
Alisha melihat mobil David diparkir di depan rumahnya. Ia yang baru saja mandi dan membereskan kamarnya tiba-tiba didatangi oleh Bian dan diminta segera bergegas untuk pergi bersama ibunya dan David.
“Ada apa, Yang. Kenapa kamu suruh aku pergi sama ibuk?” tanya Alisha heran.
“David aku minta anterin kamu lihat-lihat ke rumah yang akan kita tinggali nanti” jawab Bian berbohong.
Meski akhirnya Alisha menuruti perintah Bian, ia merasa suaminya tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Ia bersama ibunya meninggalkan rumah pukul tujuh lebih seperempat pagi, di hari kedua Bian menginap di sana. David membawanya ke daerah yang sama sekali asing baginya.
“Kita mau ke mana, Vid?” tanya Alisha.
“Sebentar lagi sampai kok, Mbak” jawab David.
David memang memanggil Alisha dengan sebutan ‘mbak’ sesuai permintaan Alisha. Meski David memanggil Bian dengan sebutan Bapak ketika melakukan urusan pekerjaan, tapi ia tidak mau dipanggil ‘ibu’. Sedangkan David akan berubah memanggil Bian dengan sebutan ‘mas’ jika dia sudah tidak dalam lingkungan pekerjaan, karena usia mereka hanya selisih satu tahun, dan pada dasarnya mereka adalah teman.
Akhirnya mobil David berhenti di depan sebuah rumah berlantai tiga yang desainnya terlihat minimalis dan namun sangat mewah. Dalam hati Alisha berpikir apakah benar ia dan Bian akan tinggal di sini?
“Ayo, mbak!”
Alisha mengangguk. Ia membantu ibunya turun dari mobil dan menggandengnya memasuki halaman rumah itu.
Begitu mengamati sekilas dari tampilan rumah itu, Alisha terlihat sangat menyukai rumah itu, terlebih jika benar ia akan tinggal di sana bersama suaminya. Sudah terbayangkan bagaimana indahnya rumah tangga mereka tanpa gangguan dari ibu mertuanya.
David membuyarkan lamunan Alisha saat berpamitan dengannya. Setelah mempersilakan mereka untuk istirahat di rumah itu, dan mengatakan bahwa Bian akan menyusul mereka, David bergegas pergi lagi untuk membantu Bian di rumah Alisha.
Sementara itu di rumah Alisha, Bian sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi amarah ibunya.
Tidak lama rombongan mobil Mama Liana bersama anak buahnya sudah tiba di rumah Alisha. Disusul mobil David yang datang setelahnya. Kedatangan mereka yang begitu kentara membuat penasaran para tetangga yang melongok melihat keluar.
Mama Liana turun dengan anggun seperti biasanya, namun kali ini tatapannya seperti hendak melenyapkan seseorang.
Brakk
Pintu rumah Alisha terbuka dengan suara terbanting yang sangat keras.
“Bian!”
__ADS_1
“Bian!”
Teriakan Mama Liana memenuhi rumah Alisha yang hanya seluas halaman belakang rumah Bian.
“Mama jangan teriak-teriak di rumah orang!” sahut Bian dari arah belakang.
“Dasar anak kurang ajar! Beraninya kamu membatalkan kerjasama kita dengan Diandra!” teriak mamanya.
Bian menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang mama.
“Aku lebih rela kehilangan proyek itu daripada kehilangan istri aku, Ma” jawab Bian.
Dia memang mengambil risiko besar dengan membatalkan perjanjian itu. Meski memang masih di mulutnya saja, belum secara resmi dibatalkan. Sebab perjanjian itu sangat mempengaruhi kelangsungan perusahaannya kelak. Meski tidak sampai membangkrutkan mereka secara langsung, tapi cukup membuat perusahaan mereka goyah.
“Apa kamu sudah gila? Apa istrimu itu yang mempengaruhimu?” teriak mamanya lagi.
“Karena mama bekerja sama dengan Diandra buat misahin aku sama Alisha!” akhirnya Bian mengungkapkan alasan sebenarnya.
Mama Liana mendadak kehilangan kata-kata. Dia tidak menyangka akan tertangkap secepat ini. Namun bukan Mama Liana jika tidak bisa memutar balikkan fakta.
