di sebuah tempat yang secara tak sengaja ia temukan. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk rumah sakit, dan bisa membantunya berpikir jernih.
Alisha menatap langit dan terus menyeka air matanya. Semua masalah yang saat ini membayangi dirinya, mulai ia urai satu per satu.
Alisha sudah bisa mengikhlaskan kepergian bayinya. Meski hatinya berat, Alisha menyadari bahwa tidak ada yang bisa mengatur kematian seseorang selain Tuhan. Meski sangat menyesali peristiwa itu, dia tidak bisa memungkiri bahwa hal itu tidak bisa dihindari.
Yang paling membuat pikirannya terganggu saat ini justru bukanlah masalah kepergian anaknya. Tetapi mengenai apa yang ia dengar dari percakapan Berlian dan Mama Liana waktu itu di kamarnya.
Saat itu dengan jelas Alisha mendengar ibu mertuanya mengatakan Bian akan segera menceraikan dirinya. Ia juga mendengar bahwa Bian memeluk Berlian karena sesuatu hal. Alisha mencerna penuh mengenai apa yang ia dengar saat itu, karena dengan sangat jelas Berlian mengatakan bahwa Bian akan segera menikahi dirinya.
Awalnya Alisha menganggap itu hanyalah kata-kata konyol yang diucapkan Berlian karena menaruh hati pada suaminya. Akan tetapi setelah mendengar kalimat yang selanjutnya, Alisha semakin yakin bahwa ada sesuatu di antara Berlian dan suaminya. Karena pada saat itu Berlian mengatakan bahwa Bian telah berhutang sesuatu padanya, satu hal yang akan membuat Bian tidak bisa menolak permintaan untuk menikahi Berlian.
__ADS_1