Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Percaya Aku


__ADS_3

Sudah lebih dari dua hari, belum ada kabar keberadaan Nara. Kondisi Reka sudah sangat acak-acakan. Kurang tidur, makan pun tidak berselera, dan segala macam prasangka buruk mengenai Nara terus muncul di benaknya.


“Reka, dengar Bunda. Kalau kamu tidak makan, Bunda minta Papih dan Elang tarik semua orang yang mencari Nara,” ancam Meera.


Kediaman Kevin beberapa hari ini menjadi lebih ramai. Menjadi tempat diskusi pencarian Nara. Radit juga sudah melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib. Kedatangan salah satu orang kepercayaan Kevin yang memang sedang menyelidiki dan ikut mencari keberadaan Nara, membawa titik terang. 


"Rumah ini pernah ditempati oleh Reno dan kerabatnya saat masih SMA. Setelah kami tanya dengan warga sekitar, beberapa hari ini ada mobil keluar masuk. Kami stand by dari semalam tidak ada gerakan berarti." 


"Antar aku ke sana," ujar Reka. 


"Oke, masih ada tim kami yang menunggu di sana." 


"Eltan, ikutlah bersama Reka. Pastikan dia tidak nekat atau macam-macam pada Reno. Serahkan saja pada yang berwajib," ungkap Kevin. 


Eltan memang diminta Elang untuk fokus membantu Reka karena dirinya harus tetap berada di Two Season.


Mobil yang membawa mereka sudah berada di tujuan. Sengaja parkir agak jauh, Reka langsung turun dan menghampiri rumah yang dimaksud. Memang pemukiman yang jarak tempat tinggalnya agak jauh karena bukan kompleks atau unit perumahan.


Reka menatap rumah yang terlihat tidak terawat. Mendorong pintu gerbang yang cukup tinggi dan berat. Ternyata dikunci. Reka menjulurkan tangannya untuk menggeser besi pengunci. 


Setelah berhasil Reka mendorong gerbang itu. "Reka, gimana kalau Nara tidak ada di dalam. Kamu nanti diteriaki maling," ucap Eltan. 


"Urusan nanti," ujar Reka. Belum juga berhasil sukses terbuka lebar, terdengar suara wanita berteriak. 


"Nara," ucap Reka dengan segenap tenaga yang dia miliki mendorong gerbang lalu merangsek masuk ke arah rumah tersebut. 


Srek. Reka menarik kerah kemeja Reno yang sedang mengungkung Nara. 


"Bajing*n," hardik Reka. 


Bugh. 


Reka melepaskan bogem mentah ke wajah Reno membuatnya terjerembab ke atas meja sofa lalu berguling ke lantai. Reka akan menghampiri Nara tapi kakinya dijegal oleh Reno dan sukses membuat Reka terjungkal.


Reno bangun dan menarik tangan Nara. Menjadikan Nara sebagai tameng tubuhnya, dengan tangan kiri berada di leher Nara. 

__ADS_1


"Bang_sat, lepasin Nara," teriak Reka. 


"Ka, jangan gegabah. Ingat keselamatan Nara," bisik Eltan. Dua orang yang sedang mengintai ikut masuk ke dalam rumah, yang lainnya sedang menghubungi kepolisian. 


“Nara adalah kekasihku. Pernikahan kalian itu hanya sebuah kesalahan. Bukan begitu Nara?” tanya Reno yang berbisik di telinga Nara. Nara menggelengkan kepalanya, ujung kedua matanya sudah sukses menitikan air mata.


“Lepaskan atau ....” ancam Reka terhenti karena Reno mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dan menempelkan pada leher Nara.


“Atau apa? Atau aku tinggalkan jejak di leher Nara,” ucap Reno sambil menempelkan ujung pisau pada kulit leher Nara.


“Reno, kita bisa bicarakan baik-baik. Sebaiknya lepaskan Nara,” ujar Eltan.


Reno terbahak. “Sebaiknya kalian pergi. Reka, kamu harus ikhlaskan Nara untuk kembali padaku. Setelah kami melewati hari-hari kemarin, aku pastikan kamu tidak akan menginginkan melanjutkan pernikahan kalian.”


Reka berusaha menahan sabar. Kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Rasanya sudah sangat ingin menghampiri Reno dan mendaratkan pukulan di wajah itu berkali-kali.


