Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Kejujuran Dan Masa Lalu


__ADS_3

Yuhuuu, di bab ini ada momen penyesalan Eltan pada Kayla yang tidak pernah tersampaikan di Novel sebelummya ya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Ke sana, ke mana?” tanya Nara. Reka menoleh, entah sejak kapan Nara berdiri di sampingnya.


“Mampus,” ujar Rika lalu menarik tangan Eltan agar ikut dengannya.


“Gue nggak ikutan.” Elang meninggalkan Reka sambil merangkul bahu Kayla. “Ayo kita masuk, kamu kedinginan ‘kan?” Elang merangkul bahu Kayla lalu berjalan menuju kamar mereka. “Mas, bagaimana kalau Nara salah paham?” tanya Kayla.


“Sudah, itu jadi urusan Reka. Mereka harus saling terbuka, Reka harus jujur kalau dia pernah muda dan nakal. Kita ada urusan lain,” ungkap Elang sambil menutup pintu kamar dan menguncinya.


“Urusan apa?”


Elang berdecak, “Berbagi kenikmatan,” jawab Elang dilanjutkan dengan urusannya.


Sedangkan di beranda, Reka bingung untuk menjawab dan menjelaskan mulai dari mana. “Kenapa diam? Kamu sembunyikan sesuatu dari aku ya.”


Reka menggaruk tengkuknya. “Ra, ini udah malam. Dingin pula, nggak baik untuk kesehatan kamu. Kita masuk yuk,” ajak Reka lalu merangkul bahu Nara agar ikut ke dalam.


“Jangan mengalihkan pembicaraan,” ujar Nara.


Reka mendessah pelan, “Iya kita bahas di kamar, aku janji.” Nara dan Reka pun akhirnya menuju kamar mereka. Reka menuntun Nara untuk duduk di pinggir ranjang, “Aku bersih-bersih dulu, bau rokok. Nanti kamu nggak nyaman,” ujar Reka sengaja menjeda waktu.


“Jangan banyak alasan, pokoknya aku tunggu kamu jawab pertanyaan tadi.”


“Iya, Bu Dosen,” ejek Reka. Reka merebahkan dirinya di ranjang, sedangkan Nara masih duduk bersandar pada headboard dengan kedua tangan dilipat di dada.


“Nggak usah pura-pura lupa ya,” sindir Nara.


“Eh, iya. Bener lupa sayang.” Reka beranjak duduk di samping Nara. Menatap wajah istrinya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Tadi kamu tanya apa ya?”


Nara berdecak, “Ini nih, jelas banget salahnya. Karena merasa salah makanya muter-muter terus,” tutur Nara. “Aku tanya, kamu ke sana itu ke mana? Kalian sedang bicarakan masalah kamu ke sana. Ke sana yang dimaksud itu ke mana?” tanya Nara.


“Ya, ke sana.”


“Reka!”

__ADS_1


“Oke-oke, tapi jangan marah atau ngambek Ra. Kamu cinta aku apa adanya ‘kan? Cinta dengan segala ketampanan aku dan kekuranganku.”


Nara bergeming, menatap lekat wajah Reka yang mencoba menggodanya. “Nggak ngaruh, jangan mencoba merayu aku.”


Reka menghela nafas, “Ke sana yang kami bicarakan tadi itu maksudnya night club,” ujar Reka lirih tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh keduanya.


“Maksudnya kamu suka ke club?”


“Itu dulu Ra, dan nggak sering juga tapi pernah. Beberapa kali, eh sering maksudnya. Tapi nggak sering juga sih,” jawab Reka membela diri.


“Ke Club untuk ....”


“Minum. Biasanya aku ke sana untuk minum, nggak sampai macem-macem Ra. Serius,” tutur Reka mencoba meyakinkan Nara. “Kalaupun aku aneh-aneh, Papih dan Bunda pasti sudah bertindak.”


“Kamu pasti sering berkencan dengan wanita di Club ya?”


“Nggak Ra. Jujur waktu aku sentuh kamu itu bukan pertama kali buatku tapi aku nggak seekstrem yang  kamu maksud. Aku pernah melakukan dengan pacar aku dulu tapi safety aku pakai pengaman Ra, sumpah.”


“dan pacar kamu jumlahnya?”


“Nggak semua mantan pernah aku tiduri Ra.”


“Nggak pernah dan aku nggak pernah pacaran dengan Cindy. Aku tidak bodoh dengan memacari perempuan yang aku kenal di club. Tapi memang ada yang terang-terangan kejar aku, termasuk Cindy. Bahkan sampai datang ke rumah, ini yang buat Bunda marah,” jelas Reka. Nara mencoba mencari kebohongan melalui tatapan mata Reka.


“Papih pasti suruh orang untuk mengikuti aku, jika terbukti aku macam-macam pasti beliau turun tangan. Termasuk juga Bang Elang, dia pasti kirim orang untuk mengawasi aku. Makanya dia tahu,” ungkap Reka.


“Adakah hal lain tentang kamu yang aku belum tau?”


Reka terdiam sedang berpikir apa yang masih Nara belum ketahui tentang dirinya. “Nggak ada lagi, kamu udah kenal aku luar dalam,” tukas Reka sambil senyum simpul.


“Ah, sekarang giliran kamu. Ceritakan hal lain tentang kamu yang aku belum tau,” titah Reka lalu merebahkan diri dan menggunakan pangkuan Nara sebagai bantal.


