Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 24


__ADS_3

Bian mengikuti proses penyelidikan yang sudah berlangsung selama lima jam di kantor polisi. Meskipun dia dan David hanya berstatus sebagai saksi, namun hal-hal seperti ini selalu bisa mempengaruhi pekerjaan dan karir Bian ke depannya.


Ditambah lagi kejadian ini bukan kejadian kecil yang akan berhenti sampai di ruang interogasi. Ia harus membuka semua alasan mengapa Bian bisa menemukan Diandra dalam kondisi seperti itu mengapa David dan anak buahnya bisa berkumpul dan terlihat mengawasi mobil Diandra, dan yang lebih penting lagi adalah alasan mengapa Alisha yang menjadi orang terakhir yang dihubungi Diandra sebelum kematiannya.


“Bisa Anda jelaskan kenapa anak buah Anda bisa mengawasi mobil korban?”


David dan Bian saling melempar pandangan sebelum akhirnya Bian mengatakan alasan yang sebenarnya.


Bian menceritakan semua kejadian yang menimpa istri dan ibunya, hingga usahanya mencari keberadaan Diandra. Untungnya dari awal Diandra memasuki area rumah Bian, dia sama sekali tak terlihat keluar dari mobilnya. Dan lagi anak buahnya beserta David tidak ada yang mendekati mobil itu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk memecahkan kaca jendela mobilnya.


Interogasi semakin berjalan lancar setelah dibantu oleh pengacara Bian. Sampai akhirnya mereka dihadapkan pada pertanyaan mengenai Alisha yang ditelepon oleh Diandra sebelum ia ditemukan meninggal.


Bian hanya mengatakan dia tidak berada di samping sang istri ketik dia ditelepon oleh gadis itu. Ketika istrinya memberitahunya mengenai hal tersebut, yang Bian ketahui hanyalah Diandra mengatakan sesuatu hal yang menurut istrinya cukup aneh dan mencurigakan.


“Dia hanya mengatakan bahwa Diandra menyebut istri saya sebagai penyebab semua ini terjadi” ucap Bian.


Sebenarnya ia agak ragu mengatakan hal itu di depan para penyidik, sebab ucapan Diandra mengarah pada motif dan alasan dibalik kematiannya.


Mereka bisa saja mencurigai Alisha sebagai dalang di balik peristiwa itu.


Namun sebelum mereka melanjutkan pertanyaannya lagi, salah satu penyidik membisikkan sesuatu pada penyidik yang tengah menginterogasi Bian. Setelah itu penyidik tersebut keluar dari ruang penyelidikan tanpa mengatakan hal apapun.


“Pak Bian, istri anda ada di depan dan sedang memberikan pernyataannya” ucap penyidik itu pada Bian.


Bian terkejut hingga beranjak dari tempat duduknya. ia tidak habis pikir kenapa Alisha tidak mau menurutinya untuk tetap diam di rumah dan menunggunya. Ketika penyidik itu berkata Alisha sedang memberikan pernyataannya, berarti saat ini dia sudah mengetahui bahwa Diandra telah melenyapkan dirinya sendiri.


Bian terlihat sangat frustasi hingga berteriak di dalam ruangan gelap itu. Yang ia pikirkan hanyalah keadaan Alisha dan calon bayinya. Ia mengutuk siapapun yang memberitahunya atau membawanya ke tempat itu.

__ADS_1


Namun penyidik di depannya seolah bisa membaca kegelisahan Bian. Ia memberitahu Bian bahwa penyidik yang bertugas menginterogasi Alisha sudah mengetahui perihal kehamilan istrinya, dan mereka berjanji sebisa mungkin akan menjaga mental dan perasaan Alisha agar tidak tertekan dan stres.


Sementara itu di ruangan lain, Alisha sedang memberikan pernyataannya mengenai panggilan terakhir Diandra. Ia mendapat panggilan setelah para penyidik mengetahui hasil dari penyidikan ponsel Diandra.


Alisha hanya menjawab beberapa pertanyaan yang tidak terlalu menyulitkan posisinya. Ia memang cukup syok saat mendengar kabar buruk itu, terlebih suaminya tengah berada di ruangan lain dan menjalani pemeriksaan yang lebih lama daripada dirinya.


“Permisi, Pak. Apakah suami saya belum selesai?” tanya Alisha.


