
Reka dan Nara sudah berada di mobil, Nara hanya diam sepanjang perjalanan menatap keluar jendela. Begitupun dengan Reka yang fokus pada kemudi.
"Ra," panggil Reka pada istrinya dengan tetap menatap ke depan.
"Hmm."
"Lama-lama Ibu kamu menyebalkan ya."
Nara menoleh ke samping kanan di mana Reka berada, "Kamu juga sama, menyebalkan," ujar Nara.
"Masa sih?" Goda Reka.
"Aku tuh masih kesal waktu kamu diam-diam mengamankan isi ponsel kamu. Ditambah ulah fans kamu di kantin juga Cindy," tutur Nara lalu kembali menatap ke luar jendela.
Reka malah tertawa, "Itu bukan kesal sayang, tapi cemburu. Aku senang kalau kamu cemburu. Artinya kamu cinta sama aku," ungkap Reka. Nara diam tidak menyahut apa yang disampaikan oleh Reka.
"Ini kita mau ke mana? Kamu nggak balik ke kampus 'kan?" tanya Reka lalu mengusap kepala Nara saat mobil berhenti karena lampu lalu lintas berganti merah.
"Aku mau pulang, ngantuk."
__ADS_1
"Okey."
Reka kembali melajukan mobilnya. Tidak lam kemudian mobil berhenti. "Loh, kenapa ke apartemen?" tanya Nara heran karena mobil yang membawa mereka sudah berada di parkiran basemen apartemen Reka.
"Katanya ngantuk. Kamu bisa istirahat di sini," sahut Reka sambil melepaskan seatbeltnya. "Kenapa aku menduga kalau kamu punya rencana lain," ungkap Nara menatap tajam Reka yang sedang tertawa.
"Kamu kan ngantuk, ya tidurlah. Kalau sudah segar baru bisa aktivitas lain. Ayo turun," ajak Reka.
Nara keluar dari mobil dengan malas tapi tetap melangkah mengikuti Reka. Setiba di unit, sesuai dengan keluhannya kalau saat ini sedang mengantuk, Nara bergegas menuju kamar dan merebahkan tubuh di ranjang setelah melepaskan sepatu kerjanya.
"Beneran lelah ya, bahkan bersih-bersih pun tidak," ucap Reka saa melihat Nara sudah terlelap. Reka keluar dari kamar ketika ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Kevin, papihnya. Cukup lama mereka bicara, Reka sempat mengusap kasar wajahnya ketika panggilan sudah berakhir.
Nara tertidur lumayan lama, bahkan saat ini sudah hampir jam tujuh malam. Terbangun dan langsung bergegas keluar kamar karena perutnya sudah meronta minta diisi. Mendapati Reka yang asyik bermain game di ponselnya dengan banyak puntung rokok yang ada di asbak. Juga ada box-box makanan, sepertinya order dilayanan pesan antar.
"Reka," panggil Nara.
Reka menoleh, "Sudah bangun, kemarilah," titah Reka. Nara menurut dengan duduk di samping Reka. "Aku mau itu," ujar Nara menunjuk box berisi menu fastfood salah salah satu restoran cepat saji ala Jepang.
Reka mengambil dan menyerahkan pada Nara. "Tapi sudah dingin, pesan yang baru aja ya."
__ADS_1
"Lama, aku sudah lapar."
Reka meletakan ponselnya di atas meja, lalu membuka segel botol air mineral untuk istrinya. Merapatkan tubuhnya dengan Nara lalu mengusap perut yang masih terlihat rata.
"Ra, kamu nggak pengen apa gitu? Katanya kalau hamil suka yang minta yang aneh-aneh," tutur Reka. Nara tidak menjawab, dia masih asyik menghabiskan paket makanannya.
Reka duduk bersandar dan mengusap punggung Nara. Setelah meneguk air dalam kemasan botol yang diberikan Reka, Nara bersandar di bahu Reka.
"Aku nggak mau yang aneh-aneh tapi mau kamu jangan aneh-aneh," sahut Nara sambil memeluk. "Kalau aneh-anehnya sama kamu, boleh dong. Apalagi kamu udah mancing-mancing aku aja nih."
"Aduh," pekik Reka sambil mengusap perutnya yang dicubit Nara. "Sakit, sayang."
"Ayo, kita pulang," ajak Nara lalu berdiri menarik tangan Reka agar ikut bangun.
"Duduk dulu, ada yang ingin aku sampaikan," ujar Reka. Nara yang melihat wajah Reka serius pun kembali duduk. "Kelihatannya penting banget, ada apa sih?"
Nara duduk disamping Reka dengan sedikit menghadap Reka. "Mulai besok kamu kemanapun diantar supir ya. Papih ada project di luar kota, beliau minta aku ikut."
"Kamu tinggalin aku? Jadi, kita LDR?"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=