
Masa bulan madu Bian dan Alisha telah berakhir. Seminggu lamanya mereka ‘melarikan diri’ dari semua gangguan yang berusaha memisahkan mereka.
Alisha mencoba menyalakan ponselnya meskipun dirinya masih dipenuhi oleh rasa takut akan mertuanya.
Ting
Ting
Ting
Semua pesan masuk yang terhalang sejak beberapa hari yang lalu kini memenuhi ruang pesan milik Alisha. Tangannya bergetar karena sesuatu yang bahkan belum ia lihat. Jika memungkinkan, ia tidak ingin membuka ruang pesan yang ada di ponselnya. Tetapi ia harus membukanya untuk mencari tahu apakah ada pesanan katering masuk untuk ke depan.
Dan feelingnya belum pernah salah, ia melihat nama sang ibu mertua lagi-lagi menduduki urutan teratas di daftar pesan yang ia terima, dengan angka pesan yang belum terbaca di sampingnya sebanyak dua puluh tiga pesan.
Alisha menarik napasnya panjang sebelum membukanya. Ia bahkan melihat sekeliling untuk memeriksa apakah sang suami sedang berada di dekatnya. Mereka memang tengah berada di bandara dan sedang menunggu di ruang tunggu boarding pesawat.
Setelah membaca dan membalas pesan dari para konsumennya, Alisha mulai membaca pesan sang ibu mertua.
Hari ini kau pulang? Tunggu saja! Kau akan mati di tanganku
Dasar ****** sialan! Sampai kapan kau mengabaikan pesanku?
Hey, ******! Balas pesanku! Suruh Bian menelepon mamanya!
Alisha tak sanggup meneruskan membaca pesan-pesan itu lagi. Tanpa sadar air mata sudah membanjiri pipinya. Ia ingin mematikan ponselnya lagi dan memasukkannya ke dalam tasnya, sebelum Bian melihatnya. Namun ia terlambat, Bian mengambil ponselnya lebih dulu.
Melihat istrinya seperti habis menangis, Bian melihat sesuatu telah terjadi padanya. Dengan tetap memegang ponsel milik Alisha, ia duduk berjongkok di depannya dan bertanya dengan lembut.
“Kenapa kamu menangis, hm?”
Alisha hanya menggeleng, tapi air matanya tak lagi bisa ia bendung. Ia mencoba menyekanya tapi tetap saja air mata itu tak mau berhenti.
__ADS_1
“Mama lagi?” tanya Bian.
Dengan terpaksa Alisha mengangguk. Ia tak akan bisa terus menerus menyembunyikan hal ini dari Bian.
Bian menghela napasnya lagi, kali ini lebih berat dari biasanya. Namun saat Bian bertanya apa yang mamanya perbuat kali ini, Alisha tidak mau menjawabnya. Ia melihat Alisha beberapa kali melirik ke arah ponselnya.
Bian pun membuka ponsel Alisha yang membuat istrinya langsung terperanjat.
“Yang, jangan!” teriak Alisha lirih.
“Melihatmu menangis, cemas karena terus melihat ponselmu, dan sekarang aku nggak boleh melihat isinya, justru bikin aku makin penasaran, sayang”
“Tapi..” Alisha semakin gugup.
Bian tak membalas lagi, ia hanya tersenyum dan kemudian membuka ponsel Alisha. Ia pun langsung membuka ruang pesan yang ada di ponsel itu.
Kini Bian tahu apa yang tengah membayangi istrinya selama ini. Jika saja ia tak bisa menahan diri karena banyak orang di sekitarnya, ia sudah berteriak sekencang-kencangnya. Ia tak mengira ibunya bisa sejahat itu pada istrinya. Bahkan ucapan-ucapan yang ia sebutkan tak pantas keluar dari mulut seorang Nyonya Herdianto.
“Kalau kamu nelpon mama, menurutmu apa mama akan diam saja? Beliau akan berpikir bahwa aku mengadu padamu, dan siapa lagi yang akan jadi tempat pelampiasannya? Aku, sayang” terang Alisha.
Bian sangat ingin membela istrinya di depan sang mama, tapi apa yang dikatakan Alisha ada benarnya. Kemarahannya hanya akan membuat posisi Alisha semakin sulit di rumah itu. Kehadirannya saja sudah disalahkan, apalagi kalau dia terlihat seperti pengadu.