“Masalah Reno cukup membuat separuh jiwaku berniat menghabisinya,” tutur Reka. Wajahnya menghadap perut Nara yang masih rata. Nara pun membelai rambut Reka. “Termasuk juga Cindy, ternyata dia saudara tiri kamu. Kedepannya pasti dia akan menyulitkan. Ada lagi yang perlu aku tau?”


“Aku lahir karena kesalahan kedua orangtuaku. Setelah aku lahir mereka memutuskan berpisah, aku di asuh oleh Kakek. Seperti yang kamu tahu, Ibu sudah memiliki keluarga dan aku tidak mengenal baik keluarganya. Ayah pun baru kembali ke Jakarta belum lama. Aku minta maaf, memanfaatkan kamu untuk menyelesaikan masalah dengan Reno. Bahkan sampai saat ini malah tidak selesai juga.”


Reka menempelkan wajahnya pada perut Nara. “Aku janji, berusaha menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita.” Ucapan Reka membuat hati Nara menghangat. Mengusap wajah Reka yang matanya sedang terpejam. Membelai kedua pipi Reka dengan lembut. “Ra, kamu sentuh aku bikin tubuh meremang.”

__ADS_1


“Ayo kita tidur, udaranya dingin banget,” keluh Nara.


Reka dengan semangat langsung beranjak bangun. “Aku bisa bikin kamu hangat.”


“Hahh.”


...***...


Pagi itu, Kayla sudah berada di dapur. Penghuni lainnya jelas masih terbuai di peraduan mimpinya masing-masing. Cuaca dingin membuat Kayla ingin menikmati minuman yang bisa menghangatkan tubuh. Menyiapkan dua buah cangkir, berencana membuatkan Elang kopi dan susu jahe untuk dirinya.


Saat sedang meracik minuman yang dibuatnya, datanglah Eltan. Kayla menoleh sekilas, “Rika mana?”


“Belum bangun,” jawab Eltan. Mengambil gelas lalu menekan salah satu tombol dari dispenser air. “Padahal mau aku ajak ke kebun teh, mau ajak Nara kalau pagi begini mual-mual,” ucap Kayla. Eltan meneguk isi gelas yang dia pegang, tatapannya tertuju pada pergelangan tangan Kaya.


Melihat bekas luka pada pergelangan tangan Kayla akibat ulahnya dulu, membuat hatinya perih. Penyesalan akan kebejatannya pun sudah tidak berguna. Meskipun secara psikologis Kayla mungkin sudah sembuh dan melupakan apa yang pernah Eltan lakukan, tapi bekas luka itu akan terus mengingatkan seumur hidup mereka.


Kayla menuangkan air panas pada kedua cangkir lalu mengaduknya pelan. “Kay,” panggil Eltan.


“Hmm.”


“Kita belum pernah ada momen seperti ini.” Kayla diam, tangannya yang sedang mengaduk isi cangkir pun terhenti. “A-aku minta maaf atas semua kebodohanku dulu,” tutur Eltan. “Meskipun terlambat dan tidak ada guna. Tapi rasa bersalah itu terus menghantui aku, bahkan mungkin sampai aku mati.”


“Sudahlah Bang, aku pernah sampaikan untuk tidak bahas hal itu lagi. Anggap saja tidak pernah ada yang terjadi. Mari jalani kehidupan masing-masing, aku tidak ingin mengingat masa lalu.”


“Maaf, tapi aku harus ungkapkan bahwa aku menyesal. Karena belum pernah ada kesempatan untuk aku mengatakan ini. Gilanya lagi, aku malah menyukai dan menikahi adikmu. Membuat kita semakin sering bertemu.”


Kayla berbalik, kini mereka berhadapan meskipun ada jarak. “Tebuslah kesalahan Bang Eltan dengan membahagiakan Rika. Jadikan dia wanita paling bahagia,” titah Kayla.


“Pasti. Pasti akan aku lakukan, saat ini Rika adalah duniaku,” sahut Eltan.


Kayla membawa kedua cangkir keluar dari dapur dan meninggalkan Eltan. Tanpa mereka sadari Elang mendengar percakapan keduanya. Mengetahui Kayla akan keluar, Elang bergegas kembali ke kamarnya.


Kayla mendorong pintu dengan tubuhnya karena kedua tangannya membawa minuman. Pintu kamar sengaja tidak ditutup rapat, “Mas Elang sudah bangun, kebetulan aku bawakan kopi.”


Elang yang duduk bersandar pada headboard tersenyum lalu beranjak menghampiri Kayla yang duduk di sofa kamar. Merangkul bahu Kayla lalu memeluk erat tubuh istrinya. “Mas, jangan bilang minta jatah lagi ya. Ini sudah siang dan aku masih lelah,” keluh Kayla.


“Nggak sayang, biarkan seperti ini dulu. Aku sayang kamu Kayla, terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup Elang Sanjaya.” Kayla membalas pelukan Elang. “Mas Elang dengar pembicaraan aku dan Bang Eltan?” tanya Kayla. Tidak ada jawaban dari Elang. “Terima kasih sudah menerima aku apa adanya,” ucap Kayla. Elang mengurai pelukannya, menangkup wajah dan mendaratkan bibirnya pada kening Kayla.

__ADS_1


\=≈\=\=\=\=


Elang dan Eltan tetep bucin sama pasangannya masing-masing yesss 🥰


__ADS_2