
“Patah hati dia. Suka sama cewek tapi ceweknya suka sama sahabat lak_natnya, masih ada hubungan saudara pula. Yang ada, terpuruk dia,” sahut Rika lalu meninggalkan tempat itu setelah mengambil pesanannya.
"Yang Rika maksud pasti kamu, siapa lagi tuh cewek yang suka sama kamu?" tanya Nara dengan wajah cemberut.
"Nggak tau Ra, yang penting aku setia sama kamu," jawab Reka sambil mengerlingkan matanya.
"Gombal," ejek Nara. Reka hanya terkekeh. Tiba-tiba Nara menutup mulutnya dengan tangan, "Kami kenapa Ra?"
Nara bergegas berdiri dan meninggalkan coffee shop menuju toilet terdekat. Reka mengejar Nara, "Nara, kamu mual lagi?" tanya Reka. Nara tidak menjawab dan langsung masuk ke toilet wanita yang dilewatinya.
Reka menunggu di depan toilet dengan tidak sabar. "Ra, kamu ngga apa-apa?" tanya Reka. Hanya terdengar suara gemericik air. Reka tidak bertanya lagi karena ada beberapa mahasiswi ikut masuk ke toilet.
"Ra, kamu pulang aja deh," titah Reka saat Nara sudah dihadapannya
"Aku nggak apa-apa, sebentar lagi ada kelas."
Reka berdecak, "Harusnya tadi makan bukan minum es nggak jelas."
Jadwal Nara hari ini penuh sampai dengan sore dan Reka sudah pulang sejak siang. Saat kelas terakhir selesai, cuaca malah tidak mendukung. Hujan turun dan lumayan lebat.
Jarak dari parkiran ke ruang dosen lumayan agak jauh dan harus melewati area terbuka. Tidak membawa payung dan tidak mungkin dia harus berhujanan, Nara memilih menunggu di ruang dosen.
Nara sudah mengirim pesan pada Reka jika dia menunggu hujan reda. Ardi yang juga masih stay di kubikelnya memilih menemani Nara. Sebagian dosen sudah pulang dan beberapa memilih menerobos hujan menuju kendaraannya.
"Kamu sakit? Kok kelihatan lebih pucat," tanya Ardi. Nara hanya tersenyum, "Bukan sakit, tapi sedang menyesuaikan," jawab Nara.
"Menyesuaikan apa?" Ardi kembali bertanya.
"Aku dan Reka akan punya anak," jawab Nara. Ardi menghela nafas mendengar bahwa kini Nara sedang mengandung anak Reka. Artinya kesempatan untuknya benar-benar sudah tidak ada.
Sudah hampir gelap, tapi hujan belum berhenti. Nara sudah mengeluh pada Reka lewat pesan-pesan yang dikirimkan.
"Sudah hampir malam, aku carikan payung untuk kamu pulang," ujar Ardi.
"Tidak usah."
Nara dan Ardi menoleh pada Reka yang baru saja datang. "Ayo, kamu pasti sudah lelah," ajak Reka. Nara tersenyum melihat kedatangan Reka. Pamit pada Ardi lalu ikut Reka meninggalkan ruangan. Reka memakaikan jaket yang dia kenakan pada tubuh Nara lalu membawakan tas kerja Nara.
Membuka payung yang dia bawa saat melewati area terbuka. Hujan cukup deras,Reka mengeratkan rangkulannya agar Nara tidak kena air hujan. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil yang mulai melaju meninggalkan kampus.
__ADS_1
“Kamu balik lagi ke sini naik apa?” tanya Nara.
“Taksi, tadinya mau naik motor. Hujan-hujanan, keren 'kan. Rela menerabas hujan demi pujaan hati."
"Hmm, lebay."
Kondisi hujan membuat genangan air dan menimbulkan kemacetan. Nara sudah memejamkan matanya dengan sandaran jok yang dibuat lebih rendah. Reka berusaha secepatnya sampai rumah karena tau kondisi Nara yang tidak fit.
Sesampainya di rumah, Nara bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaian yang membuatnya lebih hangat. Begitu pun dengan Reka.
“Aku nggak suka lihat kamu dekat dengan Ardi,” ujar Reka dengan nada cemburu saat ikut berbaring dengan Nara. “Siapa juga yang dekat dengar Ardi. Aku sudah jaga jarak, tapi memang keadaan aja yang buat kita dekat seperti tadi. Iya kali aku harus bilang, Ardi jangan dekat-dekat nanti Reka ngambek,” tutur Nara.
Reka berdecak, “Ya nggak gitu juga,” sahut Reka. Terdengar ketukan pintu kamar, Reka pun bergegas menghampiri dan membuka pintu kamarnya.