“Kamu tidak akan percaya apa yang sudah kami lakukan, bahkan saat ini Nara sedang hamil. Hamil anakku,” ujar Reno lalu terbahak.


“Tidak. Reka itu semua bohong. Percaya aku Reka,” rengek Nara.


“Sayang, apa kamu lupa bagaimana semalam kamu menjerit saat tubuhku berada di atas tubuhmu.”


“Tidak, tidak pernah ada yang terjadi, Reno bohong. Reka kamu harus percaya aku,” ujar Nara.


“Sebaiknya lepaskan wanita itu, tempat ini sudah dikepung. Pihak yang berwajib sudah menuju kemari,” ancam salah seorang yang tadi mengantar Reka.


“Hamil?” tanya Reka.


“Ahhh, kamu tidak tau Nara sedang hamil. Tentu saja dia hamil anak aku,” tutur Reno.


Reka menatap Nara, “Benarkah itu Nara?” tanya Reka penuh drama. Berusaha mengalihkan perhatian Reno. “Kenapa aku tidak tau kalau kamu ....”


“Reka, aku baru tau. Belum sempat mengabari kamu. Tapi pria gila ini datang. Kamu harus percaya aku Reka. Tidak ada yang terjadi, aku istri kamu Reka. Tolong aku,” jerit Nara.


“Bagaimana bisa aku percaya. Tiga hari itu cukup lama dan aku tidak tau apa yang terjadi di sini," tutur Reka.

__ADS_1


Reno kembali terbahak, “Tentu saja banyak yang terjadi. Aku tidak perlu menjelaskan detail. Kita sesama pria sudah paham apa yang akan terjadi jika seorang pria dan wanita berada dalam satu atap.”


“Maaf, Nara. Sepertinya yang dikatakan Reno benar," kata Reka penuh keyakinan jika dia membenci Nara.


“Reka, please. Kamu harus percaya aku,” ucap Nara sambil terisak.


Reka melihat tangan Reno sudah mengendur dari leher Nara bahkan pisau itu sudah tidak berada di leher Nara. “Bang, sebaiknya kita pergi,” ajak Reka pada Eltan.


“Serius, lo biarin Nara di sini?” tanya Eltan heran.


“Lo dengar sendiri ‘kan apa yang Reno bilang. Nggak mungkin tidak ada yang terjadi. Sudahlah, malas gue kelamaan di sini.”


“Reka,” panggil Nara melepaskan tangan Reno lalu menghampiri Reka dan manahan lengan pria yang statusnya adalah suami. “Percaya aku Reka, apa yang dikatakan Reno tidak benar.”


Reka menatap Nara, lalu melepaskan tangan yang mencengkram lengannya. Menoleh pada Reno yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Reka ikut tersenyum, “Nikmati hidupmu di penjara,” ujar Reka sambil merangsek maju dan menendang wajah Reno.


“Reka, polisi sudah datang,” ujar Eltan.


Reka gelap mata, dia kembali menghajar wajah Reno. Saat Reno kembali terjerembab, Reno mengeluarkan kembali pisaunya. Kondisinya saat ini lebih unggul Reno karena dia mengacungkan pisaunya. Reka terbahak, “Pengecut!” hardiknya pada Reno.


Pergumulan mereka kembali terjadi, Reka sempat terjerembab. Reno mengarahkan pisaunya tapi ditahan oleh kedua tangan Reka dan srek. Pisau itu melukai tangan Reka dan membuatnya lengah. Reno menancapkan pisau yang dipegang pada tubuh Reka.


Reno mundur beberapa langkah sambil terengah. Sedangkan Reka terpaku menyadari pisau tertancap di perutnya. “Berhenti,” ujar salah seorang petugas yang datang. “Angkat tangan.”


Reno mau tidak mau mengangkat kedua tangannya. Bersamaan dengan tubuh Reka yang merosot jatuh duduk. “Reka,” panggil Nara sambil menahan tubuh Reka. Darah sudah mendominasi warna kaos yang dikenakan Reka.


“Mobil, siapkan mobil,” titah Eltan. 


"Reka," panggil Nara. Kedua pipinya sudah basah dengan air mata. Tangan Reka yang sudah merah terkena darah meraih wajah Nara. "Nara," panggil Reka lalu tidak sadarkan diri."


\=\=\=\=\=\=\=


Yuhuuuu,, Mampir yukkk


__ADS_1


__ADS_2