“Tapi, sayang..mama udah keterlaluan. Aku pengen belain kamu”
Alisha kini tersenyum kembali, meski matanya sudah mulai sembab karena terlalu banyak menangis. Dia bersyukur sekali mempunyai Bian yang selalu mendukungnya, meski saat ini musuhnya adalah ibunya sendiri.
“Aku seneng deh, punya suami kayak kamu. Tapi aku nggak mau suamiku yang ganteng ini jadi anak durhaka” kata Alisha.
Untung saja mereka sudah harus boarding, sehingga pembicaraan itu terpaksa harus berhenti. Bian mengembalikan ponsel Alisha. Istrinya memang melarangnya, tapi ia tak akan bisa hanya berpangku tangan melihat istrinya diperlakukan seperti itu.
***
__ADS_1
Bian menghubungi David untuk menjemputnya di bandara. Selama menunggu mobil mereka datang, Bian dan Alisha seperti sedang perang dingin meskipun sebenarnya tidak.
Bahkan hingga sampai rumah pun mereka tetap berkutat dengan pikiran masing-masing. Bian yang memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan, sedangkan Alisha yang memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan diri dari mertuanya. Saking sunyinya di dalam mobil, David menjadi bingung. Ia mengira pasangan itu baru saja pulang dari bulan madu tapi malah bertengkar.
Mama Liana langsung keluar dengan anggun dan tanpa berkata apapun. Ia tidak bisa menghujami menantunya dengan hujatan-hujatannya selama masih ada Bian di sampingnya. Ia pun menyapa kedatangan anak dan menantunya dengan sambutan yang sangat dipaksakan.
“Biaaan, anak mama..kok kamu baru pulang sekarang sih? Kamu berangkat juga nggak ngomong sama mama. Ditelepon juga nggak bisa” omel mamanya.
Bian seperti sedang menahan emosinya agar tak meledak saat itu juga. Alisha bisa melihatnya dari kepalan tangannya yang bergetar. Alisha pun mencoba menutupinya dengan memegang tangan Bian.
Seperti mengerti kode dari Alisha, Bian melepas kepalan tangannya, mengatur napasnya, dan menjawab pertanyaan mamanya.
“Kalau bulan madu, bukannya wajar orang nggak mau diganggu?” jawabnya dingin.
Bian langsung mengajak Alisha masuk ke dalam kamar. Sementara mamanya melirik Alisha seolah mengatakan dengan matanya “aku akan segera mengurusmu”
“Yang, apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Alisha.
“Tentu saja boleh, tanya aja” jawab Bian sambil membuka kopernya.
“Mm, kenapa mama begitu benci sama aku? Aku harus gimana ngadepin mama selanjutnya?” tanyanya dengan nada takut-takut.
Bian menghentikan aktifitasnya mengeluarkan baju dari koper. Dia memandang Alisha, dan kembali memandang koper di bawahnya. Alisha bisa membaca sikap suaminya. Ia juga bingung harus menjawab apa. Sebab dia sendiri juga tidak mengerti mengapa mamanya begitu membencinya.
Tapi satu hal yang bisa ia jawab.
“Separah apapun mama mengganggumu, kamu harus tahu kalau aku dan mama berbeda..”
“..apapun yang dilakukan mama, aku tetap di samping kamu, tetap jadi suami kamu, tetap mencintai kamu. Jadi nggak usah mengkhawatirkan hal yang nggak akan terjadi, ya!”
Ucapan Bian memang menyejukkan hati Alisha. Tapi batinnya tetap bisa merasakan amarah dan kebencian mertuanya yang sebentar lagi akan menghantui kehidupannya. Karena kini tak ada lagi jalan untuknya melarikan diri atau mengabaikan mertuanya lagi.
__ADS_1
Namun sebenarnya Alisha bukan wanita yang lemah. Ia tidak menunjukkan sikap menolak atau membela diri semata-mata demi menjaga perasaan suaminya. Tapi dalam hatinya ia bertekad, jika Alisha selalu ditempatkan dalam posisi yang sulit, dan sudah melewati batas kesabarannya, ia tidak akan membiarkan dirinya direndahkan terus menerus.