“Belum, Mbak. Anda boleh menunggunya di ruang tunggu” jawab penyidik yang memeriksanya.


Alisha yang ditemani ibu dan adik iparnya, menunggu Bian di ruang yang sudah disediakan. Meski sudah menyelesaikan kewajibannya, Alisha masih memikirkan ucapan Diandra padanya saat meneleponnya.


Sebenarnya Diandra tidak hanya mengatakan bahwa semua itu gara-gara Alisha. Ada satu ucapannya yang lain, yang belum diungkap oleh Alisha baik pada Bian maupun pihak penyidik.


Diandra mengatakan bahwa kasus penculikan yang dialami Alisha bukan ulahnya. Ada orang lain yang meminta dirinya digantikan oleh Diandra untuk mengurusi penculikan itu. Ketika Diandra mengatakan siapa dalang dibalik penculikan dirinya, Alisha syok dan hampir tidak bisa menahan diri untuk terus menyembunyikannya.


“Memang gue yang meminta orang-orang itu. Tetapi bukan gue yang memiliki ide penculikan lo”


Ketika Alisha masih berkutat dengan pikirannya, ia melihat sang ibu mertua yang lama tak dijumpainya muncul dan berjalan menuju ruangan penyelidikan.


Jantung Alisha berdegup kencang, napasnya mulai memburu dan tak beraturan. Ia meminta Tsabina mengantarnya ke rumah sakit karena ia merasakan perutnya sedikit sakit.


“Kenapa, Mbak? Apa perutmu sakit?” tanya Tsabina panik.


“Iya, dikit. Tapi jangan bilang Mas Bian ya” jawab Alisha sambil terus memegangi perutnya.


Alisha, ibunya, dan Tsabina keluar meninggalkan kantor polisi dan menuju rumah sakit terdekat. Sesuai permintaan kakak iparnya, Tsabina tidak memberitahu Bian soal istrinya yang mengalami kontraksi.

__ADS_1


***


Hari berganti dan Bian masih absen dari kantornya. Ia menyerahkan semua pekerjaannya pada David. Pikirannya masih ruwet, hatinya masih belum nyaman, ditambah ia harus menjaga Alisha.


Mereka berdua berakhir tinggal di rumah Alisha karena mereka masih tidak ingin bertemu dengan Mama Liana. Sementara Tsabina memilih tinggal di hotel karena dia merasa tidak enak jika harus ikut tinggal bersama mereka di rumah Alisha.


Pagi itu Bian ingin mengajak Alisha pergi sarapan di luar. Ia memanaskan mobilnya sembari menunggu Alisha yang sedang berganti baju. Tanpa diduga, sang mama muncul di belakangnya dengan tampilannya yang masih seperti biasanya.


“Bian!”


Bian menoleh dan terlihat malas begitu melihat mamanya lah yang memanggil.


“Ada apa mama kemari?” tanya Bian dingin.


“Mama mau ketemu Alisha” jawab Mama Liana.


“Untuk apa? Untuk mengganggunya lagi?” seru Bian.


Beberapa tetangga yang lewat di depan rumah Alisha cukup kaget mendengar suara Bian yang cukup keras. Dan seperti biasa mereka menjadikan itu sebagai bahan gunjingan di tempat belanja.


Sementara itu, Alisha yang sudah siap dan akan keluar menghampiri suaminya, mendadak mundur dan mematung di belakang jendela setelah melihat kedatangan ibu mertuanya.


Tubuh Alisha kembali dipenuhi keringat dingin. Ia menjadi sangat gugup. Ada perasaan takut dan trauma yang tiba-tiba muncul. Bayangan saat penculikannya pun kembali terlintas di otaknya.


Ia ingin mencoba keluar tapi kakinya sangat lemas. Alisha juga bisa mendengar ucapan mertuanya yang ingin bertemu dengannya.


“Ada apa? Kenapa mama mau bertemu denganku?” batin Alisha.

__ADS_1


Ia ingin memanggil Bian tapi ia juga takut jika mamanya mengetahui dirinya yang berdiri di tempat itu. Alisha begitu takut pada Mama Liana, bukan karena dia sering membuat Alisha menderita dengan perilaku dan kata-katanya.


Ia takut mertuanya akan kembali membawanya seperti waktu itu, karena orang yang menjadi dalang dari penculikannya tempo hari adalah ibu mertuanya sendiri.


__ADS_2