
Nara bungkam selama perjalanan pulang. Rencana Reka gagal lagi karena Kevin memintanya pulang. Bertanya beberapa hal pada Leo, terkait tugasnya mengawasi dan menjaga Nara. Leo menjawab sesuai apa yang terjadi sambil fokus pada kemudi.
Reka puas dengan pekerjaan Leo karena selama dia pergi, Nara benar-benar aman. Aman dari Reno dan Ardi yang jelas-jelas memiliki perasaan untuk Nara.
“Kenapa diam aja sih?” tanya Reka sambil berbisik. Hembusan nafas Reka terasa hangat di pipi Nara membuat tubuhnya meremang.
“Nggak pa-pa,” sahut Nara.
“Kita sudah menikah Ra, jadi mau perjalanan kedekatan kita sebelumnya seperti apa biar jadi sejarah,” ungkap Reka sambil terkekeh. Nara menoleh lalu berdecak, “Bukan masalah itu, tapi kamu bakalan punya bahan untuk mengejekku terus.”
Reka menundukkan kepalanya, mencium perut Nara dan mengelusnya pelan. “Kapan jadwal kamu periksa?” tanya Reka.
“Minggu ini,” jawab Nara.
“Aku temani, nggak sabar banget mau lihat keadaannya.”
Mobil yang membawa Reka dan Nara sudah berbelok memasuki gerbang kediaman Kevin dan terparkir rapi di carport yang tersedia. Reka turun lebih lebih dulu lalu membuka pintu untuk Nara turun.
“Aku pulang,” teriak Reka sambil menyeret kopernya.
“Idih, calon direktur kelakuan masih berandal begitu,” ledek Rika yang menggendong buah hatinya. Nara tertawa mendengar ejekan Rika. “Gagal dong ospek dua bulan lebih di Jogja, cuma dapat kenang-kenangan dari sekretaris genit doang,” ucap Nara ikutan mengejek Reka.
“Hah, sekretaris genit gimana? Seru nih, ceritain dong,” ujar Rika sambil menurunkan putrinya. “Halah, nggak usah ikut campur,” sahut Reka sambil menoyor kening Rika. “Kemaren kenapa lo nangis-nangis, sekarang pake ngeledek gue.”
__ADS_1
Rika berdecak, “Udah nggak butuh lagi bantuan lo, udah dibantuin sama Bu Nara. penjelasannya bikin otak gue lempeng terus selesai deh skripsi gue.”
“Babang lo kemana, nggak ngebantuin. Katanya siap menemani sampai lulus,” tutur Reka.
“Cuma perempuan yang bisa mengerti apa yang perempuan keluhkan. Bang Eltan Cuma bisa ngomong, aku nggak masalah kamu nggak lulus tahun ini. yang penting jadi istri dan ibu yang baik kalau perlu kita tambah anak. Nyebelin ‘kan,” beo Rika.
“Ramai sekali, pada bahas apa sih?” tanya Meera yang baru saja bergabung di ruang keluarga. Reka menghampiri Meera dan memeluk bundanya, tubuh Meera yang berada dalam pelukannya di goyang ke kiri dan kanan. “Aku kangen Bunda,” ucap Reka.
“Masa, buktinya pulang malah langsung ke hotel,” ejek Meera sambil mengurai pelukannya.
“Tadinya mau mesra-mesraan, eh gagal juga.”
“Reka, ikut Papih,” pinta Kevin sambil menuju ruang kerjanya. Reka tidak menjawab hanya mengekor langkah Kevin.
“Owh, ada perempuan yang katanya sekretaris manager atau apa gitu aku kurang hafal. Selama di Jogja dia sering temani Reka dan kemarin katanya ngasih kenang-kenangan untuk Reka.”
“Apa kenang-kenangannya?” tanya Rika penasaran. Meera yang ada di sana ikut menyimak sambil mengawasi putri Rika yang bermain di lantai.
“Kenang-kenangan di bibir,” sahut Nara.
“Oh my God, kissing maksudnya?”
Nara menganggukan kepalanya. “Bu Nara diam aja, nggak marah gitu, ngamuk atau apa kek.”
__ADS_1
“Mau marah gimana, orang udah kejadian,” ujar Nara.
“Sepertinya perempuan itu yang mau dibahas Papih,” ujar Meera pada putri dan menantunya.
Rika melipat kedua tangannya di dada, “Seru nih, aku tungguin sampai Reka keluar deh.”
“Jangan aneh-aneh, cepat ke kamar persiapkan untuk sidang skripsi kamu. Biar Kiran Bunda yang jaga,” titah Meera pada Rika. “Sebentar lagi, Bun.”
“Rika, kamu ijin dengan suamimu sementara tinggal di sini karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Cepat naik ke kamar kamu atau Bunda telepon Eltan untuk jemput kamu,” ancam Meera pada Rika.
“Bunda, nggak asyik. Kiran, kamu sama Oma dulu ya, Mamih mau berjuang biar cepat jadi sarjana. Setelah itu kita healing ke luar negri.”
Meera berdecak mendengar ucapan Rika yang kemudian meninggalkan ruangan menuju kamarnya. “Nara, Bunda tahu kamu pasti kesal karena masalah Selly dan Reka.”
“Nggan terlalu sih Bun, aku percaya Reka setia sama aku. Itu sih Sellynya aja yang genit, tapi aku nggak mau perlihatkan kalau aku nggak marah. Khawatir Reka menganggap hal ini biasa, dan ... yah Bunda tahu sendirilah.”
“Papih bilang Kakekmu mengundang kami untuk hadir di pernikahan Reno dan Cindy. Kamu sendiri apa akan hadir? Apalagi Cindy saudari kamu juga.”
\=\=\=\=\=
Mampir yukkk
__ADS_1