“Apa maksud kamu?” tanya mamanya.
Mama Liana terdiam, usahanya telah terbaca oleh anaknya. Ia berpikir keras bagaimana cara untuk menyangkalnya lagi.
Namun usahanya meyakinkan anaknya gagal total. Bian memintanya pulang dan tidak membuat keributan di lingkungan orang. Terlebih dari tadi mereka sudah diawasi oleh beberapa tetangga Alisha.
Dengan geram Mama Liana pun mundur dari ‘pertarungannya’ hari ini. Tapi dalam hati ya ia masih tak terima dengan perlakuan Alisha yang membuat anaknya menjadi pembangkang dan berani melawan ibunya sendiri.
***
Bian menjemput Alisha di rumah baru itu sebelum berangkat ke kantornya.
Alisha tersenyum menyambut suaminya yang datang menjemputnya seorang diri.
“Yang, kamu bawa baju aku nggak? Aku nggak bawa baju buat ke kantor” kata Alisha.
“Nggak usah ke kantor lagi! Nggak apa-apa, Sayang” jawab Bian.
__ADS_1
Alisha melirik suaminya dengan curiga. Kenapa tiba-tiba sekali aturan main mereka berganti-ganti. Kemarin dia dengan mudah menjadi seorang pimpian kantor cabang, besoknya disuruh jadi sekretaris suaminya, sekarang disuruh jangan datang lagi ke kantor. Sungguh enteng sekali pikiran para orang kaya ini, pikir Alisha.
“Kenapa emangnya?” tanyanya polos.
“Mmm, David udah cukup jadi sekretaris aku. Kamu di rumah aja sama usaha kamu, ya!” pungkas Bian sambil mencium kening Alisha.
“Kalau gitu anterin aku sama ibuk pulang ya!”
“Hm? Kenapa? Kamu nggak suka di sini?” tanya Bian.
“Ini rumah kamu, Yang” kata Bian sambil tertawa.
Terang Alisha terkejut mendengar hal itu. Alisha tidak mempercayai bahwa rumah berlantai tiga dan mewah ini adalah rumahnya. Namun memang benar, Bian menunjukkan foto sertifikat yang mencantumkan nama Alisha di atasnya.
Ia menutup mulutnya dengan kesepuluh jarinya. Secara spontan ia memukul lengan Bian dengan tangannya.
“Aw, kok dipukul?” tanya Bian sambil tertawa dan meringis kesakitan.
“Kamu bercandanya bener-bener ya!” seru Alisha.
“Aku nggak bercanda, Sayang. Ini beneran rumah kamu” tawa Bian semakin keras saat melihat Alisha malah mengiranya bercanda.
Di tengah kebingungan Alisha, Bian pun menceritakan alasan dia membeli rumah itu.
Dia memang mengatasnamakan rumah itu atas nama Alisha, sebagai hadiah karena telah menikahinya. Ke depannya dia memang berencana untuk tinggal di sini bersama Alisha, tidak lagi tinggal bersama mama dan adiknya.
“Kamu gila ya? Kalau kamu ngasih hadiah kayak gini karena menikah denganmu, lalu aku harus gimana?”
Alisha merasa tidak enak karena alasan Bian yang tidak masuk akal. Harusnya jika demikian, dia lah yang patutnya memberi hadiah Bian karena telah bersedia menikahinya. Gadis tua yang tidak punya apa-apa, sementara dia adalah bos muda yang kekayaannya tidak akan habis dalam waktu cepat.
“Kamu nggak perlu ngasih aku apa-apa, cukup dengan kamu percaya sama aku, di sisi aku, nemenin aku, itu udah cukup” kata Bian.
Alisha sudah menahan air matanya agar tak jatuh. Namun akhirnya lolos juga setelah Bian memberi kecupan singkat di bibirnya.
“Eh, ada sih satu yang harus kamu kasih ke aku” lanjutnya.
“Apa? Jangan mahal-mahal tapi!”
__ADS_1
Bian terseyum sambil membisikkan sesuatu pada istrinya. Mendengar kata yang dibisikkan suaminya, Alisha kembali memukul lengan Bian dan tertawa.
“Dasar!” kata Alisha sambil tertawa.