“Mas Reka dan Mbak Nara ditunggu Bapak sama Ibu di bawah.”
“Iya, Bik.”
Reka mengajak Nara turun, “Obrolan kita tentang fans kamu itu belum beres ya,” ucap Reka. Nara hanya mencibir, “Bagaimana rasanya cemburu?” tanya Nara sambil melangkah menuruni tangga. Reka diam saja, ternyata cemburu memang bikin resah.
Kevin mengajak Reka dan Nara ke ruang kerjanya setelah makan malam. Kevin yang duduk di sofa tunggal sedangkan Nara dan Reka duduk bersisian di sofa sebelah kiri Kevin.
"Papih hanya menyampaikan saja, agar kalian tidak terkejut," sahut Kevin.
Nara menggenggam tangan Reka yang terlihat emosi. Nara semakin menyadari jika Reka benar-benar mencintainya. Sikap yang ditujukan Reka yang lebih khawatir dengan kebebasan Reno. Dalam hatinya, Nara berjanji akan lebih mencintai Reka.
Reka menoleh pada Nara, "Kamu nggak akan bujuk Pak Radit untuk tetap memilih jalur hukum?" tanya Reka.
"Reka,masalahnya kompleks. Ini bukan hanya urusan Pak Radit, ada pihak lain yang mendorong untuk pembatalan laporan Nara," jelas Kevin.
***
Nara dan Reka masih terbuai mimpi saat sering ponsel berdering membuat keduanya terjaga. Nara berusaha melepaskan pelukan Reka dan meraih ponselnya.
"Ibu," ucap Nara melihat layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Reka masih dengan mata terpejam.
"Halo," ucap Nara.
__ADS_1
"Nara, Ibu tunggu kamu di rumah. Jangan terlambat, Mama sibuk," ucap seorang wanita diujung telepon. Nara menghela nafasnya sebelum menjawab.
"Memang kapan Mama tidak sibuk, perasaan tidak pernah ada waktu untuk aku," jawab Nara.
Terdengar decakan, "Kamu jangan kurang ajar ke orangtua. Pokoknya Mama tunggu." Panggilan pun berakhir.
"Ibu, minta aku pulang pagi ini," ucap Nara. Reka melihat jam dinding yang menunjukan waktu jam enam pagi. "Iya, nanti aku temani. Ayo, tidur lagi," ajak Reka.
"Reka, ini sudah siang," Nara beranjak bangun dengan kembali melepaskan pelukan Reka. "Ayo, bangun. Mumpung aku nggak mual, kalau sudah datang mual aku pengennya rebahan," ujar Nara.
Reka pun akhirnya beranjak bangun, "Morning kiss dulu, Ra," pinta Reka dengan suara parau khas bangun tidur.
"Nggak ada, kamu bau rokok." Reka menyugar rambutnya mendengar penolakan Nara.
Kini pasangan benci jadi cinta itu sudah berada dalam mobil yang membawa mereka menuju kediaman Radit Kakek Nara. Sudah mengetahui maksud mereka dipanggil oleh Ibunda Nara, mereka mempersiapkan hati untuk mendengarkan keinginan orangtua Nara.
Reka melihat jika Nara dan Ibunya memang tidak memiliki ikatan yang cukup baik. Terlihat dari pertemuan itu tidak ada ungkapan rasa rindu antar Ibu dan Anak saat bertemu.
Hadir pula Radit juga Ayah tiri Nara. "Nara, langsung saja. Untuk kebaikan kita bersama Kakek akan minta mencabut laporan tuntutan untuk Reno."
"Apa tidak ada empati dari Kakek, atas apa yang aku alami," ucap Nara. Radit hanya diam.
"Nara, to the point saja keluarga Reno adalah rekanan bisnis suami Ibu, Ayahmu juga. Jadi jangan buat hubungan bisnis ini berantakan," ujar Ibu Nara.
"Ibu lebih perduli dengan hubungan bisnis dari pada nasib aku?" tanya Nara. "Apa Ibu tidak ingin tahu bagimana Reno memperlakukan aku?" tanyanya lagi.
"Yang penting saat ini kamu baik-baik saja. Tapi karena urusan bisnis ini, Ibu masih bisa menghidupi kamu tanpa kekurangan."
"Hanya mengingatkan, Itu memang tugas kalian sebagai orangtua," sahut Nara.
"Laila, Nara sudahlah," ucap Radit menengahi. "Tolong bantu Kakek, tanda tangani surat itu untum pencabutan laporan," pinta Radit.
Nara sempat menatap Reka. Keduanya saling diam tanpa ekspresi, kecewa pada orangtua.
__ADS_1